Manusia & Puasa







Dalam alQuran diceritakan bahwa, hakikat manusia adalah ruh Tuhan yang ditiupkan ke dalam tubuh yang terbuat dari tanah. Tubuh telah menjadi "penjara" bagi ruh untuk kembali kepada Sang Pencipta. Begitulah Tuhan menghendaki, dan telah menjadi takdir bagi ruh menghuni tubuh.

Kehadiran ruh ke dalam tubuh memiliki makna tersimpan. Di antaranya, ruh telah menjadikan tubuh terhormat dan mulia. Di sisi lain ruh telah menjadikan syaitan terkutuk dan celaka.

AlQuran menceritakan, karena kehadiran ruh, tubuh yang dari tanah mendapat penghormatan dari malaikat. Ketika awal kejadian itu, semua penghuni langit diperintah Tuhan agar bersujud kepada manusia. Dan semuanya bersujud, kecuali iblis.

Nenek moyang syaitan ini tidak mahu sujud, karena tubuh manusia tercipta dari tanah. Berbeda dengan fisik syaitan yang terbuat dari api.

Berdasarkan pemahaman yang harfiyah, syaitan tetap teguh keingkarannya kepada Tuhan. Syaitan tidak mahu bersujud, karena merasa lebih mulia dari manusia.

Keteguhan dalam keengganan iblis adalah pertanda kebodohannya. Karena, hanya si bodoh yang merasa dirinya lebih terhormat atau sombong.

Padahal yang sesungguhnya, iblis itu makhluk paling bodoh. Karena, ia tidak tahu hakikat manusia yang sesungguhnya.

Ya. Iblis bermazhab tekstualis, yang melihat kebenaran dari yang terlihat di mata. Nenek moyang syaitan itu hanya mampu melihat yang "tertulis", yakni tanah liat yang berubah menjadi tubuh. Dan dia tidak mampu melihat di sebalik tubuh manusia, yang di sana bersemayam ruh Tuhan.

Berbeda dengan malaikat yang memiliki kecerdasan. Meskipun masih kalah dengan kecerdasan manusia, tetapi malaikat sudah mampu melihat disebalik "teks", yaitu tentang hakikat disebalik tubuh dari tanah. Yakni ruh Tuhan yang telah memberi kehidupan kepada tubuh/tanah.

Karena kecerdasannya, malaikat dengan penuh ketaatan sujud kepada manusia. Karena yang dilihat oleh malaikat adalah hakikat diri manusia, yaitu ruh Tuhan yang menghidupkan di sebalik yang "tertulis", tubuh.

=============

Pada diri manusia, ruh Tuhan telah menghidupkan tubuh. Karenanya, ruh menyatu dengan manusia yang hidup. Tetapi, Tuhan yang Maha Pengasih masih tetap dan senantiasa menjalin kebersamaan dengan ruh. Kebersamaan Tuhan dengan ruh manusia dapat dirasakan melalui hati nurani atau suasana batin.

Suara batin yang senantiasa berdetak di kedalaman jiwa manusia adalah getar ketuhanan (khatir ilahiyyah). Tuhan berbisik kepada manusia melalui getar batin. Begitu juga sebaliknya, manusia menyapa dan mengadu kepada Tuhan juga melalui getaran pada batin yang sama.

Berkaitan dengan getar batin atau hati nurani ini, nabi Muhammad saw bersabda "istafti qalbak," mintalah fatwa/pendapat kepada hatimu. Hadist ini memeritahu bahwa, pemilik kebenaran adalah Tuhan yang bersemayam di hati manusia. Dan, kebenaran yang dicari manusia telah Tuhan bisikkan melalui hati nurani yang bergetar. Dengan kata lain, getaran hati adalah suara Tuhan, dan pasti benar.

Pada gilirannya, getar Tuhan membimbing manusia kepada kebenaran dan kebaikan. Semua manusia yang mahu mendengar suara hati nurani, pasti akan mejadi manusia berkarakter; berkepribadian yang tenang dan memiliki keteguhan hati yang kokoh dalam kebaikan dan kebenaran.

================

Adapun langkah yang harus ditempuh untuk dapat mendengar dan memahami suara hati nurani adalah: kondisi fisik yang hening dan suasana hati yang pasrah.

Kondisi hening diperoleh dengan menafikan segala yang indrawi. Telinga, mata, mulut, hidung dan kemaluan haruslah "ditutup" dari sesuatu yang duniawi. Hakikat puasa yang paripurna bertujuan untuk "menutup" pintu-pintu yang duniawi tersebut. Dan dimaksudkan, agar hati dan pikiran dapat beristirahat dengan tenang.

Dan ketenangan pikiran akan membawa manusia kepada suasana hati yang pasrah. La haula wa la quwwata illa billah, tiada daya dan upaya selain Allah. Suasana kebatinan manusia sudah menyatu dengan Tuhan. Maka, segala gerak dan apapun yang terjadi pada tubuh manusia tidak terlepas dari kehendak Tuhan.

Rasa yang selalu terhubung dan bersama dengan Tuhan, akan menumbuhkan kondisi jiwa dan kecerdasan spiritual yang dapat menangkap pesan Tuhan melalui getaran dalam hati. Itulah getaran ketuhanan yang selalu terkalahkan oleh informasi duniawi melalui panca indera.

Semakin hening dan pasrah, akan semakin nyaring suara Tuhan terdengar.

Sejurus dengan hati yang telah terpaut bersama Tuhan, maka pikiran akan belajar mengolah data Tuhan yang diinformasikan ke hati nurani melalui getaran. Begitu mulai terasakan, maka dialog pikiran dengan hati nurani akan berlangsung semakin baik. Begitu, begiutu, dan begitu seterusnya.

Jika pengaruh dunia benar-benar dapat dinafikan dari hati dan pikiran, maka getar Tuhan di dalam hati akan dapat terlampaui. Dimana hati telah berubah fungsi menjadi pintu menuju Tuhan, yang memberi dampak luar biasa kepada manusia.

Berdialog langsung dengan Tuhan, adalah puncak perjalanan spiritual. Hal seperti itu hanya terjadi pada manusia yang tercerahkan, seperti Muhammad saw yang berubah status menjadi Nabi, atau Sidharta Gautama yang tercerahkan menjadi Sang Buddha.

================

Kewajiban berpuasa adalah media yang Tuhan persembahkan kepada manusia untuk menjadi pengingat akan hakikat diri. Dimana, Tuhan merindukan manusia. Tuhan menginginkan hamba yang dititipi ruhNya kembali. Dan, dengan berpuasa, kebersamaan dengan Tuhan dapat terasakan. Hati dan pikiran orang yang berpuasa juga terdorong untuk mewujudkan kebersamaan dengan Sang Pencipta.

Sebagai wujud nyata dari puasa yang diterima, dan meditasi yang telah mempertemukan diri dengan Tuhan, maka menjelmalah manusia yang seolah baru terlahirkan. Manusia yang hidup dan matinya secara sungguh sungguh dipersembahkan kepada Tuhan dengan cara mengabdi kepada kehidupan manusia dan peradaban.

Yaitu, manusia yang tangannya tidak henti-hentinya menghulurkan bantuan kepada siapapun yang memerlukan. Hartanya disumbangkan untuk membantu kemanusiaan. Bukan hanya zakat yang diwajibkan, melainkan juga sedekah sunnah, waqaf dan berbagai bantuan lainnya.

Semoga, penghayatan kepada hakikat penciptaan diri melalui kewajiban puasa yang dijalankan dapat kita wujudkan.

Masdarudin Ahmad
loading...

0 komentar