• Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, (artinya) : ”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihi wassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

  • Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

  • Dalam konteks ini Al Qur'an dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma, al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber, kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.

  • Setiap orang pasti sering mendengar ungkapan “Don't judge a book by its cover” bahkan bisa dibilang ungkapan yang satu ini termasuk hal yang sangat populer di dunia barat di berbagai buku, ceramah, bahkan wikipedia. situs yang memuat data atas sesuatu dengan sangat ringkas dan akurat Menurut wikipedia kata-kata itu bermakna “don’t determine the worth of something based on its appearance” Kalo di Indonesiakan

ARTIKEL TERBARU

Rss

8/22/2016
Taubat Yang Berulang-Ulang

Taubat Yang Berulang-Ulang


Artikel hikmah ini bermula dari pertanyaan seseorang kepada seorang ulama
Pertanyaannya adalah bagaimana bila seorang hamba yang masih menuruti hawa nafsu 
kemudian mohon ampun dan bertaubat kepada Tuhan tapi tetap saja kembali maksiat?
Dan bagaimana pula kaitannya dengan pernyataan ampunan/rahmat Allah swt sangat luas
meliputi langit dan bumi?

Maka dijawablah pertanyaan itu secara analogetik:”bagaimana perasaan seorang ayah
apabila kedapatan anaknya mencuri uangnya lalu si anak berjanji tidak akan berbuat lagi
di hadapan ayahnya tapi di lain waktu si anak masih mengulangi perbuatannya
dan berjanji lagi tidak akan mengulanginya lagi?”meskipun si anak berbuat demikian,
tapi si Ayah tetap memberinya makan dan membelinya pakaiaan yang menjadi kebutuhan dasarnya.

Melalui jawaban ini pesan yang ingin disampaikan bahwa meskipun perasaan
si Ayah sangat kecewa terhadap anaknya karena anaknya memiliki prilaku buruk
dan telah membohonginya tapi si Ayah tetap menaruh perhatian
dan kasih sayang terhadap anaknya.

Demikian pula halnya Ibu, tidak sedikit anak yang telah menyakiti perasaan seorang Ibu
tapi ibu tetap saja menyayangi dan mengasihi anaknya.

Allah swt memang Maha Penyayang dan Maha Pengampun tapi Allah swt
tidak suka dengan sikap hambanya yang selalu mengingkari janjinya
dan tidak suka dengan perbuatan durhaka dan melampaui batas.

Disinilah letak pentingnya manusia sebagai hambanya untuk berupaya mencari keridhoanNya.
Keridhoan Allah swt itu bisa diperoleh dengan cara bersikap tunduk dan patuh
pada perintahnya dan menjauhi segala larangannya. Bila Allah swt telah ridho kepada hambanya,
maka rahmat dan ampunan Allah swt akan mengalir deras atas kehidupannya.
Dan keberkatan akan bertambah dan mengalir dari segala penjuru.

Segala sesuatu yang terjadi atas kehidupan ini baik itu sesuatu yang buruk
(tidak menyenangkan) atau sesuatu yang baik (menyenangkan) tidak terlepas dari izin
(kehendak) Allah swt. Kalau sesuatu yang buruk (tidak menyenangkan)
atau sesuatu yang baik (menyenangkan) itu terjadi dalam kehidupan hamba
atas keridhoaan Allah swt itu, maka kedua-duanya mengandung makna kebajikan (positif).

Keadaan buruk (tidak menyenangkan) akan menyelamatkan hambanya
dan keadaan baik (menyenangkan) merupakan anugerah untuknya.
Sebaliknya kalau sesuatu yang buruk (tidak menyenangkan) atau sesuatu yang baik
(menyenangkan) itu terjadi dalam kehidupan hamba karena ketidak sukaan Allah swt terhadapnya,
maka kedua-duanya boleh jadi mengandung makna keburukan (negatif).
Keadaan buruk (tidak menyenangkan) bisa dimaknai sebagai sanksi atas hambanya
dan keadaan baik (menyenangkan) bisa jadi akan menyesatkannya.

