Valentine's Day



Sejak beberapa tahun yang lalu, sampailah sekarang,
selalu ada yang bertanya: Apa hukumnya memperingati Valentine's Day, pada tanggal 14 Februari?
Jujur. Saya tidak pernah tahu persis, apa itu Valentine's Day. Yang saya tahu, tanggal 14 Februari adalah hari special buat kami. Saya dan isteri akan tetap mengingati. Karena itulah hari pernikahan kami. Hari pertama kali saling memberi. Meskipun tidak hanya di tanggal ini, kami berdua saling mengingati. Namun tanggal 14 Februari, tetap memiliki cita rasa yang berbeda. Karena ada peristiwa yang tidak mungkin dilupa, sekali dan untuk selamanya.

Hari ini, anak-anak sudah menginjak remaja, juga bertanya tentang hal yang sama. Maka, kepada mereka, saya menjawab dengan memberi pertanyaan juga. "Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan adalah ciri orang cerdas," kata si Yahudi, Eran Kazt. Saya hanya sekedar meniru orang cerdas, semoga anak saya juga begitu.

Beginilah jawaban saya:
"Seandainya pada tanggal 14 Februari, teman-teman berpakaian serba pink, berkumpul di tepi pantai. Tidak lupa pula membawa coklat untuk berbagi dengan teman-teman. Kemudian mereka berdiskusi tentang Yaumul Marhamah (hari kasih sayang). Yaitu, hari ketika Nabi Muhammad menaklukkan kota Mekah. Boleh 'kah?"

Anak saya yang sudah remaja hanya tersenyum mendengar jawaban saya, yang membalik kepada diri sendiri, dalam bentuk tanya. Kemudian saya melanjutkan jawaban dalam bentuk tanya lain, yang bersifat perbandingan.

"Seandainya juga, pada malam jum'at di bulan Ramadlan, teman-teman berpakaian serba putih, pergi ke mesjid, dan membawa bon bon untuk berbagi dengan seorang teman. Ia berhenti di sudut mesjid yang sepi. Kemudian keduanya berkencan di sana, boleh 'kah?
Setelah diberi pertanyaan pembanding, seketika itu juga ia menjawab dengan penuh keyakinan dan percaya diri. "Yang pertama boleh, sedang yang kedua dilarang."

"Mengapa begitu?"
"Kelompok yang pertama melakukan sesuatu yang baik, walaupun bertempat di pantai dan pada hari Valentine. Sedangkan kelompok kedua, melakukan sesuatu yang salah meskipun di mesjid dan pada hari jum'at bulan ramadlan." Jawabnya dengan membuat kesimpulan yang cerdas, sesuai dengan yang saya harapkan.

"Begitulah, semestinya berfikir dan menyimpulkan. Hari, warna, atau benda apapun, hanyalah simbol atau penanda dari suatu peristiwa. Bisa juga di simbol itu terselip nilai dan norma," saya memberi sedikit penjelasan yang mungkin tidak dapat dipahaminya.

Tetapi setidaknya dia sudah mendengar. Seiring waktu berjalan, akan dipahami sendiri maksudnya, nanti. Untuk sekarang biarlah dia berfikir dengan caranya, asal tidak menghakimi yang berbeda atau menyalahkan yang tidak disukai. Tidak mengapa. Itu sudah cukup.
"Ya. Saya ingat. Kemarin di pelajaran Sosiologi dan Antropologi, ada diterangkan tentang simbol dan nilai budaya. Tetapi sudah lupa," ia merespon penjelasan dengan menghubungkan kepada ingatan akan pelajaran tentang budaya di sekolah, di SMU.

"Kalau hanya dengan mendengar orang bisa senantiasa ingat, maka tidak ada orang bodoh di muka bumi ini," saya menimpali. Kemudian saya minta untuk membaca kembali materi budaya dalam pelajaran Sosiologi dan Antropologi.

"Simbol itu ibarat casing atau hardware dalam komputer. Sedangkan nilai dan norma adalah program atau software yang ada di dalamnya," kataku menjelaskan, agar tidak membuatnya lebih bingung.
"Berarti sesuatu yang dapat diindra: dilihat, didengar dan disentuh, termasuk simbol," katanya, mulai paham.
"Kalau nilai dan norma?" Kulanjutkan bertanya.
"Yang nonfisik, seperti program windows," jawabnya, ternyata ia paham.

"Yang penting dan menentukan itu program, bukan casing." Saya menjelaskan sebagai tambahan.
"Program bisa ditukar ganti, walaupun casingnya sama. Laptop kamu, dulu menggunakan windows 2000, sekarang sudah ditukar dengan program MacOS."

Diskusi ringan dengan anak pun berakhir. Saya menyuruhnya membaca kembali buku-buku tentang teori budaya. Tidak pun tidak mengapa, karena pelajaran Sosiologi dan Antropologi sudah membahas tentang itu. Untuk anak seumur dia, dapat memahami teori budaya yang sangat dasar seperti itu, sudah bagus. Sudah lebih dari cukup.

