Kajian Islam
Kajian Islam
Akhwat Muslimah
Islamic Lifestyle
Firman Santosa

Hukum Talak Cerai Istri Lewat SMS Dalam Pandangan Islam

Hukum Talak Cerai Istri Lewat SMS Dalam Pandangan Islam
Ilustrasi : Hukum Talak Cerai Istri Lewat SMS Dalam Pandangan Islam

AkhbarIslam.Com - Talak Cerai bukan sembarang perkataan yang gampang diucapkan. Dalam pandangan Islam, Hukum Talak Cerai Istri Lewat SMS semakin banyak diperdebatkan. Seiring perkembangan zaman, teknologi masa kini semakin canggih. Sehingga untuk mengikrarkan kata Cerai atau Talak dapat diucapkan melalui SMS. Berikut ini pertanyaan seputar Hukum Talak Cerai Istri Lewat SMS Dalam Pandangan Islam.

Pertanyaan:

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu.
Ustadz yang saya hormati di meja fatwa, saya sedang menghadapi masalah fikih kontemporer yang cukup membingungkan. Begini masalahnya, beberapa waktu lalu istri saya mendengar kabar –entah dari mana– bahwa saya berniat menikah lagi. Kemudian tiba-tiba saya menerima pesan lewat SMS bahwa istri saya telah rela menerima keputusan penceraiannya dari saya. Padahal saya tidak menyatakan demikian.

Bagaimanakah sikap saya, apakah telah jatuh talak dengan adanya pesan cerai melalui SMS tersebut atau dianggap tidak ada apa-apa? Sebab setelah istri saya mengirim SMS tersebut tidak mau bercampur lagi dengan saya. Bagaimanakah sebenarnya hukum cerai dan nikah melalui SMS. Mohon penjelasannya dari perspektif fikih kontenporer.

Demikian terimakasih atas penjelasannya, semoga Ustadz senantiasa mendapatkan pertolongan Allah untuk setia mengasuh rublik tercinta ini.

Jazakumullah khairan katsiran.

H.M. Ibrahim
Depok, Jawa Barat

Hukum Talak Cerai Istri Lewat SMS Dalam Pandangan Islam


Jawaban:

Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuhu.
Tidak dapat dielakkan lagi bahwa teknologi informasi dan media komunikasi semakin hari bertambah maju dan arus budayanya semakin deras, yang menurut futurologi kondang John Naisbitt dalam bukunya High Tech, High Touch; Technology and Our Search for Meaning (1999) semakin menggiring masyarakat ke “zona mabuk teknologi”, yang ditandai dengan berbagai gejala sosiologis, yaitu 1) kita lebih menyukai penyelesaian masalah secara kilat, dari masalah agama sampai masalah gizi; 2) kita takut sekaligus memuja teknologi; 3) kita mengaburkan perbedaan antara yang nyata dan yang semu; 4) kita menerima kekerasan sebagai suatu hak dan yang wajar; 5) kita mencintai teknologi dalam wujud mainan; dan 6) kita menjalani suatu kehidupan yang berjarak dan terenggut.

Fenomena penggunaan beragam dari short mesagge service yang popular dengan sebutan SMS, yaitu pesan singkat berupa teks melalui telepon seluler, merupakan gejala kontemporer dari perkembangan teknologi komunikasi dan seluler yang digandrungi mayoritas penduduk dunia. Hal itu tidak jarang menimbulkan masalah kontroversial, termasuk masalah cerai dari sudut kacamata agama yang belum begitu popular. Bahkan cerai via SMS tersebut di Indonesia memang belum begitu popular, bahkan dari kalangan feminis dan lembaga-lembaga kewanitaan pun belum kita dengar pandangan mereka tentang hal ini.

Kontroversi ini bermula dari ulah seorang pria di Dubai, Uni Emirat Arab, yang tengah menceraikan istrinya melalui pesan SMS karena kesal dengan lambatnya sang istri, dengan bunyinya, “Kamu saya ceraikan karena lambat!” Masalah tersebut akhirnya dibawa ke pengadilan dan diputuskan cerai (jatuh talak). Alasannya, menurut Kepala Bagian Talak Rujuk di Pengadilan Dubai, Abdus Salam Darwish bahwa pengirim SMS terbukti –sang suami– memang bersungguh-sungguh ingin menceraikan sang istri.

