Cerita Hikmah : Tata Cara dan Adab Memberi Nasehat

AkhbarIslam.Com - Cerita Hikmah kali ini adalah tentang Tata Cara dan Adab Memberi Nasehat yang sangat inspiratif. Adab Memberi Nasehat haruslah diperhatikan. Begitu juga tentang Tata Cara Memberi Nasehat kepada orang lain. Tak hayal jika salah saja kita memberi nasehat, terkadang akan memicu pertikaian dan peperangan.

Dalam Islam, Adab Memberi Nasehat memiliki cara tersendiri. Hendaklah cara tersebut selalu dijalankan agar semakin mempererat tali silaturahmi. Karena tujuan memberi nasehat itu sebenarnya sakanglah baik. Namun jika salah dalam Tata Cara Memberi Nasehat, tak sedikit orang justru menjadi bermusuhan. Agar menjadi pelajaran bagi kita, mari kita simak Cerita Hikmah berikut ini.

Cerita Hikmah : Tata Cara dan Adab Memberi Nasehat
Ilustrasi : Cerita Hikmah - Tata Cara dan Adab Memberi Nasehat

Cerita Hikmah : Tata Cara dan Adab Memberi Nasehat


Harun ibn ‘Abdillah, seorang ulama ahli hadits yang juga pedagang kain di kota Baghdad bercerita :

Suatu hari, saat malam beranjak larut, pintu rumahku di ketuk. “Siapa..?”, tanyaku.

Ahmad”, jawab orang diluar pelan.

Ahmad yang mana..?” tanyaku makin penasaran.

Ibn Hanbal”, jawabnya pelan.

Subhanallah, itu guruku..!, kataku dalam hati.

Maka kubuka pintu. Kupersilakan beliau masuk, dan kulihat beliau berjalan berjingkat, seolah tak ingin terdengar langkahnya.

Saat kupersilakan untuk duduk, beliau menjaga agar kursinya tidak berderit mengeluarkan suara.

Wahai guru, ada urusan yang penting apakah sehingga dirimu mendatangiku selarut ini..?

Maafkan aku ya Harun… Aku tahu biasanya engkau masih terjaga meneliti hadits selarut ini, maka aku pun memberanikan diri mendatangimu. Ada hal yang mengusik hatiku sedari siang tadi.

Aku terkejut. Sejak siang..? “Apakah itu wahai guru?

Mmmm begini…” suara Ahmad ibn Hanbal sangat pelan, nyaris berbisik.

Siang tadi aku lewat disamping majelismu, saat engkau sedang mengajar murid-muridmu. Aku saksikan murid-muridmu terkena terik sinar mentari saat mencatat hadits-hadits, sementara dirimu bernaung di bawah bayangan pepohonan.

Lain kali, janganlah seperti itu wahai Harun. Duduklah dalam keadaan yang sama sebagaimana murid-muridmu duduk..!

Aku tercekat, tak mampu berkata. Maka beliau berbisik lagi, mohon pamit, melangkah berjingkat dan menutup pintu hati-hati. Masya Allah, inilah guruku Ahmad ibn Hanbal, begitu mulianya akhlak beliau dalam menyampaikan nasehat. Beliau bisa saja meluruskanku langsung saat melintasi majelisku. Tapi itu tidak dilakukannya demi menjaga wibawaku dihadapan murid-muridku.

Beliau juga rela menunggu hingga larut malam agar tidak ada orang lain yang mengetahui kesalahanku. Bahkan beliau berbicara dengan suara yang sangat pelan dan berjingkat saat berjalan, agar tidak ada anggota keluargaku yang terjaga.

Lagi-lagi demi menjaga wibawaku sebagai imam dan teladan bagi keluargaku.

Saudara/i seiman... Memberi nasehat hendaklah mengikuti filing yang baik seraya kita merasakan sebagai si objek. Sehingga kita akan lebih merasakan bagaimana baiknya kita memberi nasehat. Acap kali kita senantiasa blak-blakan namun tidak melihat kondisi saat itu. Kerap kali hal seperti ini memicu permasalahan dan memecah tali silaturahmi. Untuk itu, mulai saat ini mari kita sama-sama mencoba memberi nasehat dengan baik kepada siapa saja. Karena sebenarnya memberi nasehat itu sudah merupakan tindakan kebaikan, namun harus sejalan dengan adab dengan melihat kondisi saat itu.

Cerita Hikmah : Tata Cara dan Adab Memberi Nasehat

"Nasehatilah aku ketika sendiri. 
Jangan nasehati aku di keramaian,
Karena itu akan menjadi suatu penghinaan bagiku."
Imam Asy-Syafi'i

Itulah tadi  Cerita Hikmah tentang Tata Cara dan Adab Memberi Nasehat yang telah kita baca dan telaah bersama. Semoga dengan cerita ini, dapat kita memperoleh hikmah yang baik. Bahwasanya memberi nasehat haruslah dengan cara dan adab yang baik. Bagikan cerita ini untuk memberi manfaat juga kepada orang lain.
loading...

0 komentar