Disinilah letak bedanya antara “izin” dan “ridho”. Allah swt melalui firmannya
telah menjelaskan bahwa dalam kehidupan ini dibentangkan dua jalan;
ada jalan ketakwaan (kebaikan) dan adapula jalan keburukan (kefasikan)
dan Allah swt ingatkan juga konsekuensi yang akan diterima seorang hamba
sebagai akibat dari pilihannya. Ketika manusia memilih jalan keburukan (kefasikan)
yang dengannya boleh jadi ia memperoleh kesenangan-kesenangan duniawi

itu semua terjadi pada hekekatnya atas izin Allah swt tapi sebenarnya Allah swt tidak restu.
Sebaliknya ketika manusia memilih jalan ketakwaan (kebaikan) yang dengannya barangkali
ia mengalami kekurangan dari segi harta benda, maka sesunggunya ia menjadi mulia
karena Allah swt meridhoinya (merestuinya).

Satu hal yang perlu diingat bahwa ketika seseorang berbuat dosa (kesalahan)
lalu ia berusaha untuk bertaubat (kembali kepada Allah swt)
tapi Allah swt belum tahu mau kembali pula kepadanya.
Bukankah menurut satu riwayat Nabi Adam as bertaubat menangis selama 200 Tahun,
tidak makan dan minum 40 hari, dan tidak mendekati Hawa 100 Tahun,
sampai beliau thawaf di ka'bah dan Allah swt menerima taubatnya.
Dan taubatnya Nabi Adam as hanya dari satu kesalahan, yaitu memakan buah terlarang.

Karena itu jangan “bermain-main” dengan dosa dan maksiat dengan alasan Allah swt
Maha Pengampun dan Rahmat (kasih sayang) Allah swt sangat luas.
Allah swt memang mengampuni semua dosa jika hambanya mau bertaubat.
Tapi adakah jaminan bahwa Allah swt akan menerima taubat kita?.
Bukankah ada ayat yang menyatakan,” bahwasanya barang siapa yang berbuat kejahatan
di antara kamu lantaran kejahilan (ketidak tahuan) kemudian ia bertaubat
setelah mengerjakannya dan Mengadakan perbaikan, Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun
lagi Maha Penyayang. (Q.S. Al-An’am: 54)

Artinya bagi yang ketat dalam memahami ayat di atas ia akan berpandangan bahwa dosa
yang diampuni oleh Allah swt hanyalah dosa yang dilakukan karena ketidaktahuannya.
Jikalau seseorang hamba sudah mengetahui suaatu perbuatan itu dosa tapi dilakukannya juga,
maka menurut pendapat kelompok ini dosanya tidak diampuni.

Wallahu a'lam

Amrizal Isa
8/18/2016
Refleksi Makna Kemerdekaan

Refleksi Makna Kemerdekaan






Hari Rabu besok tanggal 17 Agustus 2016 kita seluruh bangsa Indonesia akan merayakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-71. Tak terasa Negara Indonesia ini sudah berusia 71 tahun sejak berdirinya tanggal 17 Agustus 1945. Pemerintah dan rakyat Indonesia mulai dari pusat sampai ke daerah-daerah sudah bersiap-siap menyambut datangnya peringatan detik-detik Proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia yang ditandai dengan pembacaan teks proklamasi yang dahulunya dibacakan oleh Ir. Soekarno atas nama bangsa Indonesia.

Setiap kali menyambut HUT RI satu pertanyaan kritis yang selalu muncul di tengah-tengah masyarakat adalah apakah kita sudah benar-benar merdeka?. Pertanyaan ini tentu tidak mudah untuk menjawabnya karena memiliki implikasi yang sangat luas dan dalam. Tapi yang jelas kemerdekaan yang kita peringati esok hari itu adalah kemerdekaan dalam arti teritorial dimana wilayah Indonesia yang meliputi daratan dan launtan mulai dari Sabang sampai Merauke diakui kedaulatannya sebagai negara yang berdiri sendiri.

Tentu saja kemerdekaan dalam pengertian di atas sangat patut disyukuri karena hidup di bawah kekuasaan dan hegemoni kolonialisme sangat menyakitkan. Tak bisa dibayangkan, sebagaimana dicatat dalam sejarah, bagaimana pedihnya penderitaan yang dialami bangsa ini sewaktu berada dibawah pemerintahan kolonial Belanda selama lebih kurang tiga setengah abad dan pendudukan Jepang selama tiga setengah tahun. Setelah merdeka kita bisa merasakan suasana kehidupan baru yang tenang, damai dan bebas dari praktek penindasan oleh bangsa asing.

