• Sabda Rasulullah shallallahu ’alahi wassalam yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari ’Aisyah, (artinya) : ”Hai Asmaa! Sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa/sampai umur, maka tidak patut menampakkan sesuatu dari dirinya melainkan ini dan ini.” Rasulullah Shallahllahu ’alaihi wassalam berkata sambil menunjukkan muka dan kedua telapak tangan hingga pergelangan tangannya sendiri.

  • Ada seorang sahabat menuturkan kisahnya. Dia bernama Budiman. Sore itu ia menemani istri dan seorang putrinya berbelanja kebutuhan rumah tangga bulanan di sebuah toko swalayan. Usai membayar, tangan-tangan mereka sarat dengan tas plastik belanjaan. Baru saja mereka keluar dari toko swalayan, istri Budiman dihampiri seorang wanita pengemis yang saat itu bersama seorang putri kecilnya. Wanita pengemis itu berkata kepada istri Budiman, "Beri kami sedekah, Bu!"

  • Dalam konteks ini Al Qur'an dan as sunnah adalah merupakan sumber hukum dan dalil hukum, sedangkan selain dari keduanya seperti al ijma, al qiyas dan lain-lainnya tidak dapat disebut sebagai sumber, kecuali hanya sebagai dalil karena ia tidak dapat berdiri sendiri.

  • Setiap orang pasti sering mendengar ungkapan “Don't judge a book by its cover” bahkan bisa dibilang ungkapan yang satu ini termasuk hal yang sangat populer di dunia barat di berbagai buku, ceramah, bahkan wikipedia. situs yang memuat data atas sesuatu dengan sangat ringkas dan akurat Menurut wikipedia kata-kata itu bermakna “don’t determine the worth of something based on its appearance” Kalo di Indonesiakan

ARTIKEL TERBARU

Rss

Sabtu, 04 Oktober 2014
Ketika Membaca Al-Quran

Ketika Membaca Al-Quran




Sebuah cerita hikmah kali ini tentang 
ketika membaca AlQuran. Ada Seorang 
Muslim tua Amerika bertahan hidup 
di suatu perkebunan di suatu pegunungan 
sebelah timur Negara bagian Kentucky 
dengan cucu lelakinya yg masih muda. 

Setiap pagi Kakek bangun lebih awal 
dan membaca Al Quran di meja makan 
di dapurnya. 

Cucu lelaki nya ingin sekali menjadi 
seperti kakeknya dan mencoba 
untuk menirunya dalam cara apapun 

Suatu hari sang cucu nya bertanya, 
“Kakek! Aku mencoba untuk membaca
 Al Qur’An seperti yang kamu lakukan 
tetapi aku tidak memahaminya, 
dan apa yang aku pahami 
aku lupakan secepat aku menutup buku.

Apa sih kebaikan dari membaca Al Qur’An?
Dengan tenang sang Kakek dengan meletakkan 
batubara di dasar keranjang, memutar sambil 
melobangi keranjang nya ia menjawab, 

“Bawa keranjang batubara ini ke sungai 
dan bawa kemari lagi penuhi dengan air.

” Maka sang cucu melakukan seperti 
yang diperintahkan kakek, tetapi semua 
air habis menetes sebelum tiba di depan rumahnya.

Kakek tertawa dan berkata, “Lain kali kamu 
harus melakukukannya lebih cepat lagi,

” Maka ia menyuruh cucunya kembali 
ke sungai dengan keranjang tersebut 
untuk dicoba lagi. 

Sang cucu berlari lebih cepat, 
tetapi tetap, lagi-lagi keranjangnya 
kosong sebelum ia tiba di depan rumah. 
Dengan terengah-engah, ia berkata 

kepada kakek nya bahwa mustahil membawa air 
dari sungai dengan keranjang yang sudah dibolongi,
maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya.

 Sang kakek berkata, “Aku tidak mau ember itu; 
aku hanya mau keranjang batubara itu. 
Ayolah, usaha kamu kurang cukup, 

maka sang kakek pergi ke luar pintu 
untuk mengamati usaha cucu laki-lakinya itu. 
Cucu nya yakin sekali bahwa hal itu mustahil, 
tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakek nya, 
biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, 
air tetap akan bocor keluar sebelum ia sampai ke rumah.

Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai 
dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, 
tetapi ketika ia sampai didepan kakek keranjang 
sudah kosong lagi. Sambil terengah-engah ia berkata, 
” Lihat Kek, percuma!” “Jadi kamu pikir percuma?” Jawab kakek.