Gejala kontroversial tersebut juga menjalar ke Malaysia dan Singapura, yang kemudian saya dengar untuk pertama kali merembet ke Indonesia melalui kasus saudara yang versinya agak sedikit berbeda. Sebagaimana kasus di Dubai, Pengadilan Malaysia dan Singapura juga mengukuhkan perceraian, sebagaimana dinyatakan oleh Mufti Kuala Lumpur, Datuk Hisyam Yahya, dan petugas Pengadilan Agama, Singapura Shaifuddin Saruwan bahwa perceraian itu sah setelah melalui proses pengadilan.

Sebelum menjelaskan hukum dari perspektif fikih beserta alasannya dan dalilnya, perlu diklarifikasi bahwa pesan SMS yang saudara terima dari istri tersebut, kalau memang saudara tidak menyatakan cerai, maka hal itu masuk dalam pembahasan bab Khulu’, yaitu gugatan cerai yang biasanya di ajukan oleh pihak istri, dan keputusan cerai tetap dikembalikan kepada suami tanpa harus melalui proses pengadilan, baik jawaban mengiyakannya secara langsung atau tidak melalui SMS. Asalkan memang akurat dan benar bahwa adanya pengirim jawaban SMS memang dari sang suami dan gugatan Khulu’ tersebut memang benar dari pihak istri.

Dalam hal ini terdapat alasan kuat yang syar’i (dibenarkan syariat), maka pengadilan (hakim agama) sebagai waliyul amri berhak dan berwenang memutuskan cerai, meskipun sang suami menolak cerai, agar tidak menyiksa dan menggantungkan nasib (status) istri, seperti alasan tidak terpenuhinya hak-hak dan nafkah istri. Maka hal itu efektif jatuh talak, dengan atau tanpa jawaban yang mengiyakan tentang persetujuan khulu’ dari sang suami.

Khulu’ menurut bahasa artinya ‘mencabut dan menghapus’. Yang dalam istilah fikih berarti ‘mencabut dan mengenyahkan ikatan pernikahan’ (naz’wa izalah az-zaujiyah), baik dilakukan oleh seorang istri, wali, maupun hakim dengan memberikan kompensasi sejumlah materi (‘iwadh) kepada sang suami menurut keputusan pengadilan atau kesepakatan suami istri. Namun, yang perlu diingat adalah bila terjadi perceraian karena persetujuan khulu’ (gugatan cerai dari pihak istri), maka jatuh talak bain, terutama menurut kalangan ulama Malikiyah yang berimplikasi haram bagi keduanya untuk rujuk kembali selama-lamanya sampai sang istri menjanda lagi setelah menikah dan telah berkumpul dengan pria lain (lihat: ad-Durrul Mukhtar, II/766, Fathul Qadir,II/199, Mughnil Mukhtaj, III/262, Bidayatul Mujtahid, II/66, al-Mughni,VII/51).

Namun demikian, kalau memang alas an khulu’ sang istri belum belum kuat, maka sebaiknya dipertimbangkan kembali secara masak, karena dalam hal ini soal suami mau menikah itu masih isu atau memang akan dimadu. Sebab, perceraian adalah kalau pun harus terjadi, maka menurut Nabi, hal itu merupakan suatu yang boleh namun tetap paling dibenci Allah Swt. Demikian pula perlu dipikir masak-masak, apakah keinginan poligami (kalau memang isu itu benar adanya) sudah tepat, dengan melihat berbagai kondisi riil antara mudharat dan maslahatnya.

Hukum khulu’ sendiri memang asalnya adalah boleh (jaiz) dan efektif jauh talak menurut para ulama, termasuk kalangan Syafi’iyah, karena kebutuhan kaum istri untuk membebaskan dirinya dari ketersiksaan ikatan asasi wanita dan menghargai eksitensi dan kemerdekaannya. Namun demikian tetap dipandang sesuatu yang makruh (dibenci Allah) bila hal itu dalam kondisi yang normal tanpa alasan kuat yang syar’i (al-Baqarah: 229, an-Nisa: 4 dan 128). Nabibersabda, “Seorang istri mana pun yang menggugat cerai kepada suaminya tanpa suatu alasan (kuat), maka diharamkan baginya aroma surga.” (HR al-Khamsa kecuali Nasa’i).

