Pesan Islam : Semua Warga Setara, Tidak Boleh Dibedakan



Perbedaan itu sesuatu yang alamiah dan ilahiah. Sudah dari asal kejadian, setiap manusia memiliki ciri khas yang membedakan: bentuk fisik dan warna kulit, juga aktifitas kehidupan duniawi yang menyangkut rezeki dan kepangkatan. Meskipun usaha yang bersifat manusiawi memungkinkan untuk melakukan perubahan, tetapi tidak untuk dipersoalkan, apalagi dibeda-bedakan.

Siapapun, jika menjadi pemimpin dalam masyarakat, memiliki tugas dan fungsi mengayomi semua warga dan menyatukan dalam satu ikatan kebersamaan. Juga menyetarakan kedudukan mereka di depan hukum dan pemerintahan.

Allah swt mengingatkan pentingnya persamaan kedudukan itu: "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal...." (QS. 49:31)

Dan kesetaraan itu harus diwujudkan melalui proses: dibangun dan diwacanakan melalui komunikasi progressif dan berkelanjutan. Kata AlQuran pererat hubungan dengan kasih sayang (silaturrahmi), bukan sebaliknya: ..., dan (peliharalah) hubungan silaturrahmi. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu. (QS. 4:1)

Sungguh telah mencederai islam secara nyata jika ada dari umatnya yang sengaja mengkotak-kotakkan masyarakat berdasarkan garis keturunan, lebih lagi jika menyangkut rasisme. Karena kehadiran islam untuk meniadakan hal demikian sejak dalam pikiran. "Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk-bentuk kalian, melainkan hati dan perbuatan kalian," kata Nabi saw.

Lebih dari itu, Nabi saw meneladankan pesan Allah swt melalui sabda yang sangat mendasar dalam soal kesamaan dan kesetaraan ini: "Setiap kalian dari adam dan adam dari tanah" dan "Bukan golongan kami orang yang mengagung-agungkan kesukuan".

Menyangkut soal kelebihan harta dan derajat, Allah juga mengingatkan: "Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (QS. 42:32)

Oleh karenanya, dengan alasan apapun, membeda-bedakan warga negara adalah bentuk nyata melawan Tuhan. Berteriak merasa "dijajah" dengan maksud memancing sentimen masyarakat agar terdorong untuk mengumpulkan kekuatan guna melawan yang lain, lebih lagi jika sampai mengambil kebijakan yang didasari rasisme, adalah satu kezhaliman di dunia beradab yang tidak akan termaafkan. Dan pemimpin yang demikian lebih pantas disebut "a waste of civilization". Tidak ada manfaatnya bagi negeri ini, baik sekarang, lebih lagi untuk masa yang akan datang.

Wa Allah A'lam...

loading...

0 komentar