Uji Dan Amatilah Orang Yang Pandai Berbicara

Uji Dan Amatilah Orang Yang Pandai Berbicara
Ilustrasi - Uji Dan Amatilah Orang Yang Pandai Berbicara

Belakangan ini banyak sekali orang pandai berbica namun memiliki akhlah yang kurang baik. Untuk itu, Uji dan Amatilah Orang yang Pandai Berbicara, karena dia pandai berbicara belum tentu begitu adanya. Tak sedikit orang pandai berbicara namun jauh bertolak belakang dengan kepribadiannya.

Seandainya kita teliti sejauh mana penerapan ilmu yang penting ini, maka kita pasti menemukan lobang-lobang besar di dalam sejarah harakah Islamiyah Kontemporer, di mana terjadi penipuan dengan menampilkan para khatib, para pemegang ijazah yang tinggi, dan orang-orang terkenal, sebagai para pemimpin tanpa menguji mereka terlebih dahulu melalui pengalaman yang panjang. Dakwah berada dalam posisi sulit untuk mengaitkan mereka dengan nama dakwah. Dan barang tambang yang lemah senantiasa membongkar kedok dirinya melalui pantangan atau motivasi atau politik pergerakan yang menuntut intelektualitas untuk memahaminya, sehingga terjadi kemunduran.

Uji Dan Amatilah Orang Yang Pandai Berbicara


Sesungguhnya keimanan, fiqih dakwah, keaktifan di dalam aktivitas tanzhim dan tarbiyah dan kejelasan ketaatan merupakan perkara-perkara pasti (muhkam) yang harus berlaku di dalam proses seleksi dan pemilihan amir, bukan dengan syarat-syarat jabatan pemerintahan dan pengetahuan akademik.

Bahkan, para da'I harus mewaspadai orang yang pintar bicara dan memaksakan diri untuk berbicara fasih. Karena kelemahan dan kemunafikan banyak ditemukan pada jenis manusia ini. da'I tidak boleh percaya sepenuhnya kepada seseorang dengan sifat ini, kecuali setelah mengujimnya, lalu mengawasinya dengan seksama. Tautsiq (penilaian tentang kelayakan) untuknya diberikan setelah menguji dan setelah meloihat tanda-tanda keimanan dan kebenaran imannya.

Dalam hal ini da'i punya teladan di masa lalu. Ketika Umar bin Khaththab radiyallahu 'anhu khawatir terhadap Ahnaf bin Qais radhiyallahu 'anhu—karena Ahnaf berbicara diplomatis dan mengagumkan. Umar menyuruhnya menetap di Madinah selama setahun untuk mengawasinya, kemudian Umar berkata kepadanya,

"Hai Ahnaf, aku telah mengujimu dan aku tidak melihat pada dirimu selain kebaikan. Aku melihat sisi luarmu baik, dan aku berharap sisi hatimu seperti sisi luarmu. Sesungguhnya kami berkata: yang merusak umat ini adalah setiap orang munafik yang pandai."

Umar bin Khaththab menulis surat kepada Abu Musa al-Asy'ari: amma ba'du, dekatilah Ahnaf bin Qais, "ajaklah ia bermusyawarah, dan dengarlah pendapatnya."

Betapa banyak dakwah di dunia Islam pada hari ini dipenuhi oleh orang-orang yang harus diuji oleh para pemimpin dakwah, dan betapa besar kebutuhan pada da'I terhadap semacam pengetahuan Umar bin Khaththab ini.

Betapa banyak orang yang berbicara atas naman Islam dengan propaganda, tetapi ternyata mereka adalah orang-orang oportunis yang kering hati dan jiwa.

Benarlah apa yang dikatakan Abdul WAhhab 'Azzam:
Di tengah manusia ada wajah-wajah yang cerah
Memenuhi mata dengan bunga dan kesegaran
Namun orang yang bermata hati tajam
Melihatnya dalam wujud bunga
Yang tidak terhembus kehidupan dengan wewangian dan air.

Untuk hal semacam ini, kaum salafush shalih membiasakan pesan akan pentingnya pengujian semacam ini, seperti pemuka tabi'in Hasan al-Bashri.,

"Ujilah manusia dengan amal mereka dan tinggalkanlah ucapan mereka. Sesungguhnya Allah tidak membiarkan suatu ucapan kecuali Dia pasti menjadikan bukti untuknya berupa amal yang membernarkannya atau mendustakannya. Apabila kamu mendengar ucapan baik, maka jangan terburu meilai orang yang mengatakannya. Apabila amalanya sesuai dengan ucapannya, maka bersaudaralah dengannya dan cintailah dia. Dan apabila ucapannya bertentangan dengan amalnya, maka apa yang membuatmu ragu mengenainya, atau apa yang menghalangimu terhadapnya? Jangan sekali-kali ia mengelabuhimu."

Itulah pesan di masa lalu, tetapi hati lalai. Syahwat untuk cepat sampai atau syahwat untuk memperbanyak pendukung membuat lalai dan mengakibatkan kita melewatkan ilmu yang kita warisi.

Bahan bacaan lanjutan :
Ar-Rasyid, M. Ahmad. Titik Tolak (terj. Abu Sa'id al-Falahi). Jakarta: Robbani Press, cet.I, 2005, h. 311-313.

Semoga dengan artikel ini, kita selalu berhati-hati dan saling mengingatkan sesama muslim. Dengan itu, Uji Dan Amatilah Orang Yang Pandai Berbicara terlebih untuk dijadikan sebagai pemimpin negeri ini.
loading...