• Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, (artinya) : ”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihi wassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

  • Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

  • Dalam konteks ini Al Qur'an dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma, al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber, kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.

  • Setiap orang pasti sering mendengar ungkapan “Don't judge a book by its cover” bahkan bisa dibilang ungkapan yang satu ini termasuk hal yang sangat populer di dunia barat di berbagai buku, ceramah, bahkan wikipedia. situs yang memuat data atas sesuatu dengan sangat ringkas dan akurat Menurut wikipedia kata-kata itu bermakna “don’t determine the worth of something based on its appearance” Kalo di Indonesiakan

ARTIKEL TERBARU

Rss

Sabtu, 03 Oktober 2015
Dakwah Yang Baik

Dakwah Yang Baik



Kata dakwah sering diucapkan seseorang atau sekelompok muslim yang menunjukkan pada aktivitas-aktivitas menyebarkan luaskan atau menegakkan “syariat Islam” di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Bahkan politisi-politisi dari partai politik yang berlebelkan Islam juga tidak jarang mengatakan bahwa perjuangan mereka di legislatif bagian dari upaya dakwah.

Kata dakwah secara bahasa terambil dari bahasa Arab yang merupakan bentuk “masdar” (noun) dari kata da’a ( دعا ), yad’u ( يدعو ) yang memiliki banyak arti diantaranya, menyeru, mengajak, berdoa’ dan lain-lain. secara istilah dakwah merupakan segala bentuk aktifitas baik ucapan, perbuatan, dan keteladanan yang bertujuan mengajak manusia ke jalan Tuhan (Islam).

Secara doktrinal, Islam tentu sangat menganjurkan kepada umatnya agar menjalankan profesi dakwah baik secara perorangan maupun kelompok. Hal ini berdasarkan firman Allah swt dalam Q.S. Ali Imran: 104

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

Hendaknya ada di antara kamu sekelompok orang yang menyerukan kepada kebaikan, dan memerintahkan berbuat kebaikan dan mencegah kemungkaran dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

Bahkan dalam salah satu hadits, Nabi Muhammad saw bersabda:

بلغوا عنى ولو آية

Sampaikanlah dariku walaupun satu ayat

Akan tetapi yang harus digaris bawahi bahwa dakwah tidak cukup kalau hanya mengandalkan semata-mata “semangat yang menggebu-gebu” tapi harus ditopang dengan penguasaan keilmuan Islam yang mumpuni agar dakwah itu berhasil dengan baik dan tidak menimbulkan persoalan di tengah-tengah kehidupan umat Islam. itu sebabnya dalam Q.S. al-Taubah 122 Allah swt sebutkan perdalam dahulu ilmu agama kemudian baru menjalankan aktifitas dakwah:

فلولا نفر من كل فرقة منهم طائفة ليتفقهوا في الدين ولينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم

Hendaknya ada sekelompok orang diantara kamu memperdalam ilmu agama kemudian memberi peringatan kepada kaum mereka apabila mereka kembali kepada mereka.

Tidak hanya persoalan keilmuan agama saja tapi dakwah juga harus ditopang oleh akhlak (kebijakan sikap). Sebab kebenaran Islam apabila disampaikan dengan cara-cara yang kurang bijak (akhlak yang kurang baik) akan membuat orang kehilangan simpatik terhadap Islam. kebijakan ini harus tercermin dalam perkataan, sikap dan perbuatan. itu sebabnya dalam Q.S. al-Nahl 125 Allah swt mengingatkan:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah, nasehat yang baik dan berdialoglah dengan mereka dengan cara-cara yang baik. sesungguhnya Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalanNya dan siapa yang mendapat petunjuk.

