Penaklukan Kota Mekkah






(Menyiram Api Dendam dengan Air Kasih Sayang)

Penaklukan kota mekkah yang diistilahkan dengan “fath Makkah” merupakan momen penting dan strategis dalam sejarah Islam sebagai misi terakhir dari dakwah Islamiyah Nabi Muhammad saw di tanah Hijaz. Penaklukan kota Makah memang harus dilakukan Nabi saw untuk membebaskan penduduknya terutama kalangan mustadh’afin (orang-orang lemah) dari tirani dan kesewenang-wenangan para elitnya yang selalu menindas. Serta menyelamatkan mereka dari kemusyrikan (paganisme) dan mengambil alih penguasaan atas ka’bah sebagai simbol agama tauhid.

Ada satu cerita yang menarik sewaktu pembebasan kota mekkah ini, sewaktu pasukan kaum muslimin sudah memasuki kota mekkah, sebagian para sahabat berteriak,” al-yaum yaum al-malhamah” (hari ini adalah hari balas dendam). Dahulu kita diusir dari tanah kelahiran kita ini, harta benda kita dirampas, sebagian keluarga kita disiksa bahkan ada yang terbunuh. Inilah kesempatan yang tepat bagi kita untuk membayar hutang-hutang penderitaan dan darah pada masa lalu kita dari para petinggi Mekkah. Mendengar pernyataan sebagian para sahabat itu, Nabi Muhammad saw menjawab,” ,” al-yaum yaum al-marhamah” (hari ini adalah hari kasih sayang), tidak ada upaya balas dendam. Siapa yang masuk masjid, ia akan aman. Siapa yang masuk rumah Abu Sofyan bapaknya Muawiyah, ia akan aman. Siapa yang masuk ke rumah-rumah mereka, maka ia juga akan aman. Akhirnya dengan cara yang sangat bijak ini, kota Mekkah berhasil dibebaskan tanpa adanya bakar-bakaran, pengrusakan dan pertumpahan darah.

Seperti itulah Nabi Muhammad saw, sosok tauladan kita yang perkataan, sikap dan perbuatannya selalu penuh kearifan dan kemaslahatan. Tidak seperti sebagian sahabat seperti diceritakan di atas, yang mudah sekali terpancing dan bersikap emosional.
Sebenarnya dalam kacamata kita yang awam ini, sikap yang akan diambil sebagian sahabat melalui pernyataan tersebut sesuatu yang wajar dan pantas sebagai bentuk pelajaran bagi penguasa Mekkah yang bertindak sewenang-wenang atas mereka di masa lalu. Tapi Islam sebagai agama Rahmatan Lil’alamin tidak mengajarkan sikap balas dendam karena dikhawatirkan akan terjatuh pada prilaku yang melampaui batas. Mungkin kita, dalam batas-batas tertentu, akan merasa puas melakukan balas dendam tapi tanpa kita sadari tindakan tersebut akan merusak citra Islam dan akan menciptakan kebencian semakin bertumpuk-tumpuk.

Semangat (jihad) untuk membela agama merupakan semangat yang terpuji tapi semangat tersebut harus mengikuti petunjuk-petunjuk yang dicontohkan oleh Baginda Rasulullah saw. Imam al-Ghazali menyatakan dalam magnum opusnya “Ihya ‘Ulum al-Din bahwa mencegah kemungkaran tidak boleh dengan melakukan kemungkaran baru. Prinsip Islam sebagai agama Rahmat al-‘Alamin harus kita kedepankan. Jangankan dalam situasi normal, dalam situasi perang saja Islam melarang kita membunuh perempuan dan anak-anak, merusak lingkungan dan rumah-rumah ibadah non Muslim. Sikap kita yang melampaui batas boleh jadi akan menyuburkan kebencian terhadap Islam. sebaliknya sikap kasih sayang dan cinta damai akan menumbuhkan simpatik dan keberpihakan terhadap Islam. Bahkan dalam batas-batas tertentu akan menjadi sebab seseorang mendapat hidayah Islam.

Kita harus banyak belajar tentang Islam dari Nabi Muhammad saw tentang Islam. Nabi Muhammad saw berdakwah menyebarkan Islam tidak dengan kebencian dan dendam tapi dengan kasih sayang dan akhlak (budi pekerti) yang mulia. Semangat jihad membela Islam jangan dinodai dengan sikap dan prilaku yang kurang terpuji. Jangan kita melakukan pembenaran terhadap perbuatan yang kurang terpuji atas nama agama. Islam adalah agama yang memuliakan manusia. karena itu kita harus berupaya untuk memuliakan manusia. jangan bersikap zalim terhadap manusia lainnya. Wallah A’lam***

Oleh: Amrizal Isa
loading...

0 komentar