Kalau makna kemerdekaan itu kita lihat dari persfektif yang lebih luas dari hanya sekedar makna teritorial, maka hal itu sangat tergantung pada indikator-indikator yang kita gunakan untuk menilainya. Tentu saja penilaian tersebut oleh setiap orang akan sangat bersifat subjektif. Tidak sedikit yang menilai bahwa dari persfektif ekonomi negara Indonesia belum merdeka dalam arti yang sesungguhnya karena perekonomian Indonesia masih tergantung pada pengaruh dan kekuatan pihak asing. Perekonomian Indonesia sangat ditentukan para pemilik modal besar karena itu kesejahteraan belum sepenuhnya bisa terwujud untuk kepentingan seluruh bangsa Indonesia. Dari kacamata politik (pemerintahan), barangkali ada yang menilai kekuasaan cenderung dikendalikan oleh sekelompok orang atau koorporasi yang ingin mengambil manfaat dan keuntungan besar darinya. Dari sudut pandang hukum, barangkali ada yang menilai praktek penegakan hukum masih belum memenuhi rasa keadilan masyarakat. Tidak sedikit data dan fakta yang menunjukkan berbagai ketimpangan dalam proses pengadilan perkara. Dalam persfektif pendidikan, mungkin ada yang menilai masih banyak masyarakat yang belum mendapat kemudahan akses pendidikan disebabkan berbagai kekurangan baik dari segi biaya, keterbatasan fasilitas, dan kondisi wilayah yang terisolir. Dari kacamata sosial budaya, barangkali ada yang berpandangan masih banyak rakyat Indonesia yang hidup dalam kemiskinan. Dan negara dirasakan masih belum hadir dalam kehidupan mereka dan membela kepentingan-kepentingan mereka. Selain itu barangkali ada sebagian masyarakat yang hidup dalam ketakutan di bawah ancaman tindakan kesewang-wenangan dan perlakuan diskriminatif. Sementara negara belum tampil dalam garda terdepan dalam memberikan perlindungan dan jaminan keselamatan bagi mereka.

Bagi mereka yang merasakan keadaan pahit dan menyakitkan tersebut tentu akan selalu mempertanyakan makna kemerdekaan yang setiap tahun diperingati itu bagi diri pribadi mereka. Selagi negara belum menjawab permasalahan-permasalah yang mereka alami, selagi itupula mereka akan selalu pesimis menatap negara ini.

Sebaliknya bagi mereka yang telah menikmati banyak manfaat dan keuntungan dari keberadaan negara dan pemerintahan negeri ini tentu makna kemerdekaan akan sangat berarti bagi mereka.

Apapun alasannya, kita tetap harus bahagia dengan kemerdekaan negara ini, meskipun bagi sebagian orang barangkali pemerintahan negara ini dianggap belum maksimal menjalankan tugas dan peran utamanya dalam mewujudkan kesejahteraan yang merata bagi seluruh rakyatnya, memberikan jaminan keamanan dan perlindungan, dan menegakkan keadilan yang sesungguhnya serta memberikan pelayanan yang baik dan memuaskan.

Satu hal yang membuat kita harus bersyukur kepada Allah swt dan berterima kasih pada pemerintahan negara ini bahwa sampai saat ini kita masih hidup dalam keadaan aman dan damai, jauh dari konflik dan pertikaian apalagi sampai pertumpahan darah seperti yang terjadi di negara-negara lainnya. Dengan keadaan yang aman dan damai itu, kita masih bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, nelayan masih bisa melaut, buruh masih bisa menarik gerobak, pedagang masih bisa berjualan, anak-anak masih bisa bermain dan bersekolah, para gadis masih bisa keluar rumah dengan tenang. Tak bisa dibayangkan betapa sulitnya kita bila hidup dan tinggal di negara yang mengalami konflik dan pertikaian berkepanjangan. Jangankan untuk bekerja dan bermain, untuk keluar rumah saja kita selalu dihantui oleh perasaan was-was dan ketakutan.

