Musik (Teladan dari Nabi)








Perubahan itu pasti. Ia terjadi dalam setiap hembusan nafas dan ayunan langkah. Dan ada dampaknya di jiwa setiap ada pergeseran dari satu titik ke titik yang lain. Bisa bahagia, berduka atau biasa saja. Suasana kejiwaan itu berbanding lurus dengan rentang pergeseran yang tercipta dalam ruang dan waktu peristiwa.

Masa yang sebentar dan jarak yang sedikit, akan sedikit pengaruhnya bagi jiwa. Begitu pula sebaliknya.

Dengan akal manusia mengingat dan menandai setiap peristiwa perubahan. Yang menimbulkan goncongan besar bagi jiwa, akan ditandai dengan sesuatu yang besar. Begitu pula kebalikannya. Peristiwa perubahan, bisa positip, bisa pula negatif. Yang positip memberi kebahagiaan, sedangkan yang negatif kedukaan.

Sebagai penanda perubahan, maka diciptakanlah acara seremonial. Semakin banyak yang terlibat dalam perubahan itu, akan semakin besarlah acara seremonial yang diadakan. Setiap masyarakat menciptakan model seremonial pengingat perubahan. Antara satu dengan yang lain menampilkan budaya yang berbeda, tetapi bisa saja sama.

Peristiwa hijrah Nabi Muhammad dari Mekah ke Yastrib adalah peristiwa perubahan yang besar, baik ruang maupun waktu. Dan yang terlibat dalam peristiwa itu juga banyak, kaum muhajirin dan anshar. Maka dampak kejiwaan yang ditimbulkan juga luar biasa. Maka masyarakat Yastrib secara sukarela berkumpul menyambut kedatangan Nabi saw.. Musik, tarian dan nyanyian ikut memeriahkan acara seremonial penyambutan. Nabi sangat senang dengan seremonial tersebut.

Hari-hari berikutnya, setelah beliau tinggal di Yatsrib/Madinah, setiap ada peristiwa perubahan dan melibatkan orang banyak beliau ikut menikmati acara seremonial dengan hiburan musik, nyanyian dan tarian. Hadist Nabi banyak merekam peristiwa itu, seperti:

Diriwayatkan dari Rubayyi’ binti Mu’awwidz beliau berkata ”Rasulullah SAW datang, pagi-pagi ketika pernikahan saya kemudian Beliau SAW duduk dikursiku seperti halnya kau duduk sekarang ini di depanku, kemudian aku menyuruh para Jariyah memainkan Duff, dengan menyanyikan lagu-lagu balada orang tua kami yang syahid pada perang Badr, mereka terus bernyanyi dengan syair yang mereka kuasai, sampai salah seorang dari mereka mengucapkan syair yang berbunyi…”Diantara kita telah hadir seorang Nabi yang mengetahui hari depan”…Maka Nabi SAW bersabda ”Adapun syair ini janganlah kamu nyanyikan”. (Hadis Shahih Bukhari Kitab Nikah Bab Dharbal Duff Al Nikah Wa Al Walimah no 5147, juga diriwayatkan dalam Shahih Ibnu Hibban no 5878).

Begitu pula  ketika hari raya, Nabi dan Isterinya Aisyah juga menikmati musik, nyanyian dan tarian. Berikut hadistnya:

Dari Aisyah ra Suatu hari Abu Bakar ra masuk ke rumah Rasul SAW disana ada dua jariyah yang sedang bernyanyi dengan memainkan rebana, mereka sudah biasa bernyanyi, sedangkan Rasulullah SAW terhalang dengan tirainya. Abu Bakar melarang keduanya sehingga Rasulullah SAW membuka tirai sambil bersabda ”Wahai Abu Bakar biarkanlah (mereka bernyanyi) karena hari ini adalah hari Id (hari raya)”. (Hadis Shahih Bukhari dan Shahih Muslim sebagaimana disampaikan Syaikh Al Albani dalam Ghayatul Maram Takhrij Al Halal Wal Haram Fil Islam hadis ke 399Al Maktab Al Islami Al Ula hal 227).

Begitu jugalah yang terjadi saat ini, pergantian tahun adalah peristiwa besar dan melibatkan seluruh umat manusia, maka kebahagian jiwa dari perubahan itu ditandai dengan hiburan. Berbagai macam hiburan diadakan: musik, tarian, nyanyian dan senda gurau. Itulah wujud kesyukuran atas kenikmatan yang kita dapatkan.

Semoga bernilai ibadah, karena meneladani Nabi saw.. Dan, selamat mencintai dan meneladani Nabi saw. dengan merayakan kelahiran Nabi Muhammad saw..

Masdarudin Ahmad
loading...

0 komentar