Dengan hikmah itu berarti dengan ilmu dan kebijaksanaan (bi adillat al-muhakkamah), bukan dilandasi sentimen (pribadi maupun kelompok), nasehat yang baik berarti perkataan-perkataan yang baik dan santun. Bukan perkataan yang bermuatan menyudutkan, menyesatkan, mengkafirkan, membid’ah-bid’ahkan. Dan dialog yang baik berarti diskusi yang produktif dan saling menghargai dan menghormati antara satu dan lainnya. Kenapa harus demikian? karena otoritas yang mengetahui apakah manusia itu mendapat petunjuk (hidayah) atau apakah manusia itu tersesat dari jalanNya adalah Allah swt.

Dalam berdakwah kita tidak boleh merasa bahwa kelompok kita yang paling benar sementara kelompok lain adalah salah. Karena otoritas untuk menyatakan bahwa seseorang (sekelompok) orang itu benar atau bersalah hanya milik Allah swt. Boleh jadi dalam pandangan manusia, seseorang itu “salah” tapi Allah swt mungkin menilai sebaliknya. Atau boleh jadi, kita merasa paling benar (alim) dalam Islam, tapi barangkali Allah swt menilai kita sebaliknya. Disinilah letak perlunya dakwah itu berlandaskan ilmu, kebijakan dan akhlak yang terpuji. Wallah A’lam

Amrizal Isa
Jumat, 10 Juli 2015
Mengeja Langkah Sendiri

Mengeja Langkah Sendiri






Menceritakan aib orang lain itu ghibah. Daya rusaknya sama dengan memakan bangkai saudara sendiri. Orang baik-baik akan membenci perbuatan tersebut. Hanya orang-orang jahat yang tega melakukan perbuatan yang hanya pantas dilakukan oleh binatang.

Perumpamaan ghibah dengan memakan daging saudaranya itu terdapat dalam alQuran. Dengan ayat itu Tuhan mengingatkan manusia, agar jangan berbuat seperti binatang.

Tetapi Tuhan juga memberi tahu bahwa, manusia bisa lebih buruk kelakuannya dari binatang. Sehingga, perbuatan yang biadab dan hanya pantas dilakukan oleh binatang, dilakukan oleh banyak orang.

Kelakuan orang jahat yang sekelas binatang tidak segan menggunakan cara biadab untuk menjatuhkan orang lain yang dianggap "musuh", yaitu siapapun yang berupaya menghalangi keinginan jahatnya.

Membuka aib orang lain untuk menjatuhkan "musuh" adalah cara yang mudah dan murah. Itulah cara yang dianggap jitu untuk menebar kebencian, demi memenuhi ambisi jahat di dalam hatinya.

Bisa dipastikan, di sebalik isu kebencian yang dibicarakan kemana-mana, ada hasrat dan keinginan di dalam hatinya untuk merusak nama baik orang lain. Dengan itu pula, mereka secara tersamar ingin mengeruk keuntungan. Baik keuntungan pribadi, maupun kelompoknya.

Tetapi Tuhan maha pengasih. Manusia tidak semuanya dapat dibodohi, dan untuk mengalihkan perhatian masyarakat tidak semudah yang diinginkan si jahat. Simpati masyarakat tidak akan didapat dengan menaburkan kebencian kepada sesama. Dan kebencian yang diungkapkan hanya mampu merusak ketentraman. Akibatnya, pembuat berita kebencian akan merasakan sendiri akibatnya.

Alam memiliki hukum sebab akibat yang seimbang. Siapa yang bersiul, akan mendapatkan angin. Yang memulai menaburkan aib, akan menuai kebencian. Orang yang membuat berita kebencian akan semakin terpuruk dan dijauhi orang. Sedangkan orang lain yang diceritakan kejelekannya, menjadi semakin terkenal di masyarakat.

Ada untaian kata yang cukup populer dan indah untuk itu, yaitu: "diceritakan baik atau jelek kepada orang ramai adalah sama baiknya." Ya. Orang tidak menjadi terhina, karena dihinakan. Dan si tukang hina, tidak menjadi terhormat, karena menghina orang lain.

