Kisah Pak Aseng








Pak Aseng beragama Kong Hu Cu, agama leluhur Cina yang baru diakui negara pada zaman presiden Gus Dur. Saya sangat senang dengan keinginannya masuk Islam. Karena, Nabi saw. telah menjanjikan surga untuk yang mengislamkan. Dayung sudah di tangan, perahu sudah di air, begitulah gambaran suasana hati waktu itu. Hanya tinggal bersyahadat, sampailah ke tujuan.

Saya tidak sabar untuk segera mensyahadatkan. "Kalau memang jodoh, datang sendiri, tidak perlu bersusah-susah mencari," gumam hatiku, sambil tersenyum, sendiri. Seandainya di ruangan itu ada cermin, mungkin saya langsung menghadap cermin, meloncat dan beringkrak-jingkrak.
Tetapi, harapan tinggal harapan. Kenyataan tidak terwujud. Aseng menarik tangannya ketika tanganku terhulur untuk berjabatan tangan mensyahadatkan.

"Belum sekarang, pak," elaknya. Saya sangat kecewa. Hati pun hancur bercampur malu. Bagai kaca terhempas ke batu, berkecai.
Saya segera tersadar, ternyata keinginannya masuk Islam tidak sepenuh hati. Kesedihan saya yang seketika itu, disambut Aseng dengan tangisan, terisak. Saya berbalik jadi serba salah dan merasa berdosa, telah memaksa orang Cina menjadi muslim. Pasti Allah juga marah, karena Dia telah mengingatkan bahwa, "tidak ada paksaan dalam beragama". "Bagimu agamamu dan bagiku agamaku".

"Ya Allah, saya salah. Sekarang saya sadar bahwa, hanya kesadaran individual, tanpa paksaan yang dibenarkan konversi, pindah agama. Ampunkanlah saya, ya Allah," bisikku dari dalam lubuk hati yang paling dalam, berharap Tuhan memaafkan. Saat itu, Tuhan kurasakan ada di sana, di lubuk hati.

Aseng, Cina yang berpakaian compang camping, dan berambut kusut masai itu, kubiarkan menikmati tangisannya. Semoga tangisan itu mengurangi beban perasaan. Itulah yang saya harapkan. Karena menangis itu sulit, tidak semudah tertawa. Sampai-sampai Nabi menyuruh umatnya agar pura-pura menangis, tabakki. Dan tinjauan psikologi juga membuktikan, bahwa menangis bisa melunakkan hati yang keras, melembutkan sikap yang kasar dan menjadikan manusia lebih tawdlu', merendahkan diri di hadapan manusia, juga Allah.

Saya ikut terhipnotis dengan tangisannya, air mata tidak terbendung, meleleh ke pipi. Agar tidak semakin larut, kuambil tisu dan kusesap air mataku. Lalu kutinggalkan ruangan, untuk menenteramkan suasana hatiku sendiri. Aseng yang hanya beralaskan kaki, sandal jepit beda warna itu, kubiarkan sendiri.

Ruangan kerja itu, lebih pantas disebut gudang. Saya hanya sendirian di ruangan. Sebenarnya ada tempat yang lebih baik, hanya saja, akhir-akhir ini, saya lebih senang sendirian, menghindar dari segala hiruk pikuk dan kebisingan. Saya nyaman bekerja di gudang itu. Dan di tempat itulah, Cina tua yang sudah berusia kira-kira 70 tahun itu menangis.

Setelah suara isak tangis tidak terdengar lagi, saya masuk kembali, dan mencoba untuk meneteralkan keadaan.
"Ma'af, jika pak Aseng tersinggung atas sikap saya. Saya bersalah. Sesungguhnya, Islam tidak boleh memaksa. Bahkan Islam berkewajiban melindungi agama dan kepercayaan siapapun. Dalam kondisi perang sekalipun, orang Islam wajib memberi perlindungan kepada agama dan kepercayaan orang lain, tanpa terkecuali. Dalam teori hukum Islam, menjaga agama adalah prinsip pertama dari lima prinsip yang tidak boleh diabaikan, termasuk agama pak Aseng," kataku menjelaskan agak panjang, untuk menutupi kesalahan diri sendiri, yang terkesan memaksa sebelumnya.

"Saya orang susah, Pak. Mahu makan juga susah. Sekarang saya sakit dan sedang berobat di Puskesmas. Sambil menunggu giliran, saya jalan ke sini, jumpa Bapak," kata Aseng, memberi alasan untuk saya mengerti: penderitaan.

Sayapun berfikir, mencarikan jalan keluar, agar Cina tua yang sudah tidak berdaya di hadapan saya sekarang, bisa hidup layak: cukup pangan, sandang, papan, dan jika sedang sakit dapat berobat gratis.
"Kami orang Cina tidak dapat beras dan uang dari pemerintah. Syarat untuk mendapatkan, harus beragama Islam," katanya melanjutkan, di saat saya sedang berfikir untuk mencari jalan, agar dia bisa dibantu.
Keluhannya segera saya tanggapi: "Dalam ajaran Islam, tidak benar seperti itu." Dan saya informasikan juga, bahwa Nabi Muhammad saw. dan isterinya, Sufiyah, memberikan sebagian hartanya kepada saudara-saudarnya yang beragama Yahudi. Bahkan pemberian itu mencapai 3000 (tiga ribu) dirham.
Aseng mengangguk, isyarat bahwa dia memahami. Dan tetap diam. Saya pun memberi pemahaman lebih lanjut.

"Khalifah ke-2, Umar bin Khattab juga membagikan dana zakat kepada non muslim. Dalam kitab futuhul buldan dijelaskan, ketika Umar melewati Kota Jabiyah di Syam, yang dihuni oleh orang-orang Nasrani, dia memerintahkan untuk memberikan Zakat/Shadaqah," kataku dengan suara ditekan, agar dia mendengar dan mengerti, serta tidak menyalahkan Islam.

Seketika itu juga, saya teringat Badan Amil Zakat Daerah (BAZDA) yang bersebelahan kantor. Saya harus melaporkan ke sana dan meyakinkan pengurusnya, agar memberi bantuan. Sebagai alat bukti, saya akan ambil gambarnya.

Langsung saya ambil dan keluarkan hp kamera, yang juga sudah tua dari kantong celana. Di luar perkiraan, Aseng segera meninggalkan ruangan dengan tergesa-gesa, ketika melihat saya mengambil kamera, dan berlari menjauh, meninggalkan ruangan. Saya memanggilnya, tetap saja dia tidak mahu berpaling lagi, ketakutan.

Saya sangat menyesal, tidak bisa memberi pertolongan dengan cara saya. Menyesal, tidak dapat mengurangi penderitaan Cina miskin yang sudah sangat tua, yang menangis, karena tekanan ekonomi, dan bersedih, karena didiskriminasi.
==============

Aseng tidak sendirian. Ahok yang di Sebauk, Bengkalis juga mengalami nasib serupa. Dan masih banyak Aseng-Aseng yang lain, di tempat berbeda dan Ahok-ahok yang berbeda, di tempat yang lain.
Perlakuan diskriminatif terhadap yang lain, yang berbeda agama adalah fenomena ekonomi, sosial dan politik yang jamak di negeri ini. Saya menceritakan Aseng, karena ia bertempat tinggal di tengah kota, ibukota kabupaten dengan APBD terbesar di Indonesia. Dengan harapan bisa menjadi cermin besar untuk kita semua, untuk bijak dalam berbagi dan mahu mengerti hati.



Masdarudin Ahmad 

loading...

0 komentar