Batu Akik





Batu akik adalah benda budaya yang bersifat simbolik. Ia mempresentasikan makna; nilai dan kegunaan tertentu. Meskipun simbol bukanlah makna itu sendiri, namun simbol sangatlah dibutuhkan untuk kepentingan penghayatan akan nilai-nilai dan kegunaan, atau makna yang diwakilinya.

Melalui simbol, makna seakan menjadi nyata, bahkan bisa menjadi benar-benar nyata. Simbol juga sangat diperlukan dalam ilmu pengetahuan, kehidupan sosial, juga keagamaan. Simbol yang paling umum ialah tulisan, yang mempresentasikan kata-kata dan suara. Dapat juga berupa warna yang mempresentasikan sifat dan watak tertentu. Tidak kalah seringnya juga, simbol berbentuk benda nyata, seperti tanda salib, bulan bintang dan batu akik.

Batu akik ada banyak jenis. Masing-masing memiliki nilai dan kegunaan. Ada yang memiliki nilai dan kegunaan sama, meskipun berbeda batu. Tetapi kebanyakan nilai dan kegunaan setiap batu akik berbeda, meskipun ada beberapa unsur yang sama, mengikut jenisnya. Umpamanya batu Giok dan Berlian. Pada keduanya, ada kesamaan, juga ada perbedaan.

Giok adalah batu mulia, yang berkaitan langsung ke budaya kuno dari Timur Jauh (Cina dan India) dan Maya. Menurut dua budaya ini, giok adalah batu suci maksimal, yang menciptakan koneksi ke ilahi dan kekal. Giok juga sangat baik untuk memulihkan dan menjaga keseimbangan: antara fisik, emosional, aspek intelektual dan spiritual dari kehidupan.

Di Cina, ada kebiasaan untuk memakai sepotong batu giok sebagai jimat, dan tidak pernah melepasnya. Orang Cina percaya bahwa semakin lama potongan yang dikenakan pada tubuh, warna hijau batu giok dapat mengekstrak penyakit dari tubuh, menjaga pemakainya tetap sehat dan baik.

Juga dipercaya sebagai batu yang sangat baik untuk kekayaan dan prestasi, melepaskan hambatan atau keterbatasan alam bawah sadar dan memberikan kita "izin" untuk mendapatkan apa yang kita inginkan.

Nilai dan kegunaan seperti yang dimiliki batu giok juga dimiliki oleh batu lain, meskipun tidak sama persis. Umpamanya batu berlian, yang dipercaya juga, dapat menetralkan racun, membantu metabolisme dan meningkatkan pandangan mata.

Penggunaan utama berlian di penyembuhan adalah memasangkannya dengan batu lainnya untuk mengintensifkan energi yang dimiliki.

Nilai dan kegunaan seperti dipercayai oleh masyarakat adalah makna konotatif. Bukan makna sebenarnya batu akik, apapun jenisnya. Karena secara denotatif atau makna dalam kamus, batu permata adalah sebuah mineral, dibentuk dari hasil proses geologi. Unsurnya terdiri atas satu atau beberapa komponen kimia.

Tetapi bagi masyarakat luas, yang memakai ataupun yang tidak, tetap mempercayai, setidaknya memahami bahwa, batu akik tertentu memiliki makna tertentu yang konotatif, berorientasi kepada nilai dan kegunaan.

Makna konotatif bersumberkan cerita yang berkembang di masyarakat, dari mulut ke mulut, dan sangat samar asal muasalnya. Dari makna konotatif inilah, batu akik menjadi sebuah mitos, yang dianggap mempunyai kebenaran yang pernah berlaku pada suatu masa dahulu, yang kebenarannya belum tentu benar adanya.

Batu akik berproses menjadi sebuah mitos, khususnya, dalam islam memiliki kisah yang dianggap sejarah. Mitos batu akik ini tidak dapat dipisahkan dengan cincin. Seperti juga tidak mungkin menggunakan batu akik tanpa pengikat. Dan pengikat batu itu adatnya digunakan di jari tangan, sebagai perhiasan, bagi laki-laki.

Bagi umat islam, kisah cincin bermula dari Nabi Sulaiman. Bangsa Yahudi juga memilki kisah yang sama tentang cincin Nabi Sulaiman ini. Dari kisah yang diceritakan dan terus berkembang di masyarakat bahwa, cincin Nabi Sulaiman bertahtakan batu akik warna merah hati. Sampai sekarang, masyarakat penggemar batu akik selalu mencari batu akik Nabi Sulaiman, warna merah pekat.

Sebagai seorang Nabi yang juga raja, cincin Nabi Sulaiman diidentikkan dengan kekuasaan. Dalam berbagai literatur berbahasa Arab, Wahab bin Munabbih ada berkisah tentang cincin Sulaiman as. yang dicuri oleh syaitan. Ketika mencuri, syaitan menyerupai Nabi Sulaiman dan mengaku sebagai Nabi Sulaiman.

Dan karenanya, Nabi Sulaiman as. kehilangan kekuasaannya selama empat puluh hari. Yaitu selama cincin itu dipakai syaitan. Selama itu pula syaitan menggantikan Nabi Sulaiman as. sebagai raja yang berkuasa atas manusia, jin dan seluruh mahluk lainnya.