Untuk memenuhi ambisinya, si jahat tidak pernah puas dengan cerita miring yang dibuat. Biasanya si jahat akan membuat cerita-cerita bohong untuk menyudutkan lawannya. Yaitu, mengatakan sesuatu tentang orang lain yang sesungguhnya tidak pernah dilakukan. Yang disebut fitnah.

Fitnah adalah senjata orang jahat yang terhina dan murahan. Sama dengan ghibah, fitnah digunakan oleh si jahat untuk menjatuhkan orang lain. Terlahirlah dari mulut orang jahat yang hina berbagai label yang dituduhkan kepada orang yang ingin dijatuhkan, seperti sesat, kafir, dan lainnya.

Tetapi, semua fitnah yang dilakukan juga tidak akan dapat menjatuhkan orang lain, bahkan menaikkan derajat orang yang difitnah. Si tukang fitnah pun akan semakin menderita dengan angan-angan kosong yang menyesakkan jiwanya, ketika menyaksikan lawannya semakin sukses karena mulut jahatnya.

Begitulah kenyataannya. Dari dulu sampai sekarang. Hukum kehidupan tidak pernah berubah. Akibat menyebar ghibah, diri sendiri menjadi rendah. Akibat menghembuskan fitnah, diri sendiri semakin terhina.

Tetapi hasrat dan keinginan jahat yang dilambung angan-angan sesat tidak menyurutkan niat si jahat untuk menjatuhkan orang lain yang dibenci.

Muncullah mantra dari mulut si jahat: "Biarlah sama-sama tidak mendapat." Suaitan pun membuat akal jahatnya semakin cerdas merekayasa keadaan untuk memuaskan kedengkian dirinya.

Akhirnya, agama juga diperalat untuk tujuan jahat. Ayat-ayat suci dan kata-kata nabi yang diucapkan oleh si jahat tidak lagi memiliki ruh kasih sayang. Di mulut manusia yang berhati jahat, kata-kata Tuhan dan Nabi beraroma kebencian.

Ucapan-ucapan bernada relegius dan mengatasnamakan Tuhan, bisa berhasil menipu orang. Karena ucapannya, masyarakat menjadi saling menyalahkan dan bertikai. Ayat dan hadist yang diucapkan berhasil menciptakan kebencian terhadap sesama.

Akibatnya, perpecahan dan permusuhan terhadap sesama sendiri terjadi di mana-mana. Dengan itu, orang jahat yang rendah dan hina kembali berharap, agar warga yang termakan isu rendahan itu berbalik arah menjadi kelompoknya.

Untuk sementara, usaha si jahat memperalat agama mendapat dukungan. Tetapi tidak dalam waktu yang lama. Karena Tuhan maha adil, maha pengasih dan maha penyayang. Maka si jahat dengan kelakuan bejat dinampakkan oleh Tuhan.

Orang banyak pun segera menyadari bahwa, mereka selama ini telah tertipu dengan bujuk rayu yang memperalat agama. Orang banyak pun menyimpulkan sendiri bahwa, hanya orang yang jahat dan tidak bermartabat, yang memperalat agama untuk menghujat. Hanya orang bodoh yang dengki yang suka menyalahkan orang. Dan, hanya orang yang sakit hatilah yang suka berteriak menyalahkan.

Semua akan kembali kepada niat di dalam hati. Sejarah juga akan berulang. Seperti di zaman Musa as ada Fir'aun, begitu pula di zaman nabi Muhammad saw ada Abu Jahal. Di setiap zaman pasti ada orang jahat yang merasa dirinya hebat.

Itulah hukum dunia. Di setiap zaman dan tempat, pasti ada yang dijadikan Tuhan menggantikan kejahatan Fir'aun, juga meneruskan kedengkian Abu Jahal. Tentunya, dengan kadar kejahatan yang seimbang dengan kebaikan yang diperjuangkan. Dan kedengkian yang juga sepadan dengan ketulusan yang disembunyikan.