Dalam hal adanya alasan kuat maka sang suami disunahkan untuk mengabulkan gugatan cerai istri (khulu’) tersebut ,sebagaimana dalam kisah Tsabit bin Qais yang mengabulkan khulu’ istrinya dengan menerima sebidang kebun yang dikembalikan sang istri kepadanya sebagai ‘iwadh’ atas persetujuan khulu’ tersebut menurut saran Nabi Saw. (HR. Bukhari , Nasa’i, Ibnu Majah. Lihat : Kasyaful Qina; V/237, Nailul Authar, V/246).

Ada pun masalah menjatuhkan cerai (talak) melalui SMS yang dikirimkan seseorang kepada istrinya dengan atau tanpa alasan penceraiannya yang diterima syariah, maka kita kembalikan dahulu prinsip pernikahan dan perceraian dalam Islam adalah suatu hal yang sakral, serius, penuh amanah, tanggung jawab, dan pesan keadilan sehingga Nabi Saw mewanti-wanti untuk tidak main-main, sebab masalah tersebut bukan pada tempatnya untuk dipermainkan dan apapun caranya dinilai serius dan berlaku efektif.

Sebabnya, “Tiga hal yang serius, adalah serius hukumnya dan candanya adalah juga serius hukumnya: nikah, talak, dan memerdekakan budak. Dan hukum asal pernikahan adalah konsisten. tetap melangsungkan tali pernikahan sebab pudarnya tali pernikahan merupakan sesuatu hal yang paling dibenci Allah ,meskipun boleh dilakukan.” (HR. Abu Dawud, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Talah (thalaq) dalam bahasa arab makna asalnya adalah ‘memudarkan kembali tali ikatan dan pelepasan,’ sebagaimana hampir mirip dengan makna etimologi khulu’. Namun biasanya khulu’ dipakai sebagai gugatan cerai dari pihak istri, sementara talak sebagai penjatuhan cerai dari suami, yang dalam terminologi syariah penjatuhan talak harus memakai lafal (redaksi) eksplisit yang jelas dan dimengerti. (Ibnu Qudamah, al-Mughni, VII/66).

Hukum talak (cerai) melalui SMS dapat dianalogikan/diqiyaskan dengan hukum cerai melalui tulisan surat biasa. Sebab ada kesamaan, keduanya merupakan pesan cerai melalui teks yang bukan verbal (lisan). Para ulama fikih (fuqaha) sepakat bahwa hal itu efektif jatuh talak (Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili dalam al-Fiqh Al-Islami wa Adillatuhu, VII/382).

Dalam masalah cerai melalui SMS yang sangat diperlukan, menurut para ulama, sebagaimana dalam masalah cerai melaui surat, adalah akurasi kebenaran alamat atau nomor penerima dan pengirim, serta konfirmasi niat atau kesengajaan penjatuhkan talak. Bila hal itu memang terbukti benar adanya, melalui pengecekan nomor telepon seluler keduanya dan konfirmasi langsung, maka jatuh talak satu. Hal itu sebenarnya telah efektif, meskipun tanpa melalui pengadilan sehingga segala konsekuensi harus dipenuhi secara syar’i.

Proses pengadilan hanya sebagai pengukuhan dan konfirmasi ulang duduk masalah, di samping hanya sebagai tuntutan administrasi dan kelaziman ketentuan hukum positif yang berlaku (ad-Durr al-Mukhtar, II/589). Namun demikian, meskipun SMS dapat menjadi sarana, atau media lain yang lebih gentle, kesatria, serta arif dan bijaksana, tentunya penggunaan SMS untuk cerai tersebut sangat tidak manusiawi, tidak etis, dan tidak beradab. Sebab, hal itu sangat bertentangan dengan semangat dan prinsip dasar syariah dalam ikatan (akad) pernikahan, sebagaimana disebutkan di atas terlalu menggampangkan masalah sebagai bentuk mabuk teknologi dan sebagai sikap yang paradox dan kontradiktif dengan proses dahulunya untuk dapat mencapai jenjang pernikahan yang dilakukan dengan penuh seksama dan disertai segala bentuk penghargaan dan penghormatan kepada pihak wanita.

