• Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, (artinya) : ”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihi wassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

  • Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

  • Dalam konteks ini Al Qur'an dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma, al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber, kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.

  • Setiap orang pasti sering mendengar ungkapan “Don't judge a book by its cover” bahkan bisa dibilang ungkapan yang satu ini termasuk hal yang sangat populer di dunia barat di berbagai buku, ceramah, bahkan wikipedia. situs yang memuat data atas sesuatu dengan sangat ringkas dan akurat Menurut wikipedia kata-kata itu bermakna “don’t determine the worth of something based on its appearance” Kalo di Indonesiakan

ARTIKEL TERBARU

Rss

5/23/2016
Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1437 Hijriyah / 2016 M Pekanbaru

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1437 Hijriyah / 2016 M Pekanbaru

ramadhan

Alhamdulillah, sebentar lagi kita akan bertemu kembali dengan bulan yang penuh berkah, Ramadhan bulan yang penuh hikmah. Seluruh Kerabat Akhbar Islam memohon maaf kepada seluh pembaca Akhbar Islam, karena sampai detik ini, penulis dan kerabat pasti tidak luput dari kesalahan. Dengan ini, kami dengan tulus ikhlas memohon maaf atas segala kesalahan kami.

Dan pada akhirnya Akhbar Islam menemukan Jadwal Imsakiyah untuk Ramadhan 1437 Hijriyyah / 07 Juni 2016 Masehi untuk dapat bermanfaat digunakan sebagai patokan penjadwalan berpuasa kita nanti.

Jadwal Imsakiyah 2016 Pekanbaru

Bulan Ramadhan 1434 H / 2013 M Pekanbaru , Riau 2016

  • Hijri
  • Imsak
  • Shubuh
  • Terbit
  • Dhuha
  • Dzuhur
  • Ashar
  • Maghrib
  • Isya'
  • 1 Ramadhan
  • Imsak04:43
  • Shubuh04:53
  • Terbit06:13
  • Dhuha06:36
  • Dzuhur12:20
  • Ashar15:45
  • Maghrib18:23
  • Isya'19:37
  • 2 Ramadhan
  • Imsak04:43
  • Shubuh04:53
  • Terbit06:13
  • Dhuha06:36
  • Dzuhur12:20
  • Ashar15:45
  • Maghrib18:23
  • Isya'19:38

  • 3 Ramadhan
  • Imsak04:44
  • Shubuh04:54
  • Terbit06:13
  • Dhuha06:36
  • Dzuhur12:20
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:23
  • Isya'19:38
  • 4 Ramadhan
  • Imsak04:44
  • Shubuh04:54
  • Terbit06:14
  • Dhuha06:37
  • Dzuhur12:20
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:23
  • Isya'19:38
  • 5 Ramadhan
  • Imsak04:44
  • Shubuh04:54
  • Terbit06:14
  • Dhuha06:37
  • Dzuhur12:21
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:23
  • Isya'19:38
  • 6 Ramadhan
  • Imsak04:44
  • Shubuh04:54
  • Terbit06:14
  • Dhuha06:37
  • Dzuhur12:21
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:23
  • Isya'19:38
  • 7 Ramadhan
  • Imsak04:45
  • Shubuh04:55
  • Terbit06:14
  • Dhuha06:37
  • Dzuhur12:21
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:24
  • Isya'19:38
  • 8 Ramadhan
  • Imsak04:45
  • Shubuh04:55
  • Terbit06:14
  • Dhuha06:37
  • Dzuhur12:21
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:24
  • Isya'19:38
  • 9 Ramadhan
  • Imsak04:45
  • Shubuh04:55
  • Terbit06:14
  • Dhuha06:37
  • Dzuhur12:21
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:24
  • Isya'19:39
  • 10 Ramadhan
  • Imsak04:45
  • Shubuh04:55
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:21
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:24
  • Isya'19:39
  • 11 Ramadhan
  • Imsak04:46
  • Shubuh04:56
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:24
  • Isya'19:39
  • 12 Ramadhan
  • Imsak04:46
  • Shubuh04:56
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:24
  • Isya'19:39
  • 13 Ramadhan
  • Imsak04:46
  • Shubuh04:56
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 14 Ramadhan
  • Imsak04:46
  • Shubuh04:56
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 15 Ramadhan
  • Imsak04:46
  • Shubuh04:56
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 16 Ramadhan
  • Imsak04:47
  • Shubuh04:57
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 17 Ramadhan
  • Imsak04:47
  • Shubuh04:57
  • Terbit06:15
  • Dhuha06:38
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 18 Ramadhan
  • Imsak04:47
  • Shubuh04:57
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 19 Ramadhan
  • Imsak04:47
  • Shubuh04:57
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:22
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 20 Ramadhan
  • Imsak04:47
  • Shubuh04:57
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 21 Ramadhan
  • Imsak04:48
  • Shubuh04:58
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 22 Ramadhan
  • Imsak04:48
  • Shubuh04:58
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:25
  • Isya'19:39
  • 23 Ramadhan
  • Imsak04:48
  • Shubuh04:58
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:26
  • Isya'19:39
  • 24 Ramadhan
  • Imsak04:48
  • Shubuh04:58
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:26
  • Isya'19:39
  • 25 Ramadhan
  • Imsak04:48
  • Shubuh04:58
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:26
  • Isya'19:39
  • 26 Ramadhan
  • Imsak04:48
  • Shubuh04:58
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:26
  • Isya'19:39
  • 27 Ramadhan
  • Imsak04:48
  • Shubuh04:58
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:26
  • Isya'19:39
  • 28 Ramadhan
  • Imsak04:49
  • Shubuh04:59
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:47
  • Maghrib18:26
  • Isya'19:39
  • 29 Ramadhan
  • Imsak04:49
  • Shubuh04:59
  • Terbit06:16
  • Dhuha06:39
  • Dzuhur12:23
  • Ashar15:46
  • Maghrib18:26
  • Isya'19:38

