Kajian Islam

Advertisement

Akhwat Muslimah
Islamic Lifestyle
Firman Santosa

Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru - Riau

Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru - Riau

Profil Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru - Riau

Akhbarislam.com - Sejuk terasa suasana khas pesantren. Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru - Riau berada di lokasi yang strategis di kota Pekanbaru Riau. Berbagai kegiatan dan aktifitas bermanfaat untuk para santri dan santriwati ciri khas keagamaan islam disajikan setiap harinya. Pondok Pesantren ini didirikan di bawah rintisan Yayasan Nur Iman Pekanbaru. Cita-cita berdirinya dikokohkan dengan adanya akte notaris tanggal 12 September 1987 No 43 oleh notaris Tajib Raharjo, SH

Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru Riau ini juga didirikan dengan motivasi pada keinginan untuk membina umat yang berbentuk sosial dan amaliyah guna mendidik generasi kita dengan ajaran Islam secara baik pula

Pendirian Pondok Pesantren Dar El Hikmah ini dirintis semenjak tahun 1987 yang diawali dengan adanya waqaf sebidang tanah dari bapak H. Abdullah yang terletak di Km 12 Simpang Baru, Jalan Manyar Sakti Pekanbaru. Dan pada tahun itu juga telah diurus pembangunan seperti sekolah, aula, masjid, perumahan guru, asrama santri dan kantin. tetapi di karenakan tenaga yang profesional belum ada, maka kegiatan pesantren belum bisa dilaksanakan sementara dikontrakan pada Akademi Koperasi Riau (AKOP) yang sangat membutuhkan saat itu.

Kegiatan Silat Pesantren Dar El Hikmah
Kegiatan Silat Pesantren Dar El Hikmah
Dengan adanya usaha pengurusan yayasan nur iman pekanbaru mencari tenaga pengajar dan menghubungi beberapa pesantren yang ada di daerah maupun yang diluar daerah dengan bantuan Bapak Prof. DR. H. Satria Efendi M. Zein (Alm) Dosen Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta untuk menghubungi Bapak KH. Mahrus Amin selaku pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Jakarta. Maka dengan ini terwujudlah cita-cita untuk mendirikan Pondok Pesantren. Adapun kerjasama dan dukungan Pondok Pesantren Darunnajah Pembinaan secara langsung dan bantuan pendidikan yang profesional. Juga untuk kurikulum disamakan dengan Darunnajah disamping itu Pondok pesantren Dar El Hikmah juga mendapatkan dukungan serta bantuan dari pemerintah daerah dan lembaga pendidikan agama di daerah.

Pada pertemuan yang diadakan pada tanggal 20 April 1991 yang dihadiri Keluarga Besar Yayasan Nur Iman Pekanbaru dan segenap simpatisan dari Jakarta antara lain : Prof. DR. Satria Efendi M. Zein (Alm) dan Bapak KH. Drs. Mahrus Amin disepakati dan ditetapkan bahwa pondok pesantren diberi nama "Pondok Pesantren Dar El Hikmah"

Alhamdulillah pihak Kanwil Departemen Agama Propinsi Riau memberikan persetujuan berdirinya Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru dengan suratnya tanggal 12 Juni 1991 WD/6-0/PP.03.2/1991 dan diizinkan menerima santri Dar El Hikmah oada tahun ajaran 1991/1992. dan pada tanggal 8 Agustus 1991 barulah Pondok Pesantren ini dikenal di masyarakat secara resmi dibuka.

Sejarah Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru - Riau


Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru - Riau didirikan oleh Bapak H. Abdullah  pada tanggal 12 September tahun 1987 . Sambil menunggu realisasi pembangunan, para pengurus mencari tenaga-tenaga pengajar. Melalui bantuan DR. Satria Efendi M. Zein dosen fakultas syariah IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta mereka menghubungi KH. Machrus Amin pimpinan Pondok Pesantren Darunnajah Ulujami Jakarta selatan terwujudlah cita-cita mendirikan Pesantren. Pontren Darunnajah melakukan pembinaan langsung dengan bantuan tenaga-tenaga professional dan kurikulum pendidikan. Pondok Pesantren ini mulai menerima santri baru pada tahun ajaran 1991 – 1992 sebanyak 26 orang. Maka pada tanggal 8 Agustus 1991 diresmikan oleh walikotamadya Pekanbaru dengan nama  Dar el-Hikmah.

Kegiatan Pramuka di Dar El Hikmah Pekanbaru
Kegiatan Pramuka di Dar El Hikmah Pekanbaru
Adapun misi Pondok Pesantren Dar El Hikmah adalah menghasilkan tenaga-tenaga ahli yang dapat diandalkan dalam bidang agama Islam dan Imtek. Hal ini diwujudkan dalam kurikulum dan tenaga pengajar yang memiliki kompetensi dalam bidangnya serta dari berbagai hasil karya dan cipta yang sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan masyarakat serta tantangan perubahan yang cepat di bidang agama Islam, baik secara nasional maupun global.

Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Dar El-Hikmah mengalami pertumbuhan yang sangat cepat, sehingga minat dan keinginan orang tua untuk menyekolahkan putra-putrinya sungguh sangat antusias. Ini dapat dibuktikan dengan naiknya persentase santri pada setiap tahunnya.

Pada Tahun Pelaajaran 2014-215 jumlah santri baru yang dinyatakan lulus masuk pesantren sebanyak 460 orang dari 700 santri yang mendaftar, hal ini disebabkan kafasitas asrama dan lokal yang tidak mencukupi. Namun demikian total jumlah santri saat ini telah mencapai  1993 orang yang terdiri dari jenjang pendidikan Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD), Madrasah Tsanawiyah (MTs) diasramakan, Madrasah Aliyah (MA) diasramakan yang terdiri dari tiga jurusan yaitu Bahasa, IPS dan IPA. Dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diasramakan dengan memiliki jurusan yaitu Teknik Informatika (TI).

Adapun santri-santri yang telah menyelesaikan pendidikannya di Pondok Pesantren Dar El-Hikmah telah mencapai 4.600 santri yang telah menyebar keberbagai wilyah dinusantara bahkan ada keluar Negara Indonesia seperti di Mesir, Sudan, Madinah dan Malaysia.

STRUKTUR PENGURUS YAYASAN DAN PENGURUS PONDOK PESANTREN DAR EL HIKMAH
Berdasarkan Notaris perubahan Asman Yunus, SH Nomor : 33 Tanggal 31 Januari 2008.

Pengurus Yayasan Nur Iman Pekanbaru :
  • Pendiri dan Penasehat : Syeikh. H. Abdullah
  • Ketua Yayasan : Syeikh H. Abdullah
  • Ketua I : Drs. H. Syamsul Bahri, Ak
  • Ketua II : H. Amrasul, MT
  • Sekretaris : H. Usman
  • Bendahara : Maryati, SE, MM
  • Pengawas : Amran Suardi , SE

Pengurus Pondok Pesantren Dar El Hikmah :
  • Pimpinan Pondok Pesantren : Drs. H. Dahnilsyah
  • Sekretaris : Ndangk Kurnia, M.Sy
  • Bendahara : Nuryani, SE
  • Kabid. Pendidikan : Harun, S.Ag, S.Pd
  • Kabid. Keagamaan : Miftah Syarif, M.Ag
  • Kabid. Kesiawaan dan Asrama : Djefrin E. Hulawa, M.Ag
  • Kabid.  Minat dan Bakat : Rahmat Wahyudin, S.Ag
  • Kabid. Umum : Syafril, S.Sos
  • Kepala TK : Yesi Sasmita
  • Kepala SD : Yasmar, MPd
  • Kepala MTs : Firdaus, S.Ag
  • Kepala MA : Imat Hikmatullah, M.Sy
  • Kepala SMK : Amrullah, S.Ag
Pesantren Dar El Hikmah ini memiliki program unggulan yang mungkin berbeda dari pesantren lain yang ada di Pekanbaru Riau. Untuk lebih jelasnya silahkan anda kunjungi website resminya di http://www.pesantrendarelhikmah.sch.id dan cari tau tentang biaya dan lainnya.

Mungkin itu sekilas profil Pondok Pesantren Dar El Hikmah Pekanbaru - Riau dan semoga bermanfaat.
Lindra Sabana Hidayat

Mengalah Tidak Berarti Kalah: Belajar Dari Dua Ekor Kambing

Dikisahkan, ada dua ekor kambing bertemu satu sama lainnya dari arah yang berbeda di sebuah jalan yang sangat sempit. Begitu sempit jalan itu, sampai kedua dari kambing tidak bisa saling melalui jalannya. Hal itu karena di sebelah jalan yang sempit itu terdapat tebing yang tinggi dan di sebelah yang lain terdapat jurang yang sangat dalam. Kemudian salah satu dari kambing itu berinisiatif merendahkan lututnya sampai menyentuh tanah, dan kambing yang lainnya berjalan diatas badan kambing yang “melututkan kakinya” diatas tanah dan terus berjalan dijalannya dengan selamat, dan kambing yang “melututkan kakinya” berdiri dan kemudian berjalan dijalannya dengan selamat juga. Dan akhirnya kedua kambing itu berjalan dengan selamat dijalan masing-masing yang ditempuhnya.
Robby Andoyo

Taubat Yang Berulang-Ulang


Artikel hikmah ini bermula dari pertanyaan seseorang kepada seorang ulama
Pertanyaannya adalah bagaimana bila seorang hamba yang masih menuruti hawa nafsu 
kemudian mohon ampun dan bertaubat kepada Tuhan tapi tetap saja kembali maksiat?
Dan bagaimana pula kaitannya dengan pernyataan ampunan/rahmat Allah swt sangat luas
meliputi langit dan bumi?

Maka dijawablah pertanyaan itu secara analogetik:”bagaimana perasaan seorang ayah
apabila kedapatan anaknya mencuri uangnya lalu si anak berjanji tidak akan berbuat lagi
di hadapan ayahnya tapi di lain waktu si anak masih mengulangi perbuatannya
dan berjanji lagi tidak akan mengulanginya lagi?”meskipun si anak berbuat demikian,
tapi si Ayah tetap memberinya makan dan membelinya pakaiaan yang menjadi kebutuhan dasarnya.