Kakek berkata, “Lihatlah keranjangnya.
” Sang cucu menurut, melihat ke dalam 
keranjangnya dan untuk pertama kalinya 
menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. 

Keranjang itu telah berubah dari keranjang batubara 
yang tua kotor dan kini bersih, luar dalam. 
“Cucuku, hal itulah yang terjadi 

ketika kamu membaca Al Qur’An. 

Kamu tidak bisa memahami atau ingat segalanya, 
tetapi ketika kamu membaca nya lagi, 
kamu akan berubah, luar dalam. 
Itu adalah karunia dari Allah di dalam hidup kita.”

Sahabat..

Al-Quran Adalah pedoman hidup setiap insan

sebagai seorang yang beriman kepada Allah
hendaklah membaca Alquran dan memahami

makna-makananya.

Kita mungkin tidak selalu faham apa

yang kita baca, tapi percayalah
ada hikmah dan ketenangan hati
jika kita ikhlas membaca Al-quran..

Semoga Alquran bisa menjadi

syafaat bagi kita, dihari pembalasan..

Amin Ya Rabbal Alamin....

Kang Robby
Jumat, 03 Oktober 2014
"HUJAN" berkah dari Allah SWT

"HUJAN" berkah dari Allah SWT

Assalammu'alaikum ikhwan dan akhwat Akhbar Islam

semoga pada hari ini kita diberikan keberkahan dalam melaksanakan aktifitas, aamiin


Mungkin agak sedikit aneh ya, kenapa judul artikel saya "HUJAN", ya karena sekarang lagi hujan, hehehe. OK, kebanyakan dari kita sering mengeluh dengan datangnya hujan, mungkin ikhwan dan akhwat semua pernah mendengar sebagian orang bilang seperti ini, "Yah, hujan" atau "Koq hujan, sih??? kenapa gak tunggu saya tiba di rumah turunnya", atau mungkin ikhwan dan akhwat sendiri yang pernah merasakannya... ^_^


Hujan merupakan berkah yang diberikan Allah SWT yang memiliki peranan penting bagi kehidupan di muka bumi dan bagi semua makhluk hidup, termasuk manusia. 

Mungkin ini sedikit informasi tentang hujan :

1.  Kadar Hujan 









“Dan yang menurunkan air dari langit menurut kadar (yang diperlukan) lalu kami hidupkan dengan air itu negeri yang mati, seperti itulah kamu akan dikeluarkan (dari dalam kubur).” (QS.Az-Zukhruf : 11)

“Kadar” yang disebutkan dalam ayat ini merupakan salah satu karakteristik hujan. Secara umum, jumlah hujan yang turun ke bumi selalu sama. Diperkirakan sebanyak 16 ton air di bumi menguap setiap detiknya. Jumlah ini sama dengan jumlah air yang turun ke bumi setiap detiknya. Hal ini menunjukkan bahwa hujan secara terus-menerus bersirkulasi dalam sebuah siklus seimbang menurut “ukuran” tertentu.
Pengukuran lain yang berkaitan dengan hujan adalah mengenai kecepatan turunnya hujan. Ketinggian minimum awan adalah sekitar 12.000 meter. Ketika turun dari ketinggian ini, sebuah benda yang yang memiliki berat dan ukuran sebesar tetesan hujan akan terus melaju dan jatuh menimpa tanah dengan kecepatan 558km/jam. Tentunya, objek apapun yang jatuh dengan kecepatan tersebut akan mengakibatkan kerusakan.
Dan apabila hujan turun dengan cara demikian, maka seluruh lahan tanaman akan hancur, pemukiman, perumahan, kendaraan akan mengalami kerusakan, dan orang-orang pun tidak dapat pergi keluar tanpa mengenakan alat perlindungan ekstra. Terlebih lagi, perhitungan ini dibuat untuk ketinggian 12.000 meter, faktanya terdapat awan yang memiliki ketinggian hanya sekitar 10.000 meter. Sebuah tetesan hujan yang jatuh pada ketinggian ini tentu saja akan jatuh pada kecepatan yang mampu merusak apa saja.
Namun tidak demikian terjadinya, dari ketinggian berapapun hujan itu turun, kecepatan rata-ratanya hanya sekitar 8-10 km/jam ketika mencapai tanah. Hal ini disebabkan karena bentuk tetesan hujan yang sangat istimewa. Keistimewaan bentuk tetesan hujan ini meningkatkan efek gesekan atmosfer dan mempertahankan kelajuan tetesan-tetesan hujan krtika mencapai “batas” kecepatan tertentu. (Saat ini, parasut dirancang dengan menggunakan teknik ini).

