Khutbah Jumat : Menyikapi Berbagai Perbedaan Manusia

AkhbarIslam.com-Manusia diciptakan oleh Allah disamping memiliki kesamaan hakikat dan tujuan, yaitu untuk menyembah kepada-Nya, baiklah disini kita akan membahas tentang Khutbah Jumat : Menyikapi Berbagai Perbedaan Manusia, yang memiliki berbagai perbedaan dari segi bangsa, budaya dan adat istiadatnya, perbedaan, warna kulit, bentuk tubuh dan karakternya, nasib dan kedudukannya, dan sifat-sifat lain yang terkadang menjadi alat untuk membedakan diantara kita semua.Tetapi semua itu tidak berarti di mata Allah SWT.

Khutbah Jumat : Menyikapi Berbagai Perbedaan Manusia
Khutbah Jumat : Menyikapi Berbagai Perbedaan Manusia

Khutbah Jumat : Menyikapi Berbagai Perbedaan Manusia

Oleh: Drs. H. Johari Sidroh, M.Ag 

إنَّ الـحَمْدَ لِلّهِ نَـحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَن لاَّ إِلَهَ إِلاَّ الله وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُـحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُه.يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ. يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا أَمَّا بَعْدُ.

Sidang Jum’at yang Berbahagia
Marilah kita sama-sama meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah SWT, meningkatkan kualitas kehambaan kita kepada-Nya sebagaimana tujuan penciptaan umat Manusia dan Jin. Melaksanakan segala perintah-Nya baik yang bersifat wajib maupun sunnah dan menjauhi segala larangan-Nya yang bersifat haram maupun makruh. Semoga kita semakin dijauhkan dari segala sesuatu yang dibenci oleh-Nya.

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Manusia diciptakan oleh Allah disamping memiliki kesamaan hakikat dan tujuan, yaitu untuk menyembah kepada-Nya, juga memiliki berbagai perbedaan seperti berbeda bangsa, budaya dan adatnya, perbedaan, warna kulit, bentuk tubuh dan karakternya, nasib dan kedudukannya, dan sifat-sifat lain yang terkadang menjadi alat untuk membedakan diantara kita semua. Sifat-sifat tersebut ada yang bersifat permanen dan ada juga yang dapat berubah dari satu waktu ke waktu yang lain.

Sebagai seorang muslim tentu kita menyadari bahwa perbedaan penciptaan tersebut adalah anugerah yang harus disyukuri. Perbedaan adalah rahmat dari Allah SWT. Al-Quran al-Karim secara Jelas memberikan tuntunan bagaimana menyikapi perbedaan itu, sebagaimana tercantum dalam Surat Al-Hujurat ayat 13 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ.

“Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS: Al-Hujurat: 13)
Penciptaan manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan, bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar manusia saling mengenal. Bukan hanya mengenal secara fiisik tetapi juga saling memahami, sehingga tumbuh kesadaran saling menghargai, saling membutuhkan, dan bisa berbagi. Jangan dijadikan alasan untuk saling bertengkar, saling menjatuhkan, dan saling merendahkan.

Ukuran penghargaan dan kemuliaan bagi manusia hanya dapat diraih lewat kualitas dan prestasi yang diraih oleh manusia, dan dalam ayat tersebut digambarkan dengan kualitas ketakwaannya. Menyadari akan kelebihan yang dimiliki oleh sebagian orang, dan sekaligus kekurangan atau kelemahan yang dimiliki oleh sebagian yang lain, Allah SWT menganjurkan kepada kita untuk saling tolong-menolong dan berbagi dalam kebaikan. Ta’awanu ‘alal birri wattaqwa wa laa ta’awanu ‘alal itsmi wal udwan.

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Namun dalam keseharian manusia terkadang keluar dari jati diri dan kehambaannya, karena status yang diraihnya, kedudukan, kekayaan, atau ambisinya yang beriring dengan kecemasan dan hawa nafsunya. Cara pandangnya dalam menyikapi perbedaan berubah dan jauh dari garis yang ditetapkan oleh Al-Quran. Kekuasaan, kesuksesan, dan kekayaan, tidak digunakan untuk saling berbagi dan saling menolong dalam kebaikan tetapi untuk menindas dan mengeksploitasi orang lain untuk memperkukuh kepentingan dirinya.