Pada akhirnya nanti. Kaca tetaplah kaca yang akan pecah berderai dan tidak berguna. Ia akan hilang dimakan masa, umpama debu di atas batu. Sedangkan mutiara tetap akan bersinar meskipun ditempatkan di tumpukan debu dan batu jalanan.

Yang penting adalah sikap jiwa yang pasrah dan percaya bahwa, Tuhan tidak pernah tidur dan terus bekerja melalui tangan hamba-hambaNya. Dan segalanya tetap berjalan sesuai dengan qadla dan qadarNya. Yang baik akan dibalas dengan yang lebih baik. Begitu pula, yang jahat akan dibalas dengan yang lebih jahat.

Ingatlah! Menjadi baik atau jahat, adalah pilihan. Pastilah, manusia yang hidup akan membuat penilaian. Dan yakinlah! Tuhan akan memberikan balasan.

Masdarudin Ahmad
Tentang Hati

Tentang Hati



Syukur adalah sikap batin yang merasa puas dengan apa yang telah didapat. Orang yang bersyukur hatinya dipenuhi rasa nyaman, enjoy dan damai. Tidak ada yang dirasakan kurang dari hasil usahanya. Tidak juga merasa ada kekeliruan dalam bagian yang diperoleh. Sehingga tidak terbetik sedikitpun rasa iri dengan yang telah didapatkan orang lain.

Merasa puas dalam arti paripurna sememangnya tidak mudah, meskipun tidak berarti tidak mungkin. Karena, hati yang diliputi rasa nyaman, enjoy dan damai sudah cukup menjadi bukti kesyukuran. Dan sikap batin yang bersyukur bagi pemiliknya adalah energi yang akan menumbuhkan sikap positip. Diantara sikap positip yang yang terlahir dari rasa sukur adalah optimis.

Pada gilirannya, optimisme akan melahirkan kerja yang lebih produktif dan mendapatkan hasil yang melebihi target. Seperti dijanjikan Tuhan: "Sesungguhnya jika kalian bersyukur, maka pasti Aku (Tuhan) akan memberi lebih. Sebaliknya, jika engkau kufur, sesungguhnya azabku sangat pedih."

Dalam menjalani roda kehidupan, optimisme harus diawali dari niat karena Allah. Apapun target yang telah ditentukan di awal, semua harus tertuju karena Allah atau untuk Allah.

Dengan demikian, Allah akan senantiasa mengawasi setiap langkah kerja yang dilakukan. Dalam kondisi hati yang bersama Allah, maka akan terbentuk energi positip yang menyemangati diri, sehingga tidak mengenal lelah dalam bekerja.

Energi positip yang ditanamkan dari niat karena Allah, pada gilirannya akan memberi hasil kerja yang melampau target yang ditentukan.

Seperti kerja harian yang bertujuan memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Semua orang melakukan kerja dengan tujuan yang sama. Tetapi niat yang tulus karena Allah, memberi suasana kerja yang lebih baik, jujur dan bersungguh-sungguh. Akibat positip dari itu, terbentuk kepribadian yang bersikap menyenangkan, dan sifat pantang menyerah. Jika bekerja dengan senang dan tekun, maka hasil yang didapat pasti akan melebihi target.

===============

Tuhan maha adil dalam penciptaannya. Semua manusia telah dibekali kemampuan di awal penciptaan. Kemampuan dasar yang dimiliki manusia bisa sama, bisa juga berbeda. Semua kembali kepada manusianya. Apabila kemampuan yang dimiliki terus dibina dan dikembangkan, maka akan dibalas dengan hasil yang tidak terbayangkan. Ya, kerja keras dan kerja cerdas yang dilakukan dengan baik dan tekun, akan dibalas oleh Tuhan dengan pemberian yang melampaui.