Dirgahayu HUT RI Ke-71. Jayalah negeriku, sejahteralah bangsaku.


Oleh: Amrizal Isa
8/10/2016
Perspektif Islam tentang Dosa dan Kejahatan

Perspektif Islam tentang Dosa dan Kejahatan


Setiap manusia memiliki potensi untuk berbuat keburukan dan kebaikan. Dan manusia diberikan kebebasan untuk menentukan perbuatan mana yang akan dipilihnya. Keberadaan norma-norma agama sifatnya hanya memberikan informasi tentang konsekuensi yang akan diterima manusia dari perbuatan buruk dan perbuatan baik yang dilakukan mereka. Dan mendorong mereka agar memilih jalan kebaikan dan menghindari jalan keburukan.

Kisah alegoris manusia pertama Nabi Adam as bersama pasangannya yang memakan buah dari pohon terlarang sewaktu berada di dalam syurga semakin memperkuat tesis di atas. Padahal sebelumnya Tuhan sudah mengingatkan keduanya akan larangan tersebut. Kasus pembunuhan Habil oleh Qabil putera Nabi Adam as (Q.S. Al-Maidah: 27-31). Yang dipicu rasa dendam dan kebencian Qabil terhadap Habil karena tidak terima dengan ketetapan syariat Ayahnya Nabi Adam as mengenai perkawinan silang; dimana Habil akan mendapatkan Iqlima yang berparas lebih cantik ketimbang Labuda yang akan dikawinkan dengannya semakin memperkuat kesimpulan sebelumnya.

Dalam Islam ada istilah dosa dan kejahatan. keduanya secara konseptual satu sisi memiliki makna yang terpisah tapi pada sisi lain keduanya bisa menyatu. Secara umum dosa adalah pelanggaran terhadap hukum agama. Akan tetapi pelanggaran tersebut bersifat individual dan sedikit sekali dampak sosialnya atau tidak berdampak sama sekali. Jika seseorang tak melaksanakan salat, maka ia berdosa, tetapi ia tidak disebut melakukan tindak kejahatan. atau Jika seseorang "dengki" atau "ghibah", yakni membicarakan kejelekan orang lain, maka dia melakukan dosa (maksiat). Jika seseorang pacaran lalu berkhalwat di tempat yang sunyi dan gelap, maka ia berdosa dalam pengertian yang sama. Begitulah seterusnya. Tetapi keseluruhan tindakan itu tidak masuk dalam ketegori kejahatan. Sanksi terhadap perbuatan dosa biasanya akan diterima pelakunya di akhirat saja.

Sedangkan kejahatan adalah tindakan melawan hukum (agama) yang membuatnya harus menerima sanksi di dunia dan boleh jadi juga di akhirat kelak. Kalau perbuatan dosa belum tentu dikategorikan sebagai tindak kejahatan, maka tindak kejahatan secara otomatis dikategorikan perbuatan dosa (maksiat). jika seseorang mencuri, merampok, korupsi, membunuh, memperdagangkan barang haram dan lain-lain maka ia berdosa dan melakukan kejahatan sekaligus. Berdosa karena ia melanggar ketentuan agama yang melarang perbuatan tersebut. Tetapi juga kejahatan, karena tindakan tersebut melanggar (melawan) hukum agama. Sedangkan dalam konteks hukum negara (positif), perbuatan dosa melanggarkan ketentuan agama sedangkan kejahatan adalah tindakan melanggar hukum negara.

Dalam Islam orang yang melakukan dosa disebut “muznib” dan orang yang melakukan kejahatan disebut dengan “mujrim”. Perbedaan antara muznib dan mujrim hanya dalam konteks jenis perbuatan dan sanksi yang diterimanya. Namun kedua-duanya termasuk perbuatan yang dilarang untuk dilakukan.