Sudirman (dari buku Fiqih Aktual Jawaban Tuntas Masalah Kontemporer, penulis bukuUst. Dr. Setiawan Budi Utomo)

Dapat diambil kesimpulan, intinya talak berlaku jika pengikrarannya memang berasal dari hati dan ucapan sang suami. Semoga Talak Cerai Istri Lewat SMS tidak terjadi pada kita. Dan artikel Hukum Talak Cerai Istri Lewat SMS Dalam Pandangan Islam dapat bermanfaat bagi kita semua.
Firman Santosa

Keagungan Seseorang Bersumber Dari Memelihara Kemuliaan Akhlak

Keagungan Seseorang Bersumber Dari Memelihara Kemuliaan Akhlak
Keagungan Seseorang Bersumber Dari Memelihara Kemuliaan Akhlak

AkhbarIslam.Com - Akhlak hal yang paling penting dalam kehidupan ini. Keagungan Seseorang dapat dilihat dari akhlaknya. Memelihara Kemuliaan Akhlak bukanlah seperti membalikkan telapak tangan. Dari situ,  pribadi masing-masing. Akhlak Mulia adalah bagian yang tak terpisahkan dari ajaran IsKeagungan Seseorang Bersumber Dari Memelihara Kemuliaan Akhlaklam. Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Kemuliaan seseorang ada pada agamanya, kehormatannya ada pada akalnya dan keagungannya ada pada akhlaknya.” (HR Ahmad, al-Hakim dan ath-Thabrani).

Bahkan membentuk dan menyempurnakan akhlak mulia adalah salah satu misi utama Rasulullah SAW diutus ke dunia. Rasulullah SAW sendiri yang menyatakan demikian, sebagaimana dinyatakan oleh Abu Hurairah ra, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Karena itu, wajar jika akhlak mulia adalah salah satu yang disukai Allah SWT. Sebaliknya, akhlak yang buruk adalah perkara yang dibenci Allah SWT. Dalam hal ini, Amir bin Said bin Abi Waqash ra dari bapaknya berkata, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahamulia yang menyukai kemuliaan; Allah itu Mahamurah yang mencintai kemurahan dan kemuliaan akhlak serta membenci keburukan akhlak.” (HR al-Hakim dan al-Baihaqi).

Inilah pula yang menjadi alasan Rasulullah SAW selalu memanjatkan doa kepada Allah SWT agar menunjukkan kepada beliau akhlak mulia. Demikianlah sebagaimana kata Ali bin Abi Thalib ra. bahwa Rasulullah saw. pernah memohon dalam salah satu doanya, “Ya Allah, tunjukilah aku pada akhlak yang paling mulia, karena sesungguhnya tidak ada yang bisa menunjuki aku pada akhlak yang paling mulia kecuali Engkau, dan palingkanlah aku dari akhlak yang buruk, dan tidak ada yang bisa menghindarkan aku dari akhlak yang buruk kecuali Engkau.” (HR Ahmad).

Keagungan Seseorang Bersumber Dari Memelihara Kemuliaan Akhlak

Contoh Memlihara Akhlak Mulia
Contoh Memlihara Akhlak Mulia

Akhlak Mulia adalah salah satu amalan atau sifat orang Mukmin yang bakal menjadi penduduk surga. Demikianlah menurut sabda Rasulullah SAW, sebagaimana dituturkan oleh Anas bin Malik ra. “Sesungguhnya kemuliaan akhlak adalah bagian dari amalan penduduk surga.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Rasulullah SAW memberi kita contoh di antara akhlak mulia yang harus kita miliki sebagaimana yang beliau ajarkan kepada Uqbah bin Amir ra, “Wahai Uqbah, maukah engkau aku beritahu akhlak yang paling mulia dari penduduk dunia dan akhirat? Yaitu engkau menyambungkan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya; engkau memberi kepada orang yang tak pernah memberi kepadamu; dan engkau memaafkan orang yang telah menzalimi kamu.” (HR Al-Hakim dan ath-Thabrani).

