• Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, (artinya) : ”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihi wassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

  • Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

  • Dalam konteks ini Al Qur'an dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma, al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber, kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.

  • Setiap orang pasti sering mendengar ungkapan “Don't judge a book by its cover” bahkan bisa dibilang ungkapan yang satu ini termasuk hal yang sangat populer di dunia barat di berbagai buku, ceramah, bahkan wikipedia. situs yang memuat data atas sesuatu dengan sangat ringkas dan akurat Menurut wikipedia kata-kata itu bermakna “don’t determine the worth of something based on its appearance” Kalo di Indonesiakan

ARTIKEL TERBARU

Rss

7/22/2016
Mengungah Foto di Media Sosial

Mengungah Foto di Media Sosial



Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Palu, Sulawesi Tengah, melarang keras kaum Muslim perempuan yang sudah berstatus istri memajang foto-fotonya di media sosial (medsos). karena dinilai dapat berdampak negatif kepada diri sendiri dan keluarga. para ulama berpendapat memamerkan wajah bagi perempuan Muslim yang telah menikah dapat menimbulkan ketersinggungan suami yang kemungkinan berujung pada keretakan hubungan baik rumah tangga. Sebab ketika gambar wajah serta sebagian tubuh wanita terpajang di medsos, maka hal itu menarik perhatian para lelaki dengan berbagai komentar. Kemudian MUI Kota Palu menambahkan kecantikan perempuan hanya untuk suaminya, bukan untuk orang lain. Oleh karena itu, perempuan berdandan, bergaya, hanya untuk suaminya agar hubungan keluarga lebih membaik, bukan untuk memamerkan kepada orang banyak.

Fatwa MUI Palu ini mengundah berbagai respon netizen; ada yang setuju dan ada yang kontra. Bagi yang setuju menilai fatwa itu sudah tepat tapi bagi yang kontra menganggap fatwa itu dapat membatasi hak-hak kaum perempuan dalam berekspresi.
Terlepas adanya sikap pro dan kotra terhadap ijtihad MUI Palu tersebut yang harus dipahami bahwa fatwa MUI bersifat mengikat secara internal lebih spesifik lagi berlaku bagi orang (sekelompok orang) yang meminta fatwa tersebut. karena itu tidak perlulah terlalu reaksioner dan berelebih-lebihan dalam menyikapi fatwa itu. Para ulama di kota Palu diminta pendapat mengenai permasalahan yang diajukan kepadanya lalu kemudian mereka mengeluarkan fatwa (pendapat hukum) mengenai permasalahan tersebut. seperti itulah mekanisme munculnya fatwa MUI.

Hukum asal memajang foto diri adalah mubah (boleh) karena foto berbeda statusnya dengan patung. Karena foto pada hakekatnya tangkapan cahaya terhadap sesuatu objek lalau menghasilkan bentuk diri (sosok). Akan tetapi ketika foto tersebut menampilkan sosok yang membuka aurat (baik laki-laki maupun perempuan), maka status hukumnya menjadi haram bukan karena fotonya tapi karena menampilkan auratnya. Sebab menurut ketentuan syariat, seorang muslim wajib hukumnya berpakaian menutup aurat.

Bagaimana halnya ketika seorang isteri mengunggah fotonya yang membuka aurat di media sosial, tentu saja perbuatan itu menyalahi ketentuan syariat dengan alasan sebagaimana disebutkan sebelumnya. Tapi ketika seorang isteri mengupload foto yang berpenampilan menutup aurat, tentu saja sesuai dengan hukum asalnya boleh-boleh saja. akan tetapi kalau pengunggahan foto itu dimaksudkan untuk mengundang decak kagum para netizen laki-laki akan kecantikannya sehingga terjalin komunikasi intens di dunia maya dengan mereka di media sosial.
Tentu saja, dalam batas-batas tertentu, hal itu berpotensi mengganggu hubungan suami isteri yang bisa jadi berujung pada keretakan rumah tangga. Sudah banyak kasus keretakan rumah tangga terjadi dipicu karena media sosial yang dimanfaatkan sebagai sarana untuk berselingkuh oleh pasangan suami isteri.

Atas dasar pikiran inilah barangkali MUI Palu mengeluarkan fatwa itu agar kaum muslimin lebih bersikap hati-hati. Lebih baik menghindari hal-hal yang berpotensi mendatangkan kemudharatan (Syad al-Dzariah). Karena prinsip syariat Islam pada hakekatnya ingin menjaga diri dan kehormatan kaum muslimin dari perkara-perkara yang akan berpotensi mendatangkan kerusakan atau kerugian bagi mereka. Wallah A’lam***

Oleh: Amrizal Isa
Al-Quran dan Pakaian Perempuan

Al-Quran dan Pakaian Perempuan





 Pada suatu hari saya membaca al-Quran Surat al-Nur: 31: “Katakanlah kepada perempuan beriman: "hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau perempaun-perempuan Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.”