Waktu shalat dihitung berdasarkan kriteria Kementerian Agama RI (MABIMS). Silakan merujuk kepada pemerintah untuk tanggal resmi 1 Ramadhan dan 1 Syawal (Hari Raya Idul Fitri).

Keyword : Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1437 Hijriyah / 2016 M Pekanbaru

Mempelajari Makna 10 Ranting Pohon Ramadhan 2016

Mempelajari Makna 10 Ranting Pohon Ramadhan 2016

Mempelajari Makna 10 Ranting Pohon Ramadhan 2016
Mempelajari Makna 10 Ranting Pohon Ramadhan 2016
Bila kita  mau menjalankan perintah Allah, baik yang wajib maupun yang sunnat dengan ikhlas semata-mata mencari ridha Allah Swt, berarti keberuntungan berupa pahala sebagai bekal di akhirat kelak. Di bulan Ramadlan kita diperintah untuk melaksanakan puasa Ramadlan, dan puasa tersebut kita laksanakan dengan dasar iman, agar tergolong orang-orang yang benar-benar taqwa kepada Allah Swt. Ketahuilah bahwasannya segala amalan yang baik dikerjakan di bulan Ramadlan, maka pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah Swt.

Mempelajari Makna 10 Ranting Pohon Ramadhan 2016


Ibarat sebuah tanaman, maka amaliyah Ramadhan adalah pohonnya. Mediumnya adalah bulan Ramadhan. Pohon apa yang kita tanam di medium Ramadhan, itulah yang akan kita petik, itulah yang akan kita nikmati. Karena “siapa yang menanam dia yang menuai”.

Pertanyaannya; Pohon apa saja yang perlu kita tanam di bulan suci ini?

Paling tidak ada 10 pohon Ramadhan yang mesti kita tanam di medium bulan Ramadhan ini:

Pohon pertama, shaum. Tidak sekedar menahan hal yang membatalkan shaum –makan, minum dan berhubungan biologis- dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari saja. Karena, kalau hanya sekedar menahan yang demikian, boleh jadi anak kecil, usia SD bisa melakukannya. Betapa anak-anak kita sudah belajar shaum semenjak dibangku sekolah bukan?

Nah, kalau demikian, apa bedanya shaumnya kita dengan mereka?

Harus ada nilai lebih, yaitu menjaga dari yang membatalkan nilai dan pahala shaum.

Apa yang membatalkan nilai shaum. Di antaranya bohong, ghibah, namimah, mengumpat, hasud dan penyakit hati lainnya. Dengan demikian, mata, telinga, lisan, tangan, kaki dan anggota badan kita ikut serta shaum.

“Betapa banyak orang yang shaum, tidak mendapatkan sesuatu kecuali hanya rasa lapar dan dahaga semata.” Begitu penegasan Rasulullah saw.

