• Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, (artinya) : ”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihi wassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

  • Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

  • Dalam konteks ini Al Qur'an dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma, al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber, kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.

  • Setiap orang pasti sering mendengar ungkapan “Don't judge a book by its cover” bahkan bisa dibilang ungkapan yang satu ini termasuk hal yang sangat populer di dunia barat di berbagai buku, ceramah, bahkan wikipedia. situs yang memuat data atas sesuatu dengan sangat ringkas dan akurat Menurut wikipedia kata-kata itu bermakna “don’t determine the worth of something based on its appearance” Kalo di Indonesiakan

ARTIKEL TERBARU

Rss

Selasa, 09 Juni 2015
Kenduri Arwah

Kenduri Arwah



Sekitar tiga bulan yang lalu, saya didatangi seorang laki-laki muda setelah sholat subuh di Mushalla.
Saya lihat raut wajahnya seperti dalam keadaan sedih dan risau. Saya berusaha menyapanya dan bertanya,”apo kabo wak?, ado yang bisa sayo bantu?.” Dengan suara rendah dan sedikit parau, laki-laki muda itu merespon,”begini wak, dalam tiga malam terakhir ini, sayo berturut-turut bermimpi ketemu dengan al-marhum bapak sayo.

Sayo lihat bapak sayo sepertinya dalam keadaan sedih dan meneteskan air mato sambil memanggil-manggil namo sayo. Keadaan inilah wak yang membuat sayo “tak tentu arah” dalam duo tigo hari ini. apo yang harus sayo lakukan wak?!” Waktu dulu tinggal di Meranti dengan Mak-Bapak, sayo ini termasuk “budak yang degil” tak mau mendengo cakap orang tuo. Bapak sayo dulu selalu menyuruh sayo sembahyang nak dan mengaji nak, tapi sayo tak ambik peduli, sayo asyik sajo bermain-main.

Meskipun mimpi laki-laki muda itu barangkali belum bisa dikategorikan sebagai Rukyat al-Shodieq, tapi Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Ruhnya menukilkan beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa ruh orang tua yang sudah meninggal dunia bisa bertemu dengan anaknya dalam keadaan bermimpi sewaktu tidur.
Ketika itu, saya berusaha menenangkan laki-laki muda itu dan menyarankannya agar berangkat ke Meranti untuk menziarahi kubur Bapaknya dan berdoa untuknya. Karena doa anak sebagaimana dinyatakan dalam satu hadit riwayat Muslim sangat bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

Selanjutnya saya menyarankan kepadanya untuk menyelenggarakan Kenduri Arwah seadanya, mengundang kerabat dekat, jiran dan tetangga datang ke rumahnya untuk bersedekah makanan dan membacakan tahlil dan doa untuk dihadiahkan kepada al-Marhum Bapaknya.

Pahala sedekah, membaca istighfar dan al-Quran yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia insyallah sampai kepadanya dan dapat diambil manfaat olehnya. Demikian pendapat ulama-ulama salaf. Bahkan Ibn Taimiyah sendiri menyatakan dalam kitab Yasaluunaka fid din wal hayat bahwa sesungguhnya mayyit itu dapat beroleh manfaat dengan bacaan al-Quran sebagaimana dia beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan yang seumpamanya.
Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Ruhnya bahwa sesungguhnya sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedekah, istighfar, berdoa dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayyit dengan sukarela tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya.

Laki-laki Muda itu rupanya mengikuti saran saya untuk pulang ke Meranti dan menziarahi kubur Bapaknya serta seminggu berikutnya ia menyelenggarakan kenduri arwah seadanya dan mengundang saya ke rumahnya.

Dua hari berikutnya, saya bertanya kepadanya, apakah ia masih bermimpi ketemu Bapaknya lagi. Ia menjawab,”alhamdulillah wak tak ado mimpi lagi do.”

Mendoakan orang yang sudah meninggal dunia (terutama sekali kedua orang tua) dan berziarah ke kuburnya termasuk adab (etika) yang dianjurkan dalam Islam. Q.S. Surat al-Hasyr ayat 10 menyatakan,”dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata,” wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman. (maksudnya orang-orang beriman yang telah meninggal dunia).