Tak sebatas itu saja “pengukuran” tentang hujan. Contoh lain misalnya, pada lapisan atmosferis tempat terjadinya hujan, temperatur bisa saja turun hingga 400oC di bawah nol. Meskipun demikian, tetesan-tetesan hujan tidak berubah menjadi partikel es. (Hal ini tentunya merupakan ancaman mematikan bagi semua makhluk hidup di muka bumi.) Alasan tidak membekunya tetesan-tetesan hujan tersebut adalah karena air yang terkandung dalam atmosfer merupakan air murni. Sebagaimana kita ketahui, bahwa air murni hampir tidak membeku pada temperatur yang sangat rendah sekalipun

2.  Pembentukan Hujan














“Allah, dialah yang mengirimkan angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal: lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hambanya yang di kehendakinya, tiba-tiba mereka menjadi gembira.” (QS. Ar-Rum : 48)

Tahapan pembentukan hujan

Tahap Pertama : “ Allah, dialah yang mengirimkan angin…..”
Gelembung-gelembung udara yang tidak terhitung jumlahnya dibentuk oleh buih-buih di lautan yang secara terus-menerus pecah dan mengakibatkan partikel-partikel air tersembur ke udara menuju ke langit. Partikel-partikel ini –yang kaya akan garam– kemudian terbawa angin dan bergeser ke atas menuju atmosfer. Partikel-partikel ini (disebut aerosol) membentuk awan dengan mengumpulkan uap air (yang naik dari lautan sebagai tetesan-tetesan oleh sebuah proses yang dikenal dengan “JebakanAir”) di sekelilingnya.

Tahap Kedua : “…..lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang di kehendakinya, dan menjadi bergumpal-gumpal…..”
Awan terbentuk dari uap air yang mengembun di sekitar kristal-kristal garam atau partikel-partikel debu di udara. Karena tetesan-tetesan air di sini sangat kecil (dengan diameter antara 0,01-0,02 mm), awan mengapung di udara dan menyebar di angkasa. Sehingga langit tertutup oleh awan.

Tahap Ketiga : “….lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun.”
Partikel-partikel air yang mengelilingi kristal-kristal garam dan partikel-partikel debu mengental dan membentuk tetesan-tetesan hujan. Sehingga, tetesan-tetesan tersebut, yang menjadi lebih berat dari udara, meninggalkan awan dan mulai jatuh ke tanah sebagai hujan.
Setiap tahap dalam pembentukan hujan disampaikan dalam Al-Qur’an. Terlebih lagi, tahapan-tahapan tersebut dijelaskan dalam runtutan yang benar. Seperti halnya fenomena alam lain di dunia, lagi-lagi Al-Qur’an lah yang memberikan informasi yang paling tepat tentang fenomena ini, selain itu, Al-Qur’an telah memberitahukan fakta-fakta ini kepada manusia berabad-abad sebelum sains sanggup mengungkapnya.
Allah telah menurunkan hujan sebagai rahmat di saat dibutuhkan oleh seluruh makhluk.

Allah Ta’ala berfirman:






Dan Dialah Yang menurunkan hujan sesudah mereka berputus asa dan menyebarkan rahmat-Nya. Dan Dialah Yang Maha Pelindung lagi Maha Terpuji.” (QS. Asy-Syuura [41] : 28).

3.  Keberkahan dan Manfaaat Hujan
Hujan adalah air yang diturunkan dari langit dan penuh keberkahan

Allah ta'ala berfirman:

“Dan Kami turunkan dari langit air yang penuh keberkahan lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam.” (QS. Qaaf [50] : 9).

Yang dimaksud keberkahan di sini adalah banyaknya kebaikan.

4.  Beberapa Amalan Ketika Turun Hujan
Pertama: Takut datangnya adzab ketika mendung.

Ketika muncul mendung, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu khawatir, jangan-jangan akan datang adzab dan kemurkaan Allah.”

Kedua: Do’a ketika turun hujan sebagai rasa syukur pada Allah.

’Aisyah radhiyallahu ’anha berkata: ”Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam ketika melihat turunnya hujan, beliau mengucapkan, 
”Allahumma shoyyiban nafi’an”

[Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat]”.

Ketiga: Turunnya hujan, kesempatan terbaik untuk memanjatkan do’a.