Selanjutnya pada ayat ke-60 dinyatakan: “dan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), Tiadalah atas mereka dosa menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan Berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Bijaksana.”

Setelah membaca kedua ayat tersebut, secara spontan terlintas pertanyaan sedikit “nakal” dalam pikiran saya kenapa Tuhan sampai mengatur tentang bagaimana seharusnya seorang perempuan (isteri) berpakaian dalam kitab suci. Padahal bukankah pakaian sesuatu yang bersifat sangat personal (privasi) dan merupakan hal yang biasa (lazim) dan sederhana. Tidak perlu rasanya diatur secara spesifik dalam al-Quran. Akan tetapi setelah merenung lebih jauh, saya menemukan jawaban bahwa persoalan pakaian khususnya bagi perempuan ini rupanya merupakan sesuatu yang sangat penting karena menyangkut “kehormatan” dan “jaminan keamanan” untuk mereka.

Allah swt melalui firman-Nya ingin agar kaum perempuan itu senantiasa berada pada posisi terhormat (dimuliakan) dan terpelihara dari gangguan laki-laki yang “nakal” dan berniat buruk terhadap mereka.

Perempuan adalah makhluk Tuhan yang paling indah dan menawan. Yang keberadaannya selalu mengundang perhatian dan decak kagum kaum laki-laki. Setiap laki-laki normal sudah tentu senang memandang kaum perempuan. Pada dasarnya kesenangan terhadap perempuan ini adalah fitrah manusia (Q.S.Ali Imran: 14). Akan tetapi bagaimana ekpresi kesenangan kaum laki-laki dalam memandang (bersikap terhadap) kaum perempuan itu berbeda-beda tingkatannya. Ada yang sekedar menikmatinya saja, adapula yang memandangnya penuh syahwat sehingga selalu terbayang-bayang dalam pikirannya, dan adapula yang sampai punya niat buruk terhadapnya.

Oleh karena itu, Allah swt Yang Maha Tahu akan watak manusia dengan segala kelemahannya, berusaha memberikan tuntunan tentang bagaimana seharusnya kaum perempuan itu berpakaian dengan cara tidak menampakkan perhiasaan yang ada padanya baik perhiasan yang melekat pada tubuhnya (berupa bentuk atau lekuk tubuhnya) maupun perhiasan yang dipakainya. Dan menutup kerudung hingga ke dadanya. Tentu saja kepada “laki-laki asing dewasa” yang bukan suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Karena orang-orang yang disebutkan sebagai pengecualian sebelumnya tentu saja tidak memiliki “pikiran kotor” dan niat buruk terhadapnya.

Beda halnya dengan perempuan-perempuan tua yang telah terhenti (dari haid dan mengandung) yang tiada ingin kawin (lagi), diberikan keringanan atas mereka untuk menanggalkan pakaian mereka dengan tidak (bermaksud) menampakkan perhiasan, dan tetap berlaku sopan. Keringanan ini diberikan karena memang bagi kaum laki-laki memandang perempuan-perempuan tua jauh berbeda perasaan mereka dengan memandang perempuan-perempuan muda atau yang masih gadis.

Dengan demikian, etika berpakaian bagi kaum perempuan sebagaimana disebutkan dalam ayat-ayat sebelumnya, tidaklah mengandung maksud mengekang kebebasan kaum perempuan untuk berekspresi tapi lebih kepada upaya pemeliharaan agar mereka tetap terhormat (dimuliakan) dan terhindar dari niat buruk kaum laki-laki “yang nakal” dan para hidung belang (pemangsa kaum perempuan). Wallah A’lam***

Amrizal Isa
Dosen di STAIN BENGKALI

Pemimpin; antara Keadilan & Kezaliman

Pemimpin; antara Keadilan & Kezaliman





 Berbicara tentang pemimpin dalam menjalankan praktek kepemimpinannya baik di perguruan tinggi, pemerintahan, perusahaan, atau di lembaga-lembaga lainnya selalu dihubungkaitkan dengan sikap keadilan dan kezaliman. Keadilan dan kezaliman itu berhubungan dengan cara seorang pemimpin memperlakukan orang-orang yang berada di bawah kepemimpinannya.