Pohon kedua, sahur. Sahur tidak pengganti sarapan pagi, bukan juga penambah makan malam. Namun sahur yang penuh berkah, yang dilakukan diakhir jelang waktu fajar. Di sinilah waktu-waktu yang sangat mahal, doa dikabulkan, permintaan dipenuhi. Sehingga ketika melaksanakan sahur tidak tidak sambil nonton hiburan, tayangan yang melenakan, oleh media elektronik. Sibukkan diri dan keluarga kita dengan mensyukuri nikmat Allah dengan bersama-sama melaksanakan sunnah sahur ini dengan penuh hikmat dan kekeluargaan.

“Sahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan.” Begitu sabda Rasulullah saw. mengajarkan.

Pohon ketiga, ifthar. Buka puasa. Sunnah buka puasa itu disegerakan. Ketika dengar kumandang adzan Maghrib, segera lakukan buka puasa. Jangan tunda, jangan sok kuat, nanti bakda tarawih saja, bukan.

Dengan apa kita ifthar? Sunnahnya dengan ruthab atau kurma muda. Berapa biji? Bilangan ganjil satu atau tiga biji. Kalau tidak ada, seteguk air putih. Itu yang dilakukan Rasulullah saw. bukan dengan memakan aneka hidangan, ragam makanan, bukan. Dan Rasulullah saw. pun baru makan besar setelah shalat tarawih.

Ifthar bukan ajang balas dendam, seharian manahan lapar, ketika bedug Maghrib, seakan ingin melampiaskan rasa laparnya dengan memakan semua yang ada. Perilaku ini tentu tidak akan membawa dampak perubahan dalam kehidupan pelakunya. Justeru dengan berlapar-lapar sambil merenungkan hikmah shaum dan menjadi bukti kesyukuran adalah sebagian dari target berpuasa. Sehingga dengan sadar dan hikmat kita berdoa saat berbuka:

“Yaa Allah, kepada-Mu aku shaum, dengan rizki-Mu aku berbuka, telah hilang rasa haus-dahagaku, kerongkongan telah basah, karena itu tetapkan pahala bagiku, insya Allah.”

Pohon keempat, tarawih. Tarawih berasal dari akar kata “raaha-yaruuhu-raahatan-watarwiihatan- yang artinya rehat, istirahat, santai. Sehingga shalat tarawih adalah shalat yang dilaksanakan dengan thuma’ninah, santai, khusyu’ dan penuh penghayatan, bukan hanya sekedar mengejar target bilangan rekaatnya saja, mau delapan, dua puluh, empat puluh, silahkan dikerjakan, asal memperhatikan rukun, wajib, dan sunnah shalat.

Kalau kita disuruh memilih, apakah shalat tarawih di masjid yang dalamnya dibaca “idzaa jaa’a nashrullahi wal fathu” atau shalat tarawih di masjid yang baca “idzaa jaa’akal munaafiquna qaaluu nasyhadu innaka larasuuluh…” Pilih mana?

Kita tidak dalam posisi membandingkan surat yang dibaca, semua adalah surat dalam Al-Qur’an, namun kita ingin membandingkan sikap kita, apa kita pilih yang panjang-panjang namun khusyu’ atau pilih yang pendek-pendek namun secepat kilat.

Umat muslim harus berani mengevaluasi diri dalam hal pelaksanaan shalat tarawih ini. Sebab, sudah kesekian kali kita melaksanakan shalat tarawih dalam hidup kita, namun kita belum bisa meresapi, merenungkan dan mendapatkan manisnya shalat, bermunajat kepada Allah swt. secara langsung.

Bukankah Rasulullah saw. meneladankan kepada kita, bahwa beliau shalat tarawih, di reka’at pertama setelah beliau membaca surat Al-Fatihah, beliau membaca surat Al-Baqarah sampai selesai, para sahabat mengira beliau akan ruku’, namun beliau melanjutkan membaca surat An-Nisa’ sampai selesai, para sahabat kembali mengira beliau akan ruku’, namun kembali beliau membaca surat Ali-Imran sampai selesai, baru beliau ruku’. Sedangkan ruku’, i’tidal dan sujud beliau lamanya seperti beliau berdiri rekaat pertama. Subhanallah!

Tentu kita tidak sekuat Rasulullah saw. namun yang kita teladani dari beliau adalah pelaksanaannya, dengan cara yang thuma’ninah, khusyu’ dan penuh tadabbur.