Wahab bin Munabbih adalah salah seorang ulama Yahudi yang masuk Islam. Banyak riwayat tentang Bani Israil yang diceritakan olehnya kepada umat Islam. Para ulama juga meriwayatkan cerita tersebut untuk menafsirkan alQuran, juga hadist.

Nabi Muhammad saw. pernah ditanya oleh para sahabat tentang cerita yang bersumber dari Bani Israel atau Yahudi. Jawab Nabi: La Tukazzibuhum Wa La Tushaddiquhum, arti gampangnya, dengarkan sajalah. Terlepas cerita itu benar atau salah. Namun banyak ulama Islam pada masa berikutnya menafsirkan kalimat 'Ahluz Zikri' dalam alQuran dengan "ulama Yahudi dan Kristen." Maksudnya, ketika ingin mengetahui tentang Yahudi, bertanyalah kepada ulama Yahudi. Begittupun dengan kristen, kita harus bertanya kepada ulama kristen.

Dalam kaitannya dengan Nabi Sulaiman as., yang lebih otoritatif untuk bercerita tentulah orang Yahudi, karena Nabi Sulaiman diutus secara khusus untuk Bani Israil, termasuk bangsa Yahudi.

Yang jelas percaya atau tidak, sedikitpun tidak mengganggu iman, karena cerita dalam alQuran sekalipun, hanyalah kisah. Dalam kisah yang dipentingkan bukan benar atau salah, melainkan pesan moral dari kisah yang diceritakan. Ada i'tibar atau pelajaran yang dapat dipetik dari cerita itu, dan itulah yang penting.

Saya tidak akan memberikan penafsiran dan mengambil i'tibar dari kisah dimaksud. Dalam tulisan ini hanya sekedar memberi data tertulis tentang kisah yang berkaitan dengan batu akik. Contoh yang aktual dan sedikit banyak, masih memiliki dokumen tertulis adalah cincin Nabi Sulaiman. Di samping cincin Nabi Sulaiman menjadi cerita yang banyak didengar oleh masyarakat Melayu. Itu saja.

Selain Nabi Sulaiman adalah Nabi muhammad saw. yang juga memiliki cerita tentang cincin. Berdasarkan hadist, setidaknya ada dua buah cincin yang dimiliki Nabi Muhammad saw.. Pertama adalah cincin yang menjadi simbol kekuasaan. Ia  berfungsi sebagai stempel pemerintah. Bertahtakan batu hitam, namanya badar Muhammad.

Menurut beberapa riwayat yang tidak sampai tingkat mutawatir, Nabi saw. menyerahkan cincin itu kepada Abu Bakar, terus ke Umar dan terakhir ke Usman. Di tangan usman, cincin itu terjatuh ke dalam sumur. Dan sumur tempat terjatuhnya cincin Nabi, dinamakan juga sumur cincin (arab: khatam). Dari asal cerita ini mungkin, orang Melayu menamakan sumur yang menggunakan batu dinamai sumur cincin.

Kedua, adalah yang dipakai untuk perhiasan. Yaitu cincin bertahtakan batu warna merah pekat, tetapi ada juga yang menceritakan warna merah delima (arab: rumani ahmar). Banyak hadist Nabi bercerita tentang cincin dan beliau juga meminta Ali ra, memakai cincin yang bertahtakan batu. Ada beberapa jenis batu akik yang dikenal oleh orang Arab ketika itu. Diantaranya batu dari Habsy dan Yaman, yang berwarna merah pekat dan merah darah.

Sekedar informasi, di peradaban Yunani juga memiliki cerita tentang batu. Begitu juga Cina, Mesir, India dan Barat modern. Banyak jenis batu yang memiliki nilai tertentu mengikut zodiak atau rasi bintang kelahiran dan juga bulan kelahiran. Seperti yang lahir bulan April, zodiaknya Taurus, batu permata yang cocok adalah berlian.

Setiap orang memiliki jenis batu permata yang sesuai mengikuti bulan kelahiran. April hanyalah contoh, dan saya mengingatnya, karena April bulan lahir saya, meskipun saya tidak hobi memakai batu akik. Tetapi sangat senang melihat orang lain memakainya. Anak saya sendiri mengoleksi banyak batu akik. Hampir setiap minggu koleksinya bertambah.

Bagi yang percaya terhadap mitos dalam simbol batu akik, sering terbukti bahwa, batu akik tersebut membuat seseorang bisa sampai ke dalam gagasan atau konsep masa depan yang diharapkan. Bahkan bagi yang tidak percaya sekalipun, bisa saja terbukti, hajat dan harapannya kesampaian.

Percaya atau tidak, terbukti atau tidak, semuanya boleh. Karena nilai kegunaan atau makna yang dipercayai masyarakat dari simbol batu akik, hanyalah mitos. Yaitu, kebenaran yang tidak memerlukan penalaran dan pembuktian. Ia hanya dipercayai tanpa perlu mempertanyakan.

Bolehkah?