Menurut persfektif Islam, secara umum ada dua faktor yang mendorong orang untuk melakukan perbuatan dosa (maksiat) dan kejahatan, yaitu (1) faktor internal yang berasal dari dalam diri manusia berupa; keinginan berlebih-lebihan untuk memenuhi kebutuhan perut dan kelamin (Q.S.Ali Imran: 14), amarah dan dendam (Q.S. Yusuf: 53), irihati dan dengki ((Q.S. Yusuf: 7-10), Keinginan untuk berkuasa (Q.S. Al-Qashash: 4) dan lain-lain. (2) faktor eksternal yang berasal dari luar diri manusia, yaitu makhluk berjisim halus yang bersifat menggoda (syetan). “sesungguhnya syetan itu menyuruh kamu berbuat keburukan dan maksiat (perbuatan keji), serta mengatakan atas nama Allah swt apa yang kamu tidak ketahui (Q.S. Al-Baqarah: 169). Dan setan itu bisa jadi dari golongan jin dan bisa jadi dari golongan manusia (Q.S. Al-An’am: 112)

Untuk meminimalisir perbuatan dosa dan kejahatan, ada sejumlah upaya yang bisa dilakukan, antara lain (1) memperkuatkan rasa takut kepada Allah dan selalu mengingat berbagai kengerian siksa Allah di akhirat kelak. (2). meninggalkan segala sebab yang membuatnya terjatuh kepada godaan hawa nafsu. (3). meninggalkan kawan-kawan yang tidak baik, supaya tidak mudah termakan oleh ajakan hawa nafsu. Sebagai gantinya, hendaknya dia bergaul dengan orang-orang soleh yang mengamalkan agama Allah (4). menjauhi tempat-tempat yang dapat menjerumuskannya kepada godaan hawa nafsu dan memperbanyak bersimpuh di dalam rumah Allah (Masjid). (5). Selalu menyibukkan diri dengan zikrullah dan membaca Al-Quran, kerana hati yang lalai dari Allah sangat mudah bagi syaitan untuk menggodanya. (6). Sering menghadiri majelis-majelis ilmu yang dapat meningkatkan kefahaman dirinya untuk membina kekuatan iman dan melawan hawa nafsu. (7). Menyibukkan dirinya dengan program (aktivitas) yang bermanfaat. (8). Sentiasa berdoa dan berserah diri kepada Allah SWT. Wallah A’lam***

Oleh: Amrizal Isa
8/09/2016
Penaklukan Kota Mekkah

Penaklukan Kota Mekkah






(Menyiram Api Dendam dengan Air Kasih Sayang)

Penaklukan kota mekkah yang diistilahkan dengan “fath Makkah” merupakan momen penting dan strategis dalam sejarah Islam sebagai misi terakhir dari dakwah Islamiyah Nabi Muhammad saw di tanah Hijaz. Penaklukan kota Makah memang harus dilakukan Nabi saw untuk membebaskan penduduknya terutama kalangan mustadh’afin (orang-orang lemah) dari tirani dan kesewenang-wenangan para elitnya yang selalu menindas. Serta menyelamatkan mereka dari kemusyrikan (paganisme) dan mengambil alih penguasaan atas ka’bah sebagai simbol agama tauhid.

Ada satu cerita yang menarik sewaktu pembebasan kota mekkah ini, sewaktu pasukan kaum muslimin sudah memasuki kota mekkah, sebagian para sahabat berteriak,” al-yaum yaum al-malhamah” (hari ini adalah hari balas dendam). Dahulu kita diusir dari tanah kelahiran kita ini, harta benda kita dirampas, sebagian keluarga kita disiksa bahkan ada yang terbunuh. Inilah kesempatan yang tepat bagi kita untuk membayar hutang-hutang penderitaan dan darah pada masa lalu kita dari para petinggi Mekkah. Mendengar pernyataan sebagian para sahabat itu, Nabi Muhammad saw menjawab,” ,” al-yaum yaum al-marhamah” (hari ini adalah hari kasih sayang), tidak ada upaya balas dendam. Siapa yang masuk masjid, ia akan aman. Siapa yang masuk rumah Abu Sofyan bapaknya Muawiyah, ia akan aman. Siapa yang masuk ke rumah-rumah mereka, maka ia juga akan aman. Akhirnya dengan cara yang sangat bijak ini, kota Mekkah berhasil dibebaskan tanpa adanya bakar-bakaran, pengrusakan dan pertumpahan darah.