Perbuatan akhlak di atas bahkan dengan kualitas keimanan seorang Muslim. Beliau bersabda sebagaimana dituturkan oleh Abu Hurairah ra, “Tidaklah seorang hamba dapat meraih keimanan yang benar hingga ia menyambungkan hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya, memaafkan orang yang menzalimi dirinya, mengampuni orang yang mencelanya dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepada dirinya.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Wajarlah jika perbuatan akhlak di atas di atas dapat meringankan hisab Allah SWT atas manusia di akhirat kelak. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Ada tiga perkara yang siapapun memilikinya maka Allah akan menghisab dirinya dengan penghisaban yang mudah dan ringan serta memasukkan dirinya ke dalam surga-Nya dengan rahma-Nya, yaitu: engkau memberi kepada orang yang tidak pernah memberi kepadamu; engkau memaafkan orang yang telah menzalimimu; dan engkau menyambungkan hubungan silaturahmi dengan orang yang memutuskannya.” (HR Al-Hakim, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Namun demikian, pada akhirnya, akhlak mulia tetaplah merupakan buah dari ketakwaan seorang Muslim kepada Allah SWT. Orang bertakwalah—tentu dengan akhlak mulianya—yang paling mulia di hadapan Allah SWT. Dalam hal ini, Abu Hurairah ra. berkata bahwa Rasullah SAW pernah ditanya, “Siapa manusia termulia.” Beliau menjawab, “Orang yang paling bertakwa.” (HR Ibn Abi Dunya’).

Hanya dengan takwa itulah manusia bisa meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah SAW yang dituturkan oleh Ibn Abbas ra, “Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling mulia, hendaklah ia bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling kuat, hendaklah ia bertawakal kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Siapa saja yang kebahagiaannya adalah menjadi orang yang paling kaya, hendaklah ia lebih meyakini apa yang ada di sisi Allah SWT lebih daripada apa yang ada pada dirinya sendiri.” (HR Al-Baihaqi).

Maka dari itu, wajar jika ketakwaan menjadi pilihan orang-orang yang cerdas dan mulia. Dalam hal ini, Ibn Umar ra suatu ketika pernah mendatangi Rasulullah SAW Lalu datang seseorang dari kalangan Anshar kepada beliau dan bertanya, “Wahai Rasulullah, siapa orang yang paling cerdas dan paling mulia?” Beliau menjawab, “Dia yang paling banyak mengingat mati, paling keras usahanya dalam mempersiapkan bekal menghadapi kematian. Itulah orang yang paling cerdas. Mereka pergi dengan membawa kehormatan dunia dan kemuliaan akhirat.” (HR Ibn Abu Dunya’). (Ibn Abi ad-Dunya’, Makarim al-Ikhlaq, Maktabah Syamilah).

Maka dari itu, mari kita selalu Memelihara Kemuliaan Akhlak yang kita miliki. Karena, Keagungan Seseorang Bersumber Dari Memelihara Kemuliaan Akhlak pribadi masing-masing.
Firman Santosa

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1438 H Pekanbaru (Riau) 2017

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1438 H Pekanbaru (Riau) 2017

Marhaban Ya Ramadhan 2017 - 1438 H Kariim. Membahas Jadwal Imsak - Imsakiyah Ramadhan 2017 sebagaimana pengertian dari Imsak atau Imsakiyah Ramadhan. Setiap bulan Ramadhan kita senantiasa mencari waktu imsak yang akurat. Jadwal Imsakiyah Ramadhan 2017 Pekanbaru (Riau) kami sediakan di sini.

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1438 H Pekanbaru (Riau) 2017


Semoga Jadwal Imsak atau Imsakiyah pada bulan Ramadhan 2017 ini bermanfaat bagi kita terkhusus bagi masyarakat Pekanbaru - Riau. Hapy Ramadhan Kariim 2017 - 1438 H.
Nuansa Islami
Artikel Inspiratif