Mengapa tidak? Karena kepercayaan kepada mitos hanyalah persoalan budaya, dan tidak pernah mengganggu keimanan dan keislaman. Seandainya kepercayaan kepada batu sampai mengganggu iman dan Islam, jelas itu sudah menjadi syirik.

Sepengetahuan saya, nilai dan kegunaan yang dipercayai ada, pada batu akik, dan menjadi efektif bagi penggunanya, hanya bersifat sugestif. Melalui penghayatan kepada nilai di sebalik simbol batu, menjadikan pemakainya lebih percaya diri. Dan dari kepercayaan diri yang kokoh terhadap proyeksi masa depan yang diharapkan, membuatnya lebih mudah untuk mewujudkan.

===================

Ada juga yang mengatakan memakai batu akik itu sunnah Nabi. Ya, semua kebiasaan Nabi disebut sunnah, tetapi bukan yang disyari'atkan agama. Nabi Muhammad saw. memakai akik tidak ada kaitannya dengan iman dan islam. Karena memakai akik bukan pesan agama. Dan, agama diturunkan tidak terkait sedikitpun dengan batu akik. Batu akik itu, murni produk budaya atau peradaban umat manusia dari zaman berzaman. Setiap peradaban menggunakannya. Nabi memakainya, Fir'aun juga.

Andaikan pemakainya mendapat pahala, bukan karena batu akiknya, melainkan karena keindahannya. "Allah indah dan mencintai keindahan," kata Nabi. Dan setiap keindahan akan menyenangkan orang lain yang melihatnya, juga yang memakainya.

Dengan demikian, pemakainya mendapat pahala karena, menyenangkan orang lain dan diri sendiri, bukan karena batu akik. Cobalah memakai batu akik yang yang terbuat dari batu kerikil dan jangan dibentuk atau diikat, sehingga tidak sedikitpun memiliki nilai keindahan dan hanya membuat orang lain ketakutan bila memandangnya. Pasti yang didapat dosa, bukan pahala.

Tetapi jelas dalam hadist bahwa Nabi menganjurkan? Benar. Tidak ada yang salah dengan hadist itu, walaupun tingkat kebenaran hadist itu hanya dugaan atau perkiraan. Dalam bahasa hukum islam dikenal dengan istilah zhanniy. Karena hadist itu hanya diriwayatkan oleh sedikit orang. Sehingga tidak ada satupun ahli hukum yang memastikan bahwa, itu dari Nabi saw.

Dan, saya tidak mempermasalahkan hadistnya. Karena, yang perlu dipahami oleh umat islam adalah peran dan fungsi Nabi saw. ketika membicarakan batu akik tersebut. Menurut saya sangat jelas, ketika itu Nabi adalah sebagai manusia biasa, seperti juga anggota masyarakat yang lain. Nabi memerlukan perhiasan untuk melengkapi penampilannya di ruang publik.

Nabi, seperti juga manusia yang lain, termasuk kita, membutuhkan simbol budaya sebagai media atau sarana berkomunikasi dengan yang lain. Batu akik sebagai simbol, juga merupakan media untuk berkomunikasi dengan manusia lain. Makna di sebalik simbol batu akik, berpulang kepada tingkat kepercayaan pemakai dan yang melihat.

Dalam banyak peradaban, batu permata berfungsi sebagai simbol kekayaan, keperkasaan dan kekuasaan. Tingkat kepercayaan diri dan orang lain terhadap makna yang ada pada batu akik, akan diukur dari kwalitas batu tersebut. Dan kwalitas batu sangat berpengaruh terhadap harga yang harus dibayarkan untuk mendapatkannya.

Semakin mahal harga batu akik, maka akan semakin tinggi tingkat kepercayaan diri pemakainya, dan juga kepercayaan orang lain terhadap pemakainya. Kepercayaan yang dimaksud adalah pengakuan atas kekayaan, keperkasaan dan kekuasaan.

Semua makna yang dilekatkan pada batu akik adalah mitos. Kepercayaan yang begitu masif terhadap mitos, menjadikan ia sebuah ideologi bagi masyarakat penggunanya. Karena batu akik adalah dunia laki-laki, maka ideologi yang terbentuk adalah patriakhi, dunia yang laki-laki. Perempuan dianggap masyarakat kelas kedua. Begitulah konsep Ideologi Roland Barthes. Menurutnya, ideologi terbentuk melalui tiga tahapan, yaitu: Konotasi -> Mitos -> Ideologi.

Terus terang. Saya tidak tertarik menyeret batu akik menjadi persoalan agama. Dan selama ini, tidak ada pelajaran agama membicarakan batu akik. Biarlah batu akik menjadi dirinya sendiri, sebagai produk budaya dan peradaban umat manusia. Yang memiliki hobi dan uang untuk membelinya, silahkan memakainya untuk perhiasan. Sedangkan yang tidak hobi atau tidak punya uang untuk membeli, jangan berkecil hati, karena itu bukan sunnah Nabi yang disyari'atkan. Tidak ada kaitan sedikitpun batu akik dengan agama islam.

Itu saja. Allahu A'lam.

Masdarudin Ahmad
loading...

0 komentar