Islam dan Adat : Di Alam Pikir dan Praktek Masyarakat Melayu








Bagi masyarakat Melayu, Islam dan budaya adalah dua hal yang tidak bisa dipisahkan, karena tanpa budaya, wahyu tidak mungkin mewujud dalam realitas. Contoh: perintah sembahyang adalah wahyu, tetapi dalam pelaksanaannya membutuhkan kain penutup aurat yang bersifat budaya; perintah haji adalah wahyu, tetapi kendaraan yang dipakai untuk melaksanakan adalah budaya; dst...
Namun demikian, wahyu dan budaya tetap berbeda, bahkan bertolak belakang, karena: (1) wahyu bersifat sakral, sedangkan budaya bersifat profan; (2) wahyu bersifat abadi, sedangkan budaya bersifat temporer; (3) wahyu yang menjadi sumber ajaran bersifat universal, tetapi saat dikomunikasikan kepada manusia menjadi bersifat lokal.

Tetapi dalam ibadah mahdlah (sembahyang, puasa, haji, dan zakat) kebersamaan wahyu dan budaya dipahami dengan "diimani dan diamini" tanpa bertanya (ta'abbudi), meskipun tidak juga litterlijk. Dengan kata lain, dilaksanakan dengan ketundukan yang penuh pada batasan syarat, rukun dan sunnahnya. Contohnya penutup aurat saat sembahyang, yang digunakan tetap penutup yang diciptakan sendiri: telkung atau mukena untuk perempuan dan kain sarung serta kopiah untuk laki-laki.
Berkaitan dengan ibadah mahdlah ini muncullah kaidah dalam adat Melayu: "Dalam ibadah yang ditunggu perintah dan yang dilihat contoh".
Berbeda halnya saat memahami aktifitas keagamaan selain ibadah mahdlah, masyarakat Melayu sangat selektif dan kreatif. Keduanya -agama dan budaya- diurai dengan teliti dan hati-hati: unsur yang bersifat wahyu dipegang penuh, sedangkan yang bersifat budaya disesuaikan dengan adat budaya Melayu. Contoh: peringatan hari besar agama (idul fitri dan adha) atau yang bersifat keagamaan (maulid Nabi dan isra' mi'raj): sembahyang id adalah ibadah mahdlah, maka diikuti secara penuh, sedang aktifitas selainnya dilaksanakan mengikut adat dan budaya Melayu.
Adapun selain ibadah mahdlah, masyarakat Melayu tetap berpegang teguh kepada adat budaya, selagi tidak dilarang oleh wahyu. Contoh: di acara nikah-kawin, ritual adat budaya Melayu dilaksanakan secara penuh: merisik, meminang, hantar belanja, menggantung, sampailah mandi kumbo taman. Tetapi hal yang bersifat wahyu tetaplah ditaati secara penuh mengikuti syarat dan rukunnya, yakni akad nikah atau ijab qabul. Dan yang sangat menakjubkan, masyarakat Melayu telah memasukkan nuansa serba islam dalam setiap ritual adat budaya Melayu tanpa merubah adat dan budaya tersebut. Unsur islam yang dimasukkan dalam ritual adat seperti: membaca kitab suci, shalawat, zikir dan do'a.
Sedangkan untuk aktifitas di luar ibadah mahdlah, masyarakat Melayu berpegang kepada dalil: "Di luar ibadah yang ditunggu cegah". Artinya, selagi tidak ada larangan dari wahyu, maka semuanya diperbolehkan. Dan dengan berpegang kepada dalil "tidak dilarang oleh wahyu" inilah maka adat dan budaya Melayu ikut memberi andil yang genuin kepada agama islam di nusantara; telah pula membuktikan diri sebagai masyarakat islam yang kokoh karena kesantunan budayanya dibandingkan banyak negeri muslim lain yang sudah porak poranda.
-
Mengamalkan islam dengan pendekatan budaya seperti di atas, boleh dikata menjadi ciri khas masyarakat Melayu. Karena sudah tergambar dengan jelas dalam peribahasa: "Syara' mengata adat memakai", atau "Adat bersendi syara', syara' bersendi kitabullah". Syara' yang dimaksud tidak lain adalah agama atau wahyu (kitabullah), sedangkan adat adalah budaya (artefact dan sosiofact).
Jika dipertajam dan diurai secara teori budaya: syara' tidak lain adalah sistem nilai yang tidak kasat mata (syara' yang bersifat intrinsik), sedangkan adat adalah sistem simbol yang kasat mata (ekstrinsik).
-
Tanpa bermaksud menggurui, saya mengatakan bahwa, mendekati agama (islam) dengan menggunakan cara berpikir yang sudah diletakkan dasarnya oleh masyarakat Melayu tempoe doeloe adalah satu kebaikan. Dan sebagai bagian dari Melayu, sebaiknya cara ini dijadikan satu kemestian. Lebih lagi dalam kondisi kekinian, dimana semua budaya di dunia, tidak terkecuali Melayu, mendapat serangan dari berbagai arah (sp. Barat dan Arab), maka kembali ke pondasi dasar cara berpikir masyarakat Melayu tempoe doeloe adalah jalan keluar yang sangat tepat.
Wa Allahu A'lam...

loading...

0 komentar