Bahkan dalam Hadits riwayat Abu Daud dari Utsman bin Affan dikemukakan,” Nabi Muhammad, apabila telah selesai menguburkan mayyit, maka beliau berdiri di atas perkuburan dan berkata,”mintalah ampunan untuk saudaramu dan mohonlah kepada Allah agar dia diberikan kemantapan karena sesungguhnya dia sekarang ini sedang ditanya. Wallah A’lam

Amrizal Isa
Sabtu, 06 Juni 2015
Kisah Pak Aseng

Kisah Pak Aseng








Pak Aseng beragama Kong Hu Cu, agama leluhur Cina yang baru diakui negara pada zaman presiden Gus Dur. Saya sangat senang dengan keinginannya masuk Islam. Karena, Nabi saw. telah menjanjikan surga untuk yang mengislamkan. Dayung sudah di tangan, perahu sudah di air, begitulah gambaran suasana hati waktu itu. Hanya tinggal bersyahadat, sampailah ke tujuan.

Saya tidak sabar untuk segera mensyahadatkan. "Kalau memang jodoh, datang sendiri, tidak perlu bersusah-susah mencari," gumam hatiku, sambil tersenyum, sendiri. Seandainya di ruangan itu ada cermin, mungkin saya langsung menghadap cermin, meloncat dan beringkrak-jingkrak.
Tetapi, harapan tinggal harapan. Kenyataan tidak terwujud. Aseng menarik tangannya ketika tanganku terhulur untuk berjabatan tangan mensyahadatkan.

"Belum sekarang, pak," elaknya. Saya sangat kecewa. Hati pun hancur bercampur malu. Bagai kaca terhempas ke batu, berkecai.
Saya segera tersadar, ternyata keinginannya masuk Islam tidak sepenuh hati. Kesedihan saya yang seketika itu, disambut Aseng dengan tangisan, terisak. Saya berbalik jadi serba salah dan merasa berdosa, telah memaksa orang Cina menjadi muslim. Pasti Allah juga marah, karena Dia telah mengingatkan bahwa, "tidak ada paksaan dalam beragama". "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku".

"Ya Allah, saya salah. Sekarang saya sadar bahwa, hanya kesadaran individual, tanpa paksaan yang dibenarkan konversi, pindah agama. Ampunkanlah saya, ya Allah," bisikku dari dalam lubuk hati yang paling dalam, berharap Tuhan memaafkan. Saat itu, Tuhan kurasakan ada di sana, di lubuk hati.

Aseng, Cina yang berpakaian compang camping, dan berambut kusut masai itu, kubiarkan menikmati tangisannya. Semoga tangisan itu mengurangi beban perasaan. Itulah yang saya harapkan. Karena menangis itu sulit, tidak semudah tertawa. Sampai-sampai Nabi menyuruh umatnya agar pura-pura menangis, tabakki. Dan tinjauan psikologi juga membuktikan, bahwa menangis bisa melunakkan hati yang keras, melembutkan sikap yang kasar dan menjadikan manusia lebih tawdlu', merendahkan diri di hadapan manusia, juga Allah.

Saya ikut terhipnotis dengan tangisannya, air mata tidak terbendung, meleleh ke pipi. Agar tidak semakin larut, kuambil tisu dan kusesap air mataku. Lalu kutinggalkan ruangan, untuk menenteramkan suasana hatiku sendiri. Aseng yang hanya beralaskan kaki, sandal jepit beda warna itu, kubiarkan sendiri.

Ruangan kerja itu, lebih pantas disebut gudang. Saya hanya sendirian di ruangan. Sebenarnya ada tempat yang lebih baik, hanya saja, akhir-akhir ini, saya lebih senang sendirian, menghindar dari segala hiruk pikuk dan kebisingan. Saya nyaman bekerja di gudang itu. Dan di tempat itulah, Cina tua yang sudah berusia kira-kira 70 tahun itu menangis.

Setelah suara isak tangis tidak terdengar lagi, saya masuk kembali, dan mencoba untuk meneteralkan keadaan.
"Ma'af, jika pak Aseng tersinggung atas sikap saya. Saya bersalah. Sesungguhnya, Islam tidak boleh memaksa. Bahkan Islam berkewajiban melindungi agama dan kepercayaan siapapun. Dalam kondisi perang sekalipun, orang Islam wajib memberi perlindungan kepada agama dan kepercayaan orang lain, tanpa terkecuali. Dalam teori hukum Islam, menjaga agama adalah prinsip pertama dari lima prinsip yang tidak boleh diabaikan, termasuk agama pak Aseng," kataku menjelaskan agak panjang, untuk menutupi kesalahan diri sendiri, yang terkesan memaksa sebelumnya.