Pohon kelima, tilawatul Qur’an. Membaca Al-Qur’an. Atau yang populer adalah tadarus Al-Qur’an. Tadarus tidak hanya dilakukan di bulan suci ini, juga dilakukan setiap hari di luar Ramadhan, namun pada bulan suci ini tadarus lebih dikuatkan, ditambahkan kuantitas dan kualitasnya. Setiap malam, Rasulullah saw. bergantian bertadarus dan mengkhatamkan Al-Qur’an dengan malaikat Jibril.

Pohon keenam, ith’aamul ifthor. Memberi berbuka puasa. Jangan diremehkan memberi berbuka puasa kepada orang yang berpuasa, baik langsung maupun lewat masjid. Walau hanya satu butir kurma, satu teguk air, makanan, minuman dan lainnya. Sebab, nilai dan pahalanya sama seperti orang yang berpuasa yang kita kasih berbuka itu. Di negara-negara Timur-Tengah, tradisi dan sunnah memberi buka puasa ini sangat kental. Hampir-hampir setiap rumah membuka pintu selebar-lebarnya bagi para kerabat, musafir, tetangga, sahabat, untuk berbuka bersama dengan mereka.

Kita jadikan memberi buka bersama ini sebagai sarana menebar kepedulian, kekeluargaan, keakraban, dengan sesama, lebih lagi sebagai sarana fastabiqul khairat.

Pohon ketujuh, i’tikaf. Melaksanakan i’tikaf 10 hari akhir Ramadhan. Inilah amalan sunnah muakkadah yang tidak pernah ditinggalkan Rasulullah saw. semasa hidupnya. Lebih dari 8 atau 9 kali beliau beri’tikaf di bulan suci ini, bahkan di tahun di mana beliau meninggal, beliau beri’tikaf 20 hari akhir Ramadhan. Beliau membangunkan istri-sitrinya, kerabatnya untuk menghidupkan malam-malam mulia dan mahal ini. (baca i’tikaf)

Pohon kedelapan, taharri lailatail qadar. Memburu lailatul qadar. Usia rata-rata umat Muhammad adalah 60 tahun, jika lebih, itu kira-kira bonus dari Allah swt. Namun usia yang relatif pendek itu bisa menyamai nilai dan makna usia umat-umat terdahulu yang bilangan umur mereka ratusan bahkan ribuan tahun. Bagaimana caranya? Ya, dengan cara memburu lailatul qadar, sebab orang yang meraih lailatul qadar dalam kondisi beribadah kepada Allah swt., berarti ia telah berbuat kebaikan sepanjang 1000 bulan atau 84 tahun 3 bulan penuh. Jika kita meraih lailatul qadar sekali, dua kali, tiga kali, dan seterusnya, maka nilai usia dan ibadah kita bisa menyamai umat-umat terdahulu.

Rahasia inilah yang di yaumil akhir kelak, umat Muhammad saw. dibangkitan dari alam kubur terlebih dahulu, dihisab terlebih dahulu, dimasukkan ke surga terlebih dahulu, dan juga dimasukkan ke neraka terlebih dahulu, waliyadzu billah.

“Pada bulan ini ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan, siapa yang terhalang dari kebaikannya berarti ia telah benar-benar terhalang dari kebaikan.” (H.R. Ahmad)

Pohon kesembilan, umroh. Melaksanakan ibadah umroh dibulan suci Ramadhan, terutama 10 akhir Ramadhan. Sebab melaksanakan umroh di bulan suci ini seperti malaksanakan ibadah haji atau ibadah haji bersama Rasulullah saw.

“Umrah di bulan Ramadhan sebanding dengan haji.” Dalam riwayat yang lain: “Sebanding haji bersamaku.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Pohon kesepuluh, menunaikan ZISWAF, yaitu mengeluarkan zakat, infaq, sedekah dan wakaf. ZISWAF adalah merupakan ibadah maaliyah ijtima’iyyah, ibadah yang terkait dengan harta dan berdampak pada manfaat sosial. Mengeluarkan ZISWAF tidak hanya bulan suci Ramadhan, kecuali zakat fitrah yang memang harus dikeluarkan sebelum shalat iedul fitri, sedangkan zakat-zakat yang lain, sedekah dan infaq dilakukan kapan saja dan di mana saja, namun karena bulan Ramadhan menjanjikan kebaikan berlipat, biasanya kesempatan ini tidak disia-siakan umat muslim, sehingga umat muslim berbondong-bondong menunjukkan kepeduliannya dengan berZISWAF. Tentu dilakukan dengan baik, benar dan tidak memakan korban. Lebih baik lagi jika disalurkan lewat Lembaga Amil Zakat yang memang mengelola dana-dana umat ini sepanjang hari, tidak hanya tahunan.