Di antara cara melatih potensi diri yang dimiliki adalah dengan melakukan pekerjaan yang melebihi biasanya. Dan, jangan melakukan pekerjaan yang sudah biasa dan dengan cara biasa. Jika melakukan sesuatu yang biasa, sudah pasti, hasil yang didapatkan juga biasa.

Cobalah melakukan sesuatu yang di luar kebiasaan. Menjadilah manusia yang berani berfikir beda, melakukan sesuatu yang lain atau dengan cara yang tidak biasa. Boleh juga melakukan sesuatu yang berbeda dan tidak biasa. Awali dengan berfikir beda dan diteruskan dengan tindakan lain yang berbeda, dipastikan akan mendapatkan hasil yang berbeda.

Untuk perubahan yang lebih baik dan hasil yang berbeda, haruslah diawali dari berfikir yang baik dan berbeda. Begitu juga hasil yang banyak dan berbeda, harus diawali dengan bekerja sungguh-sungguh dan dengan cara yang berbeda. Artinya, haruslah diawali dengan berfikir dan melakukan sesuatu yang tidak biasa.

Pastikan dalam diri bahwa, itu bisa terjadi. Semua berpulang kepada diri sendiri. Karena Allah telah berfirman dengan sangat tegas: "Allah tidak akan merubah kondisi suatu masyarakat, sebelum masyarakat itu merubah diri mereka sendiri."

Karena, apabila kita sudah berani melakukan sesuatu yang berbeda, maka alam bawah sadar atau energi Tuhan akan membimbing kepada sesuatu yang kita inginkan. Begitulah energi Tuhan bekerja lewat pikiran dan tindakan manusia.

Tidak ada kebersamaan dengan Tuhan yang sia-sia. Tuhan maha pemurah, pengasih dan penyayang. Semua yang diinginkan manusia akan diberikan. Bahkan Tuhan akan memberi sesuatu yang melampaui, jika manusia mahu melakukan dengan sungguh-sungguh dan ikhlas.

=============

Kehidupan beragama juga begitu. Katakanlah ketika beribadah. Sesungguhnya semua manusia memiliki kemampuan untuk khusuk.

Apabila mahu serius untuk khusuk, maka Tuhan akan memberikan yang diinginkan, yakni khusuk. Begitu juga sebaliknya, apabila merasa tidak mampu khusuk, maka Tuhan tidak akan memberi kemampuan untuk itu.

Menjadi khusuk dalam beribadah, ditentukan oleh manusia itu sendiri. Manusia sendirilah yang harus mengecohkan spiritualitas diri. Yaitu dengan berani meninggalkan semua persoalan hidup yang dihadapi. Jadikan dunia ini sampah yang tidak perlu diingat, apalagi dipikir. Lupakan semua kemewahan, juga kesusahan. Semua, selain Allah harus di tenggelamkan, bahkan dibuang dari pikiran. Sehingga, hanya kedekatan dengan Allah itulah yang dituju. Maka akan dirasakan bahwa, kebersamaan dengan Allah itulah kebahagaiaan sejati.

Ya, apabila semua pengecoh yang menghalangi kekhusukan sudah dihilangkan dari hati dan pikiran, dan yang ada disana hanya Allah, dan manusia merasa kebahagian sejati hanya saat bersama Allah. Kondisi demikian itulah khusuk dalam ibadah.

===============

Dan kekhusukan dalam ibadah itu, pada gilirannya akan memberi perasaan yang lebih nyaman, sikap hidup yang lebih tenang dan langkah hidup yang lebih terarah. Karena Tuhan telah menjanjikan bahwa, kebersamaan dengan Tuhan (zikir) akan memberikan ketenangan hati. Dan dari hati yang tenang, akan terlahir sikap hidup yang santai dan langkah kehidupan yang tentram dan bahagia.

Selamat mencoba...


Masdarudin Ahmad

TOP