Ibnu Qudamah dalam Al Mughni mengatakan: ”Dianjurkan untuk berdo’a ketika turunnya hujan, sebagaimana diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, “Carilah do’a yang mustajab pada tiga keadaan : (1) Bertemunya dua pasukan, (2) Menjelang shalat dilaksanakan, dan (3) Saat hujan turun.”

Keempat: Do’a ketika terjadi hujan lebat.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam suatu saat pernah meminta diturunkan hujan. Kemudian ketika hujan turun begitu lebatnya, beliau memohon pada Allah agar cuaca kembali menjadi cerah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berdo’a:
“Allahumma haawalaina wa laa ’alaina. Allahumma ’alal aakami wal jibaali, wazh zhiroobi, wa buthunil awdiyati, wa manaabitisy syajari

[Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turunkanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan].”

Kelima: Do’a ketika terjadi angin kencang.

Dianjurkan bagi seorang muslim ketika terjadi angin kencang untuk membaca do’a berikut sebagaimana yang disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammengucapkan ketika itu,

“Allahumma inni as-aluka khoirohaa wa khoiro maa fiihaa wa khoiro maa ursilat bihi, wa a’udzu bika min syarrihaa wa syarri maa fiiha wa syarri maa ursilat bihi

[Ya Allah, Aku memohon kepada-Mu baiknya angin ini dan kebaikan yang ada padanya, dan aku memohon kebaikan dari yang diutus dengannya. Aku berlindung kepada-Mu dari buruknya angin ini, dan keburukan yang ada padanya dan aku berlindung dari keburukan yang diutus dengannya]

Keenam: Do’a ketika mendengar suara petir.

Apabila ’Abdullah bin Az Zubair mendengar petir, dia menghentikan pembicaraan, kemudian mengucapkan:

“Subhanalladzi yusabbihur ro’du bi hamdihi wal mala-ikatu min khiifatih”

[Mahasuci Allah yang petir dan para malaikat bertasbih dengan memuji-Nya karena rasa takut kepada-Nya].

Ketujuh: Mengambil berkah dari air hujan.

Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:

”Kami pernah kehujanan bersama Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyingkap bajunya hingga terguyur hujan. Kemudian kami mengatakan, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan demikian?” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Karena hujan ini baru saja Allah ciptakan.”

An Nawawi menjelaskan,

“Makna hadits ini adalah hujan itu rahmat yaitu rahmat yang baru saja diciptakan dari Rabb-Nya yang Maha Tinggi. Oleh karena itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertabaruk (mengambil berkah) dari hujan tersebut.”

Kedelapan: Dianjurkan berwudhu dengan air hujan. Dalilnya :

“Apabila air mengalir di lembah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Keluarlah kalian bersama kami menuju air ini yang telah dijadikan oleh Allah sebagai alat untuk bersuci”. Kemudian kami bersuci dengannya.”

Kesembilan: Tidak boleh mencela hujan.

Sebagian orang sering keluar dari mulutnya celaan, “Aduh!! hujan lagi, hujan lagi”. Ketahuilah, Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam telah menasehatkan kita agar jangan selalu menjadikan makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa sebagai kambing hitam jika kita mendapatkan sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti beliau melarang kita mencela waktu dan angin karena kedua makhluk tersebut tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Manusia menyakiti Aku; dia mencaci maki masa (waktu), padahal Aku adalah pemilik dan pengatur masa, Aku-lah yang mengatur malam dan siang menjadi silih berganti.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,”Janganlah kamu mencaci maki angin.”

Dari dalil di atas terlihat bahwa mencaci maki masa (waktu) dan angin adalah sesuatu yang terlarang. Begitu pula halnya dengan mencaci maki makhluk yang tidak dapat berbuat apa-apa, seperti mencaci maki angin dan hujan adalah terlarang.

Kesepuluh: Do’a setelah turun hujan. Do’anya adalah:

“Muthirna bi fadhlillahi wa rohmatih

[Kita diberi hujan karena karunia dan rahmat Allah].