Seperti itulah Nabi Muhammad saw, sosok tauladan kita yang perkataan, sikap dan perbuatannya selalu penuh kearifan dan kemaslahatan. Tidak seperti sebagian sahabat seperti diceritakan di atas, yang mudah sekali terpancing dan bersikap emosional.
Sebenarnya dalam kacamata kita yang awam ini, sikap yang akan diambil sebagian sahabat melalui pernyataan tersebut sesuatu yang wajar dan pantas sebagai bentuk pelajaran bagi penguasa Mekkah yang bertindak sewenang-wenang atas mereka di masa lalu. Tapi Islam sebagai agama Rahmatan Lil’alamin tidak mengajarkan sikap balas dendam karena dikhawatirkan akan terjatuh pada prilaku yang melampaui batas. Mungkin kita, dalam batas-batas tertentu, akan merasa puas melakukan balas dendam tapi tanpa kita sadari tindakan tersebut akan merusak citra Islam dan akan menciptakan kebencian semakin bertumpuk-tumpuk.

Semangat (jihad) untuk membela agama merupakan semangat yang terpuji tapi semangat tersebut harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. Imam al-Ghazali menyatakan dalam magnum opusnya “Ihya ‘Ulum al-Din bahwa mencegah kemungkaran tidak boleh dengan melakukan kemungkaran baru. Prinsip Islam sebagai agama Rahmat al-‘Alamin harus kita kedepankan. Jangankan dalam situasi normal, dalam situasi perang saja Islam melarang kita membunuh perempuan dan anak-anak, merusak lingkungan dan rumah-rumah ibadah non Muslim. Sikap kita yang melampaui batas boleh jadi akan menyuburkan kebencian terhadap Islam. sebaliknya sikap kasih sayang dan cinta damai akan menumbuhkan simpatik dan keberpihakan terhadap Islam. Bahkan dalam batas-batas tertentu akan menjadi sebab seseorang mendapat hidayah Islam.

Kita harus banyak belajar tentang Islam dari Nabi Muhammad saw tentang Islam. Nabi Muhammad saw berdakwah menyebarkan Islam tidak dengan kebencian dan dendam tapi dengan kasih sayang dan akhlak (budi pekerti) yang mulia. Semangat jihad membela Islam jangan dinodai dengan sikap dan prilaku yang kurang terpuji. Jangan kita melakukan pembenaran terhadap perbuatan yang kurang terpuji atas nama agama. Islam adalah agama yang memuliakan manusia. karena itu kita harus berupaya untuk memuliakan manusia. jangan bersikap zalim terhadap manusia lainnya. Wallah A’lam***

Oleh: Amrizal Isa
Haji = Road to Allah

Haji = Road to Allah





 Kalau tidak ada halangan kelompok terbang (Kloter) 4 Jamaah calon haji asal Kabupaten Bengkalis akan berangkat menuju embarkasi Batam pada tanggal 11 Agustus 2016 dan keesokan harinya tanggal 12 Agustus 2016 akan terbang menuju Madinah. Total JCH Kabupaten Bengkalis pada tahun ini berjumlah 428 orang, dengan rincian Kecamatan Bengkalis 85 orang, Bantan 23 orang, Bukit Batu 39 orang, Siak Kecil 18 orang, Rupat 5 orang, Rupat Utara 1 orang, Pinggir 18 orang dan Mandau 239 orang termasuk petugas. Mereka tergabung ke dalam dua Kloter yaitu kloter 4 tergabung dengan JCH asal Kota Pekanbaru dan Kloter 10 bergabung dengan JCH se-Provinsi Riau kecuali Kuansing dan Rohul.

Ibadah Haji dimaknai oleh sebagian besar umat Islam sebagai “rihlah muqaddasah” yang artinya perjalanan suci. Penyandingan kata suci pada perjalanan ini dihubungkan dengan eksistensi Makkah dan Madinah sebagai dua tanah haram (suci), perjalanan ini dimaksudkan untuk beribadah dan ibadah haji dianggap sebagai manifestasi (miniatur) daru kehidupan (keadaan) atau perjalanan di alam akhirat.

Karena menunaikan ibadah Haji dipandang sebagai perjalanan suci, maka orang yang akan menempuh perjalanan ini biasanya terlebih dahulu berupaya untuk melakukan pensucian diri (tazkiyat al-nafsi). Karena ia menganggap bahwa perjalanan yang suci harus dilalui oleh jiwa-jiwa yang suci pula.