"Saya orang susah, Pak. Mahu makan juga susah. Sekarang saya sakit dan sedang berobat di Puskesmas. Sambil menunggu giliran, saya jalan ke sini, jumpa Bapak," kata Aseng, memberi alasan untuk saya mengerti: penderitaan.

Sayapun berfikir, mencarikan jalan keluar, agar Cina tua yang sudah tidak berdaya di hadapan saya sekarang, bisa hidup layak: cukup pangan, sandang, papan, dan jika sedang sakit dapat berobat gratis.
"Kami orang Cina tidak dapat beras dan uang dari pemerintah. Syarat untuk mendapatkan, harus beragama Islam," katanya melanjutkan, di saat saya sedang berfikir untuk mencari jalan, agar dia bisa dibantu.
Keluhannya segera saya tanggapi: "Dalam ajaran Islam, tidak benar seperti itu." Dan saya informasikan juga, bahwa Nabi Muhammad saw. dan isterinya, Sufiyah, memberikan sebagian hartanya kepada saudara-saudarnya yang beragama Yahudi. Bahkan pemberian itu mencapai 3000 (tiga ribu) dirham.
Aseng mengangguk, isyarat bahwa dia memahami. Dan tetap diam. Saya pun memberi pemahaman lebih lanjut.

"Khalifah ke-2, Umar bin Khattab juga membagikan dana zakat kepada non muslim. Dalam kitab futuhul buldan dijelaskan, ketika Umar melewati Kota Jabiyah di Syam, yang dihuni oleh orang-orang Nasrani, dia memerintahkan untuk memberikan Zakat/Shadaqah," kataku dengan suara ditekan, agar dia mendengar dan mengerti, serta tidak menyalahkan Islam.

Seketika itu juga, saya teringat Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) yang bersebelahan kantor. Saya harus melaporkan ke sana dan meyakinkan pengurusnya, agar memberi bantuan. Sebagai alat bukti, saya akan ambil gambarnya.

Langsung saya ambil dan keluarkan hp kamera, yang juga sudah tua dari kantong celana. Di luar perkiraan, Aseng segera meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa, ketika melihat saya mengambil kamera, dan berlari menjauh, meninggalkan ruangan. Saya memanggilnya, tetap saja dia tidak mahu berpaling lagi, ketakutan.

Saya sangat menyesal, tidak bisa memberi pertolongan dengan cara saya. Menyesal, tidak dapat mengurangi penderitaan Cina miskin yang sudah sangat tua, yang menangis, karena tekanan ekonomi, dan bersedih, karena didiskriminasi.
==============

Aseng tidak sendirian. Ahok yang di Sebauk, Bengkalis juga mengalami nasib serupa. Dan masih banyak Aseng-Aseng yang lain, di tempat berbeda dan Ahok-ahok yang berbeda, di tempat yang lain.
Perlakuan diskriminatif terhadap yang lain, yang berbeda agama adalah fenomena ekonomi, sosial dan politik yang jamak di negeri ini. Saya menceritakan Aseng, karena ia bertempat tinggal di tengah kota, ibukota kabupaten dengan APBD terbesar di Indonesia. Dengan harapan bisa menjadi cermin besar untuk kita semua, untuk bijak dalam berbagi dan mahu mengerti hati.



Masdarudin Ahmad 

Valentine's Day

Valentine's Day



Sejak beberapa tahun yang lalu, sampailah sekarang,
selalu ada yang bertanya: Apa hukumnya memperingati Valentine's Day, pada tanggal 14 Februari?
Jujur. Saya tidak pernah tahu persis, apa itu Valentine's Day. Yang saya tahu, tanggal 14 Februari adalah hari special buat kami. Saya dan isteri akan tetap mengingati. Karena itulah hari pernikahan kami. Hari pertama kali saling memberi. Meskipun tidak hanya di tanggal ini, kami berdua saling mengingati. Namun tanggal 14 Februari, tetap memiliki cita rasa yang berbeda. Karena ada peristiwa yang tidak mungkin dilupa, sekali dan untuk selamanya.

Hari ini, anak-anak sudah menginjak remaja, juga bertanya tentang hal yang sama. Maka, kepada mereka, saya menjawab dengan memberi pertanyaan juga. "Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan adalah ciri orang cerdas," kata si Yahudi, Eran Kazt. Saya hanya sekedar meniru orang cerdas, semoga anak saya juga begitu.