5.  Keringanan Ketika Turun Hujan
Pertama: Bolehnya meninggalkan shalat jama’ah di masjid ketika turun hujan.

Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas, beliau mengatakan kepada mu’adzin pada saat hujan

”Apabila engkau mengucapkan ’Asyhadu allaa ilaha illalloh, asyhadu anna Muhammadar Rasulullah’, maka janganlah engkau ucapkan ’Hayya ’alash sholaah’. Tetapi ucapkanlah ’Sholluu fii buyutikum’ [Sholatlah di rumah kalian]. …”

An Nawawi – semoga Allah merahmati beliau – menjelaskan:

”Dari hadits di atas terdapat dalil tentang keringanan untuk tidak melakukan shalat jama’ah ketika turun hujan dan ini termasuk udzur (halangan) untuk meninggalkan shalat jama’ah. Dan shalat jama’ah -sebagaimana yang dipilih oleh ulama Syafi’iyyah- adalah shalat yang mu’akkad (betul-betul ditekankan) apabila tidak ada udzur. Dan tidak mengikuti shalat jama’ah dalam kondisi seperti ini adalah suatu hal yang disyari’atkan (diperbolehkan) bagi orang yang susah dan sulit melakukannya. Hal ini berdasarkan riwayat lainnya, ”Siapa yang mau, silahkan mengerjakan shalat di rihal (kendaraannya) masing-masing.”

Sayid Sabiq – semoga Allah merahmati beliau:

Dalam Fiqh Sunnah menyebutkan salah satu sebab yang membolehkan tidak ikut shalat berjama’ah adalah cuaca yang dingin dan hujan. Lalu beliau membawakan perkataan Ibnu Baththol yang menyatakan bahwa hal ini adalah ijma’ (kesepakatan para ulama).
Imam Muslim – Dari hadits-hadits yang dibawakan oleh Imam Muslim:

Dalam kitab shahihnya, ada beberapa lafadz tambahan adzan ketika kondisi hujan, dingin, berangin kencang, dan tanah yang penuh lumpur baik ketika mukim maupun safar :

Alaa shollu fir rihaal

artinya: Hendaklah shalat di rumah (kalian)

Alaa shollu fi rihaalikum

artinya: Hendaklah shalat di rumah kalian

Sholluu fii buyutikum

artinya: Sholatlah di rumah kalian

An Nawawi mengatakan:
“Lafadz ini boleh diucapkan setelah adzan maupun di tengah-tengah adzan karena terdapat dalil mengenai dua model ini. Akan tetapi, mengucapkannya sesudah adzan lebih baik agar lafadz adzan yang biasa diucapkan tetap ada.”

Kedua: Bolehnya menjama’ shalat ketika hujan deras.

Dari Abu Az Zubair, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu Abbas, beliau berkata:

”Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat Dzuhur dan Ashar serta Maghrib dan Isya’ secara jama’, bukan dalam keadaan takut maupun safar.” Yang meriwayatkan dari Abu Az Zubair adalah Imam Malik dalam Muwatho’nya. Imam Malik mengatakan, ”Aku menyangka bahwa menjama’ di sini adalah ketika hujan.”

Al Baihaqi mengatakan:
”Begitu pula hadits ini diriwayatkan oleh Zuhair bin Mu’awiyah dan Hammad bin Salamah, dari Abu Az Zubair, juga dikatakan, ”(Beliau menjama’) bukan karena keadaan takut dan bukan pula karena safar. Akan tetapi dalam riwayat tersebut tidak disebutkan shalat Maghrib dan ’Isya dan hanya disebut jama’ tersebut dilakukan di Madinah.”

Artinya, Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam melakukan jama’ ketika mukim (tidak bepergian) dalam kondisi hujan.

Beberapa point yang perlu diperhatikan :
1.   Yang diperintahkan ketika hujan adalah menjama’ shalat (menggabungkan dua shalat) tanpa perlu meng-qoshor.
2.     Jama’ dilakukan dengan imam di masjid dan bukan dilakukan di rumah.
3.    Apabila shalat telah dijama’ pada waktu pertama dari dua shalat, lalu setelah dijama;’, hujan tersebut reda, maka shalatnya tetap sah dan tidak perlu diulangi.
4.   Boleh menjama’ shalat zhuhur dan ashar atau maghrib dan Isya. Yang paling afdhol jika dilakukan dengan jama’ taqdim.
5.    Hujan yang membolehkan seseorang menjama’ shalat adalah hujan yang bisa membuat pakaian basah kuyup dan mendapatkan kesulitan jika harus berjalan dalam kondisi hujan semacam itu. Adapun hujan yang rintik-rintik dan tidak begitu deras, maka tidak boleh untuk menjama’ shalat ketika itu.

Demikian panduan ringkas mengenai beberapa amalan dan keringanan dari syariat ketika turun hujan.

Source : http://islamislogic.wordpress.com/2013/01/09/hujan-adalah-berkah/


TOP