Sebagai bentuk upaya pensucian diri (jiwa) itu, biasanya orang-orang yang akan menunaikan ibadah haji melakukan beberapa hal, antara lain memperbanyak sholat sunat taubat dan melazimkan pembacaan sayyid al-istighfar.

Selanjutnya mereka berupaya untuk membersihkan diri dari dosa-dosa (kesalahan-kesalahan) yang bersifat sosial mereka kepada sesama keluarga, tetangga dan sahabat dengan cara mengundang mereka kenduri (makan bersama) di rumah kediamannya lalu menyampaikan permohonan maaf di hadapan mereka secara terbuka atas dosa (kesalahan) yang sudah diperbuat di masa lalu. Kenduri pergi haji ini diistilahkan dengan walimat al-safar (walimat al-Hajj).

Kemudian ada juga, calon jamaah haji sebelum mereka berangkat ke tanah suci berupaya melunasi segala hutang piutangnya terlebih dahulu. karena tidak tertutup kemungkinan (bukan bermaksud menakut-nakuti), boleh jadi perjalanan ibadah haji merupakan perjalanannya kembali ke hadirat Allah swt. Karena tidak sedikit, jamaah haji yang meninggal dunia di tanah suci. Rasulullah saw bersabda: “jiwa seorang mukmin “tergantung” disebabkan hutangnya sampai hutang tersebut dilunasi”

Tahapan selanjutnya sebagai bentuk “persiapan secara ruhaniah” calon jamaah haji biasanya berusaha sedapat mungkin menghindari sikap dan perbuatan buruk (tercela), mengisi kekosongan waktu mempelajari ilmu manasik dan memahami hakekat dan makna ibadah haji. Dan kemudian memperbanyak doa dan zikir dalam setiap tahapan-tahapan perjalanan ibadah haji. Dengan maksud agar mereka benar-benar bersih secara ruhaniah sebelum mereka tiba di tanah suci.

Bila ditelisik dari dimensi esoterik ibadah, pelaksanaan ibadah apapun dalam Islam selalu memiliki tujuan-tujuan tertentu atau spesifik. Ibadah sholat misalnya bertujuan untuk membentengi seseorang dari perbuatan keji dan mungkar. Ibadah puasa Ramadan bertujuan ingin membentuk pribadi yang takwa. Ibadah Zakat bertujuan ingin membersihkan diri dan harta seorang muslim. Demikian pula dengan ibadah Haji yang bertujuan ingin melahirkan pribadi yang saleh secara totalitas baik secara individual maupun secara sosial baik secara vertikal maupun secara horizontal (al-Mabrur).

Tolok ukur ketercapaian tujuan pelaksanaan ibadah ini dapat dilihat dari sejauhmana adanya perubahan sikap dan prilaku orang yang melaksanakan ibadah tersebut ke arah yang lebih baik (positif) setelah seseorang itu selesai melaksanakan ibadah tersebut. itulah sebabnya ada ulama yang memberikan indikator sederhana tentang haji yang mabrur (maqbul) dalam suatu pernyataan “amaluhu ba’da al-hajj khoirun min qablihi” (prilakunya sesudah melaksanakan haji lebih baik dari prilaku sebelumnya).

Perubahan sikap dan prilaku sebagai akibat pengaruh (keberkesanan) dari pelaksanaan ibadah itu sangat bersifat personal dan subjektif. Karena itu hanya orang yang melakukan ibadah itu yang bisa merasakan perubahan tersebut. meskipun demikian, pengaruh tersebut masih bisa terlihat oleh orang lain berdasarkan indikator-indikator lahiriah.

Sehubungan dengan itu, keberkesanan pelaksanaan ibadah haji yang dilakukan seseorang sehingga memberikan efek positif yang bersifat permanen dalam dirinya sangat ditentukan oleh sejumlah faktor, antara lain

(1) kebersihan diri dan kehalalan harta yang digunakan seseorang dalam melaksanakan haji. Aspek kebersihan diri dan kehalalan harta yang digunakan ini sangat mempengaruhi kemakbulan suatu ibadah. “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik saja” (H.R. Muslim). Baik dalam hadits ini mencakup kedua aspek sebagaimana yang disebutkan sebelumnya. Senada dengan hadits tersebut, hadits yang lain meriwayatkan “Seorang laki-laki yang lusuh lagi kumal karena lama bepergian mengangkat kedua tanganya ke langit tinggi-tinggi dan berdoa : Ya Rabbi, ya Rabbi, sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan dagingnya tumbuh dari yang haram, maka bagaimana doanya bisa terkabulkan.?” [Shahih Muslim).