Beginilah jawaban saya:
"Seandainya pada tanggal 14 Februari, teman-teman berpakaian serba pink, berkumpul di tepi pantai. Tidak lupa pula membawa coklat untuk berbagi dengan teman-teman. Kemudian mereka berdiskusi tentang Yaumul Marhamah (hari kasih sayang). Yaitu, hari ketika Nabi Muhammad menaklukkan kota Mekah. Boleh 'kah?"

Anak saya yang sudah remaja hanya tersenyum mendengar jawaban saya, yang membalik kepada diri sendiri, dalam bentuk tanya. Kemudian saya melanjutkan jawaban dalam bentuk tanya lain, yang bersifat perbandingan.

"Seandainya juga, pada malam jum'at di bulan Ramadlan, teman-teman berpakaian serba putih, pergi ke mesjid, dan membawa bon bon untuk berbagi dengan seorang teman. Ia berhenti di sudut mesjid yang sepi. Kemudian keduanya berkencan di sana, boleh 'kah?
Setelah diberi pertanyaan pembanding, seketika itu juga ia menjawab dengan penuh keyakinan dan percaya diri. "Yang pertama boleh, sedang yang kedua dilarang."

"Mengapa begitu?"
"Kelompok yang pertama melakukan sesuatu yang baik, walaupun bertempat di pantai dan pada hari Valentine. Sedangkan kelompok kedua, melakukan sesuatu yang salah meskipun di mesjid dan pada hari jum'at bulan ramadlan." Jawabnya dengan membuat kesimpulan yang cerdas, sesuai dengan yang saya harapkan.

"Begitulah, semestinya berfikir dan menyimpulkan. Hari, warna, atau benda apapun, hanyalah simbol atau penanda dari suatu peristiwa. Bisa juga di simbol itu terselip nilai dan norma," saya memberi sedikit penjelasan yang mungkin tidak dapat dipahaminya.

Tetapi setidaknya dia sudah mendengar. Seiring waktu berjalan, akan dipahami sendiri maksudnya, nanti. Untuk sekarang biarlah dia berfikir dengan caranya, asal tidak menghakimi yang berbeda atau menyalahkan yang tidak disukai. Tidak mengapa. Itu sudah cukup.
"Ya. Saya ingat. Kemarin di pelajaran Sosiologi dan Antropologi, ada diterangkan tentang simbol dan nilai budaya. Tetapi sudah lupa," ia merespon penjelasan dengan menghubungkan kepada ingatan akan pelajaran tentang budaya di sekolah, di SMU.

"Kalau hanya dengan mendengar orang bisa senantiasa ingat, maka tidak ada orang bodoh di muka bumi ini," saya menimpali. Kemudian saya minta untuk membaca kembali materi budaya dalam pelajaran Sosiologi dan Antropologi.

"Simbol itu ibarat casing atau hardware dalam komputer. Sedangkan nilai dan norma adalah program atau software yang ada di dalamnya," kataku menjelaskan, agar tidak membuatnya lebih bingung.
"Berarti sesuatu yang dapat diindra: dilihat, didengar dan disentuh, termasuk simbol," katanya, mulai paham.
"Kalau nilai dan norma?" Kulanjutkan bertanya.
"Yang nonfisik, seperti program windows," jawabnya, ternyata ia paham.

"Yang penting dan menentukan itu program, bukan casing." Saya menjelaskan sebagai tambahan.
"Program bisa ditukar ganti, walaupun casingnya sama. Laptop kamu, dulu menggunakan windows 2000, sekarang sudah ditukar dengan program MacOS."

Diskusi ringan dengan anak pun berakhir. Saya menyuruhnya membaca kembali buku-buku tentang teori budaya. Tidak pun tidak mengapa, karena pelajaran Sosiologi dan Antropologi sudah membahas tentang itu. Untuk anak seumur dia, dapat memahami teori budaya yang sangat dasar seperti itu, sudah bagus. Sudah lebih dari cukup.

Setelah dia beredar, saya berfikir: orang-orang dewasa saja masih banyak yang belum mampu membedakan antara nilai budaya dan simbol budaya. Padahal dalam ilmu budaya, sistem simbol itu masih dibagi lagi menjadi artifact (karya, benda) dan sosialfact (aktifitas, perbuatan). Begitupun dengan nilai dan norma masih bisa dibagi lagi. Begitulah kenyataannya.