Melalui jawaban ini pesan yang ingin disampaikan bahwa meskipun perasaan
si Ayah sangat kecewa terhadap anaknya karena anaknya memiliki prilaku buruk
dan telah membohonginya tapi si Ayah tetap menaruh perhatian
dan kasih sayang terhadap anaknya.

Demikian pula halnya Ibu, tidak sedikit anak yang telah menyakiti perasaan seorang Ibu
tapi ibu tetap saja menyayangi dan mengasihi anaknya.

Allah swt memang Maha Penyayang dan Maha Pengampun tapi Allah swt
tidak suka dengan sikap hambanya yang selalu mengingkari janjinya
dan tidak suka dengan perbuatan durhaka dan melampaui batas.

Disinilah letak pentingnya manusia sebagai hambanya untuk berupaya mencari keridhoanNya.
Keridhoan Allah swt itu bisa diperoleh dengan cara bersikap tunduk dan patuh
pada perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Bila Allah swt telah ridho kepada hambanya,
maka rahmat dan ampunan Allah swt akan mengalir deras atas kehidupannya.
Dan keberkatan akan bertambah dan mengalir dari segala penjuru.

Segala sesuatu yang terjadi atas kehidupan ini baik itu sesuatu yang buruk
(tidak menyenangkan) atau sesuatu yang baik (menyenangkan) tidak terlepas dari izin
(kehendak) Allah swt. Kalau sesuatu yang buruk (tidak menyenangkan)
atau sesuatu yang baik (menyenangkan) itu terjadi dalam kehidupan hamba
atas keridhoaan Allah swt itu, maka kedua-duanya mengandung makna kebajikan (positif).

Keadaan buruk (tidak menyenangkan) akan menyelamatkan hambanya
dan keadaan baik (menyenangkan) merupakan anugerah untuknya.
Sebaliknya kalau sesuatu yang buruk (tidak menyenangkan) atau sesuatu yang baik
(menyenangkan) itu terjadi dalam kehidupan hamba karena ketidak sukaan Allah swt terhadapnya,
maka kedua-duanya boleh jadi mengandung makna keburukan (negatif).
Keadaan buruk (tidak menyenangkan) bisa dimaknai sebagai sanksi atas hambanya
dan keadaan baik (menyenangkan) bisa jadi akan menyesatkannya.

Disinilah letak bedanya antara “izin” dan “ridho”. Allah swt melalui firmannya
telah menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini dibentangkan dua jalan;
ada jalan ketakwaan (kebaikan) dan adapula jalan keburukan (kefasikan)
dan Allah swt ingatkan juga konsekuensi yang akan diterima seorang hamba
sebagai akibat dari pilihannya. Ketika manusia memilih jalan keburukan (kefasikan)
yang dengannya boleh jadi ia memperoleh kesenangan-kesenangan duniawi

itu semua terjadi pada hekekatnya atas izin Allah swt tapi sebenarnya Allah swt tidak restu.
Sebaliknya ketika manusia memilih jalan ketakwaan (kebaikan) yang dengannya barangkali
ia mengalami kekurangan dari segi harta benda, maka sesunggunya ia menjadi mulia
karena Allah swt meridhoinya (merestuinya).

Satu hal yang perlu diingat bahwa ketika seseorang berbuat dosa (kesalahan)
lalu ia berusaha untuk bertaubat (kembali kepada Allah swt)
tapi Allah swt belum tahu mau kembali pula kepadanya.
Bukankah menurut satu riwayat Nabi Adam as bertaubat menangis selama 200 Tahun,
tidak makan dan minum 40 hari, dan tidak mendekati Hawa 100 Tahun,
sampai beliau thawaf di ka'bah dan Allah swt menerima taubatnya.
Dan taubatnya Nabi Adam as hanya dari satu kesalahan, yaitu memakan buah terlarang.

Karena itu jangan “bermain-main” dengan dosa dan maksiat dengan alasan Allah swt
Maha Pengampun dan Rahmat (kasih sayang) Allah swt sangat luas.
Allah swt memang mengampuni semua dosa jika hambanya mau bertaubat.
Tapi adakah jaminan bahwa Allah swt akan menerima taubat kita?.
Bukankah ada ayat yang menyatakan,” bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan
di antara kamu lantaran kejahilan (ketidak tahuan) kemudian ia bertaubat
setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-An’am: 54)

Artinya bagi yang ketat dalam memahami ayat di atas ia akan berpandangan bahwa dosa
yang diampuni oleh Allah swt hanyalah dosa yang dilakukan karena ketidaktahuannya.
Jikalau seseorang hamba sudah mengetahui suaatu perbuatan itu dosa tapi dilakukannya juga,
maka menurut pendapat kelompok ini dosanya tidak diampuni.

Wallahu a'lam

Amrizal Isa
Nuansa Islami
Artikel Inspiratif