Setelah dia beredar, saya berfikir: orang-orang dewasa saja masih banyak yang belum mampu membedakan antara nilai budaya dan simbol budaya. Padahal dalam ilmu budaya, sistem simbol itu masih dibagi lagi menjadi artifact (karya, benda) dan sosialfact (aktifitas, perbuatan). Begitupun dengan nilai dan norma masih bisa dibagi lagi. Begitulah kenyataannya.

Umat Islam hari ini, lebih cenderung membicarakan simbol, bukan nilai. Simbolpun direduksi, menjadi sebatas benda fisik. Seperti banyak orang yang mendiskusikan tentang Valentine's Day. Mereka mendiskusikan tentang 14 Februari, warna pink dan coklat. Kemudian dibumbui sosialfact, yaitu perilaku bebas mengungkapkan kasih sayang dengan sex.
Padahal, yang disebut terakhir, tetap dilarang dalam budaya dan peradaban manapun. Sex bebas, kapan dan dimanapun tetap berdosa.

Tidak bisa dinafikan memang, sex bebas memiliki kaitan dengan Valentine's Day. Tetapi lebih banyak yang melakukannya di luar hari Valentine, karena hari Valentine hanya sehari dalam setahun. Tetapi kebebasan mengekspresikan sex berlangsung setiap saat. Setidaknya begitulah yang terbaca dalam berita.
Di sisi lain, signifikansi pengharaman Valentine's Day dengan perayaan yang tetap berlangsung, tidak berkorelasi. Artinya, difatwa haram sekalipun, orang-orang muslim tetap merayakannya juga. Lembaga keagamaan kalah dengan kekuatan bisnis dan media. Bahkan agama sendiri sudah dijadikan komoditas bisnis oleh media.

Saya teringat delapan tahun yang lalu, pejabat di negeri ini marah, karena pernyataan saya di sebuah koran lokal. Saya dianggap mendukung perayaan Valentine's Day. Sahabat yang membaca tulisan saya juga akan menilai hal yang sama, mungkin.
Atas tuduhan dan penilaian, karena didasari ketidakpahaman terhadap saya, atau mungkin ada hal lain, bagi saya itu biasa. Sudah sering, soalnya.
Saya ingin, masyarakat muslim dapat menyikapi fenomena apapun dengan cerdas, termasuk Valentine's Day ini. Tidak ada gunanya kita menghabiskan energi dengan mewacanakan fatwa haram dan mensosialisasikan fatwa itu.

Tanpa ada fatwa, semua juga tahu bahwa, sex bebas adalah perilaku terlarang dalam agama. Tetapi kenyataannya aktifitas sex bebas jalan terus. Bahkan tidak menunggu hari valentine.
Sikap cerdas yang saya inginkan adalah mengadopsi simbolnya dengan cara merusak nilai yang ada di dalamnya. Di puing-puing kehancuran nilai lama, kita isi dan bentuk nilai-nilai baru yang islami, yang selaras dengan adat istiadat dan budaya kita. Dengan kreatifitas yang demikian, Valentine's Day menjadi lebih bermakna dan berdampak positip bagi masyarakat, khususnya remaja.

Umpamanya, setiap tanggal 14 Februari, kita mengadakan pesta budaya yang meriah. Biarkan mereka memakai pakaian seba pink dan mengunyah coklat, tetapi aktifitas yang berlangsung tetap positif. Banyak aktifitas dapat diselenggarakan: Festifal membaca syair, bermain kompang, fashion show, main zapin, memasak sempolit, berdiskusi dan masih banyak lagi.

Aktifitas paling sederhana dan pernah saya lakukan, untuk mengisi malam hari valentine dengan adik-adik remaja adalah membaca yassin dan dilanjutkan dengan diskusi. Pernah juga main kompang di rumah salah seorang warga. Bisa dan mudah.

Mengisi hari valentine dengan aktifitas itulah yang jauh lebih penting, agar adik-adik remaja tidak terbawa arus yang merugikan diri sendiri. Bukan hanya disibukkan menghakimi hari tu dengan fatwa haram. Tetapi ruang waktu remaja kita dibiarkan kosong, sehingga mereka melakukan aktifitas seperti yang dilihat, didengar dan dibaca di media.

Lembaga pendidikan dapat memainkan peran yang signifikan. Siswa dan mahasiswa dapat dikondisikan untuk melakukan kegiatan yang bermanfaat dan bermartabat. Adik dan anak remaja kita membutuhkan ruang untuk beraktifitas mengembangkan diri. Tetapi dia masih rentan dan tidak mampu menentukan sendiri. Kita lah, orang dewasa yang harus mengarahkan dengan menciptakan ruang itu.

Yuk.
Selamat hari kasih sayang dari saya untuk yang tercinta dan untuk semua...


Masdarudin Ahmad

loading...

0 komentar