Bila seorang pemimpin itu memperlakukan para bawahannya dengan baik, mendudukkan sesuatu (seseorang) itu pada tempatnya, menghargai staff sesuai kinerja dan prestasinya, tidak pilih kasih, tidak bersikap diskriminatif dan mengedepankan prinsip transparansi dan profesionalitas dalam kepemimpinannya, berarti ia sudah berbuat adil. Sebaliknya bila seorang pemimpin itu memperlakukan bawahannya secara tidak baik, tidak mendudukan sesuatu (seseorang) pada tempatnya, tidak pandai menghargai staffnya yang berprestasi, bersikap pilih kasih (like and dislike) dan diskriminatif, kurang transparan dan tidak profesional, suka menahan hak-hak bawahan yang harus diterimanya, berarti ia sudah berbuat zalim.

Pemimpin yang adil atau zalim sangat berkaitan dengan integritas dan kepribadian seseorang. Ianya belum tentu ada kaitannya dengan tingkat pendidikan seseorang. Tidak ada jaminan, pemimpin yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi lalu dengan serta merta memiliki integritas dan kepribadian yang baik. buktinya sudah banyak orang yang berpendidikan tinggi di negara kita ini, pada saat diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin tidak mampu menjadi qudwah (teladan yang baik). sebaliknya orang-orang biasa yang dengan pendidikan rendah malahan mampu menunjukkan suatu kepemimpinan yang baik dan berprestasi.

Bersikap adil dalam menjalankan kepemimpinan ini sangat ditekankan oleh ajaran agama. Bahkan menurut al-quran keadilan itu tidak hanya diberikan kepada orang-orang yang disukai tapi juga kepada orang-orang yang dibenci.

“Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan’ (Q.S. Al-Maidah: 8)-

Pemimpin yang adil nanti di hari kiamat akan mendapat perlindungan dari Allah swt “Abu hurairah r.a: berkata: bersabda nabi saw: ada tujuh macam orang yang bakal bernaung di bawah naungan allah, pada hati tiada naungan kecuali naungan allah: salah satunya adalah pemimpin yang adil (H.R. Bukhari Muslim).

Riwayat yang lain Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya orang-orang yang berlaku adil, kelak disisi allah ditempatkan diatas mimbar dari cahaya, ialah mereka yang adil dalam hokum terhadap keluarga dan apa saja yang diserahkan (dikuasakan) kepada mereka. (H.R.Muslim).

Hal senada juga dinyatakan dalam satu riwayat Rasulullah saw bersabda: orang-orang ahli surga ada tiga macam: raja yang adil, mendapat taufiq hidayat ( dari allah). Dan orang belas kasih lunak hati pada sanak kerabat dan orang muslim. Dan orang miskin berkeluarga yang tetap menjaga kesopanan dan kehormatan diri. (H.R. Muslim).

Sebaliknya para pemimpin yang zalim (berbuat aniaya) akan menjadi sumber malapetaka baik bagi dirinya maupun bagi yang lainnya baik di dunia maupun di akhirat:

Rasulullah saw bersabda: sesungguhnya sejahat-jahat pemerintah yaitu yang kejam (otoriter), maka janganlah kau tergolong daripada mereka. (HR. Bukhar dan Muslim)

Dalam riwayat yang lain Rasulullah saw bersabda: siapa yang diserahi oleh allah mengatur kepentingan kaum muslimin, yang kemudian ia sembunyi dari hajat kepentingan mereka, maka allah akan menolak hajat kepentingan dan kebutuhannya pada hari qiyamat. Maka kemudian muawiyah mengangkat seorang untuk melayani segala hajat kebutuhan orang-orang (rakyat). (H.R. Abu Dawud & Tirmidzy)

Rasulullah saw bersabda: tidak akan masuk surga orang yang suka menipu, orang yang bakhil, orang yang suka mengungkit-ungkit kebaikan/pemberian, dan pemimpin yang buruk. Orang yang pertama kali masuk surga adalah budak yang taat kepada allah dan taat kepada majikannya. (H..R.Turmudzi)

Rasulullah saw bersabda: tiada seorang yang diamanati oleh allah memimpin rakyat kemudian ketika ia mati ia masih menipu rakyatnya, melainkan pasti Allah mengharamkan baginya surga. (H.R. Bukhari dan Muslim)

Umar bin ‘Abdul-Aziz rahimahullah berkata,”Masyarakat umum bisa binasa karena ulah orang-orang (kalangan) khusus (para pemimpin). Sementara kalangan khusus tidaklah binasa karena ulah masyarakat. Kalangan khusus itu adalah para pemimpin. Berkaitan dengan makna inilah Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zhalim saja di antara kamu” [Q.S. Al-Anfâl:25]. Al-Walid bin Hisyam berkata,”Sesungguhnya rakyat akan rusak karena rusaknya pemimpin, dan akan menjadi baik karena baiknya pemimpin. Wallah A’lam***

Amrizal Isa
Dosen di STAIN BENGKALIS


TOP