(2) kesempurnaan pelaksanaan ibadah baik aspek syariatnya maupun aspek hakikatnya. Kemabruran (kemakbulan) haji bisa dilihat dari dua persfektif; (a) kesempurnaan pelaksanaan rukun, wajib dan sunat hajinya menurut ketentuan syariatnya; (b) kemampuan merasakan dan menghayati pesan-pesan, nilai-nilai dan hikmah-hikmah yang terkandung di balik ibadah haji. Ibadah haji bukanlah ibadah yang “kering” tanpa makna. Tapi ibadah yang satu ini kaya akan pesan-pesan moralitas dan spiritualitas yang amat tinggi nilainya. Sejauhmana calon haji bisa menangkap pesan-pesan tersirat tersebut sejauh itu pula ibadah haji akan menimbulkan keberkesanan pada dirinya. (3) Keikhlasan (ketulusan) hati. Ibadah haji adalah ibadah yang paling demonstratif dalam Islam. karena itu motif orang-orang pergi menunaikan ibadah haji juga bermacam-macam. Semua itu sangat tergantung pada kepentingan mereka masing-masing. Sehubungan dengan itu, keikhlasan (kelurusan) niat seseorang yang berhaji memiliki dampak pada kualitas ibadah haji yang dilakukannya. Kisah al-Muwaffaq tukang sol sepatu dari Damsyiq (Syiria) yang hajinya diterima Allah swt (makbul) dari enam ratus ribu jemaah yang menunaikan ibadah haji waktu itu padahal ia tidak pergi ke tanah suci hanya disebabkan ongkos pergi haji yang sudah disimpannya sejak lama disedekahkan kepada tetangganya yang miskin (al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, h. 243). Menggambarkan bahwa keikhlasan (ketulusan) hati sangat menentukan kemakbulan haji seseorang. (4) Menjaga adab selama berada di tanah suci. Dalam suatu riwayat dijelasakan “Jamaah Haji dan Umrah adalah utusan (tamu) Allah swt, jika mereka berdoa kepadaKu, maka akan Aku kabulkan, dan jika mereka memohon ampunan (atas dosanya), maka akan aku ampunkan” (H.R. Al-Nasai). Sebagai utusan (tamu) Allah swt, tentu saja tidak mungkin Allah swt memperlakukan para tamunya dengan cara yang tidak baik. Karena itu, Calon Jamaah Haji yang kebetulan sebelumnya banyak berbuat dosa (kesalahan) baik kepada Allah swt atau kepada sesama manusia, tidak perlu takut dan khawatir melaksanakan ibadah Haji. Yakinlah Allah swt tidak akan memperlakukan mereka dengan cara yang tidak baik. dengan catatan mereka harus berserah diri kepada Allah swt dengan tulus dan menjaga adab selama berada di tanah suci. Diantara adab yang harus dijaga adalah tida mengeluarkan perkataan-perkataan kotor (prilaku yang kurang terpuji), bersikap menentang (sombong) dan berbantah-bantah selama pelaksanaan ibadah Haji. Sejalan dengan ini, dalam sebuah hadits dinyatakan “Siapa yang berhaji tidak berkata-kata kotor dan tidak bersifat durhaka (menentang), maka ia akan kembali kepada keadaan sebagaimana waktu dilahirkan oleh ibunya” (H.R.Bukhari dan Muslim)

Selamat melakukan Perjalanan Ibadah Haji buat Saudara-Saudaraku. Semoga Allah swt memberikan kemudahan dan kelancaraan selama pelaksanaan Ibadah Haji dan pulang membawa prediket Haji yang Mabrur. Wallah A’lam***

Oleh: Amrizal Isa

TOP

Ingin menulis di Akhbar Islam ?