Umat Islam hari ini, lebih cenderung membicarakan simbol, bukan nilai. Simbolpun direduksi, menjadi sebatas benda fisik. Seperti banyak orang yang mendiskusikan tentang Valentine's Day. Mereka mendiskusikan tentang 14 Februari, warna pink dan coklat. Kemudian dibumbui sosialfact, yaitu perilaku bebas mengungkapkan kasih sayang dengan sex.
Padahal, yang disebut terakhir, tetap dilarang dalam budaya dan peradaban manapun. Sex bebas, kapan dan dimanapun tetap berdosa.

Tidak bisa dinafikan memang, sex bebas memiliki kaitan dengan Valentine's Day. Tetapi lebih banyak yang melakukannya di luar hari Valentine, karena hari Valentine hanya sehari dalam setahun. Tetapi kebebasan mengekspresikan sex berlangsung setiap saat. Setidaknya begitulah yang terbaca dalam berita.
Di sisi lain, signifikansi pengharaman Valentine's Day dengan perayaan yang tetap berlangsung, tidak berkorelasi. Artinya, difatwa haram sekalipun, orang-orang muslim tetap merayakannya juga. Lembaga keagamaan kalah dengan kekuatan bisnis dan media. Bahkan agama sendiri sudah dijadikan komoditas bisnis oleh media.

Saya teringat delapan tahun yang lalu, pejabat di negeri ini marah, karena pernyataan saya di sebuah koran lokal. Saya dianggap mendukung perayaan Valentine's Day. Sahabat yang membaca tulisan saya juga akan menilai hal yang sama, mungkin.
Atas tuduhan dan penilaian, karena didasari ketidakpahaman terhadap saya, atau mungkin ada hal lain, bagi saya itu biasa. Sudah sering, soalnya.
Saya ingin, masyarakat muslim dapat menyikapi fenomena apapun dengan cerdas, termasuk Valentine's Day ini. Tidak ada gunanya kita menghabiskan energi dengan mewacanakan fatwa haram dan mensosialisasikan fatwa itu.

Tanpa ada fatwa, semua juga tahu bahwa, sex bebas adalah perilaku terlarang dalam agama. Tetapi kenyataannya aktifitas sex bebas jalan terus. Bahkan tidak menunggu hari valentine.
Sikap cerdas yang saya inginkan adalah mengadopsi simbolnya dengan cara merusak nilai yang ada di dalamnya. Di puing-puing kehancuran nilai lama, kita isi dan bentuk nilai-nilai baru yang islami, yang selaras dengan adat istiadat dan budaya kita. Dengan kreatifitas yang demikian, Valentine's Day menjadi lebih bermakna dan berdampak positip bagi masyarakat, khususnya remaja.

Umpamanya, setiap tanggal 14 Februari, kita mengadakan pesta budaya yang meriah. Biarkan mereka memakai pakaian seba pink dan mengunyah coklat, tetapi aktifitas yang berlangsung tetap positif. Banyak aktifitas dapat diselenggarakan: Festifal membaca syair, bermain kompang, fashion show, main zapin, memasak sempolit, berdiskusi dan masih banyak lagi.

Aktifitas paling sederhana dan pernah saya lakukan, untuk mengisi malam hari valentine dengan adik-adik remaja adalah membaca yassin dan dilanjutkan dengan diskusi. Pernah juga main kompang di rumah salah seorang warga. Bisa dan mudah.

Mengisi hari valentine dengan aktifitas itulah yang jauh lebih penting, agar adik-adik remaja tidak terbawa arus yang merugikan diri sendiri. Bukan hanya disibukkan menghakimi hari tu dengan fatwa haram. Tetapi ruang waktu remaja kita dibiarkan kosong, sehingga mereka melakukan aktifitas seperti yang dilihat, didengar dan dibaca di media.

Lembaga pendidikan dapat memainkan peran yang signifikan. Siswa dan mahasiswa dapat dikondisikan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dan bermartabat. Adik dan anak remaja kita membutuhkan ruang untuk beraktifitas mengembangkan diri. Tetapi dia masih rentan dan tidak mampu menentukan sendiri. Kita lah, orang dewasa yang harus mengarahkan dengan menciptakan ruang itu.

Yuk.
Selamat hari kasih sayang dari saya untuk yang tercinta dan untuk semua...


Masdarudin Ahmad

TOP