Keyword : Mempelajari Makna 10 Ranting Pohon Ramadhan 2016
Sumber : http://www.dakwatuna.com/2009/08/21/3528/10-pohon-ramadhan/#axzz49WEmRaN9
10/03/2015
Dakwah Yang Baik

Dakwah Yang Baik



Kata dakwah sering diucapkan seseorang atau sekelompok muslim yang menunjukkan pada aktivitas-aktivitas menyebarkan luaskan atau menegakkan “syariat Islam” di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan politisi-politisi dari partai politik yang berlebelkan Islam juga tidak jarang mengatakan bahwa perjuangan mereka di legislatif bagian dari upaya dakwah.

Kata dakwah secara bahasa terambil dari bahasa Arab yang merupakan bentuk “masdar” (noun) dari kata da’a ( دعا ), yad’u ( يدعو ) yang memiliki banyak arti diantaranya, menyeru, mengajak, berdoa’ dan lain-lain. secara istilah dakwah merupakan segala bentuk aktifitas baik ucapan, perbuatan, dan keteladanan yang bertujuan mengajak manusia ke jalan Tuhan (Islam).

Secara doktrinal, Islam tentu sangat menganjurkan kepada umatnya agar menjalankan profesi dakwah baik secara perorangan maupun kelompok. Hal ini berdasarkan firman Allah swt dalam Q.S. Ali Imran: 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaknya ada di antara kamu sekelompok orang yang menyerukan kepada kebaikan, dan memerintahkan berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Bahkan dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad saw bersabda:

بلغوا عنى ولو آية

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat

Akan tetapi yang harus digaris bawahi bahwa dakwah tidak cukup kalau hanya mengandalkan semata-mata “semangat yang menggebu-gebu” tapi harus ditopang dengan penguasaan keilmuan Islam yang mumpuni agar dakwah itu berhasil dengan baik dan tidak menimbulkan persoalan di tengah-tengah kehidupan umat Islam. itu sebabnya dalam Q.S. al-Taubah 122 Allah swt sebutkan perdalam dahulu ilmu agama kemudian baru menjalankan aktifitas dakwah:

فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم

Hendaknya ada sekelompok orang diantara kamu memperdalam ilmu agama kemudian memberi peringatan kepada kaum mereka apabila mereka kembali kepada mereka.

Tidak hanya persoalan keilmuan agama saja tapi dakwah juga harus ditopang oleh akhlak (kebijakan sikap). Sebab kebenaran Islam apabila disampaikan dengan cara-cara yang kurang bijak (akhlak yang kurang baik) akan membuat orang kehilangan simpatik terhadap Islam. kebijakan ini harus tercermin dalam perkataan, sikap dan perbuatan. itu sebabnya dalam Q.S. al-Nahl 125 Allah swt mengingatkan:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan berdialoglah dengan mereka dengan cara-cara yang baik. sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan siapa yang mendapat petunjuk.

Dengan hikmah itu berarti dengan ilmu dan kebijaksanaan (bi adillat al-muhakkamah), bukan dilandasi sentimen (pribadi maupun kelompok), nasehat yang baik berarti perkataan-perkataan yang baik dan santun. Bukan perkataan yang bermuatan menyudutkan, menyesatkan, mengkafirkan, membid’ah-bid’ahkan. Dan dialog yang baik berarti diskusi yang produktif dan saling menghargai dan menghormati antara satu dan lainnya. Kenapa harus demikian? karena otoritas yang mengetahui apakah manusia itu mendapat petunjuk (hidayah) atau apakah manusia itu tersesat dari jalanNya adalah Allah swt.

Dalam berdakwah kita tidak boleh merasa bahwa kelompok kita yang paling benar sementara kelompok lain adalah salah. Karena otoritas untuk menyatakan bahwa seseorang (sekelompok) orang itu benar atau bersalah hanya milik Allah swt. Boleh jadi dalam pandangan manusia, seseorang itu “salah” tapi Allah swt mungkin menilai sebaliknya. Atau boleh jadi, kita merasa paling benar (alim) dalam Islam, tapi barangkali Allah swt menilai kita sebaliknya. Disinilah letak perlunya dakwah itu berlandaskan ilmu, kebijakan dan akhlak yang terpuji. Wallah A’lam

Amrizal Isa

TOP