Pemberian uang yang bernilai luhur terkadang berubah makna menjadi sarana untuk memperkukuh kepentingannya, sehingga yang terjadi bukan saling berbagi tapi kemudian yang terjadi adalah saling bertengkar, saling menjatuhkan, dan saling menghinakan.
Al-Quran sebagai pedoman hidup bagi umat manusia memberikan rambu-rambu yang jelas agar terhindar dari semua itu, diantaranya dalam Surat Al-Hujarat ayat 11 yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ.

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.”.(QS: Al-Hujarat: 11)
Allah SWT melarang kita untuk saling merendahkan satu dengan yang lain. Bahkan perempuan dikhususkan tidak boleh merendahkan perempuan yang lain, karena belum tentu yang kita rendahkan itu hina justru memiliki prestasi dan derajat lebih tinggi dihadapan Allah SWT. Dan dengan saling merendahkan juga tidak menutup kemungkinan muncul dampak-dampak keburukan yang lain yang justru jauh lebih besar.
Dalam ayat yang lain Allah melarang kita untuk saling berprasangka buruk, menyebar isu, dan ghibah. Sebagaimana dinyatakan dalam ayat Al-Quran yang lain:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ.
” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka, karena sebagian dari prasangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang. Jangan pula menggunjing satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Hujurat: 12) 
Tetapi sikap larangan terhadap berperasangka buruk bukan berarti menghilangkan kita untuk sikap berhati-hati terhadap laku dan penampilan lahir dari orang lain.

Sidang Jum’at yang dimuliakan Allah
Masa yang akan datang warga bangsa ini akan menghadapi agenda-agenda nasional yang cukup besar yang karenanya nasib, status, dan masa depan seseorang dapat berubah. Terkadang untuk mencapai itu semua orang melakukan berbagai cara, kebaikan seseorang karena faktor kebencian bisa diputar menjadi isu kejelekan. Begitu juga sebaliknya, kejelekan seseorang karena kecintaan dan dukungannya bisa berubah menjadi isu kebaikan.

Mudah-mudahan kita semua tidak larut dalam arus itu secara liar, tetapi tetap mampu memegang nahkoda itu untuk tetap dijalur yang semestinya. Dan setelah itu, apakah hasilnya sesuai dengan harapan atau tidak, berhasil atau gagal, kita tetap terjaga dan terhindar dari perpecahan dan perselisihan sebagaimana disindir oleh ayat yang lain:

واَعْتصِمُواْ بِحَبْلِ الله جَمِيْعًا وَلاَ تَفَـرَّقوُا وَاذْ كـُرُو نِعْمَتَ الله عَلَيْكُمْ إٍذْكُنْتُمْ أَعْـدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلـُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَاناً وَكُنْتُمْ عَلىَ شَفاَ خُـفْرَةٍ مِنَ النَّاِر فَأَنْقـَدَكُمْ مِنْهَا كَذَالِكَ يُبَبِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَاتِهِ لَعَلـَّكُمْ تَهْـتَدُونَ.
“Dan berpegang teguhlah kamu sekalian dengan tali Allah dan janganlah kamu sekalian berpecah belah, dan ingatlah nikmat Allah atas kamu semua ketika kamu bermusuh-musuhan maka Dia (Allah) menjinakkan antara hati-hati kamu maka kamu menjadi bersaudara sedangkan kamu diatas tepi jurang api neraka, maka Allah mendamaikan antara hati kamu. Demikianlah Allah menjelaskan ayat ayatnya agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imron ayat 103)
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرّحِيْم

Demikian penyampaian tenteng Khutbah Jumat : Menyikapi Berbagai Perbedaan Manusia, mudah-mudahan kita semua tetap dalam rambu-rambu dan petunjuk Allah SWT. Itulah tadi Menyikapi Berbagai Perbedaan semoga bermanfaat.
loading...

0 komentar