Kenduri Arwah



Sekitar tiga bulan yang lalu, saya didatangi seorang laki-laki muda setelah sholat subuh di Mushalla.
Saya lihat raut wajahnya seperti dalam keadaan sedih dan risau. Saya berusaha menyapanya dan bertanya,”apo kabo wak?, ado yang bisa sayo bantu?.” Dengan suara rendah dan sedikit parau, laki-laki muda itu merespon,”begini wak, dalam tiga malam terakhir ini, sayo berturut-turut bermimpi ketemu dengan al-marhum bapak sayo.

Sayo lihat bapak sayo sepertinya dalam keadaan sedih dan meneteskan air mato sambil memanggil-manggil namo sayo. Keadaan inilah wak yang membuat sayo “tak tentu arah” dalam duo tigo hari ini. apo yang harus sayo lakukan wak?!” Waktu dulu tinggal di Meranti dengan Mak-Bapak, sayo ini termasuk “budak yang degil” tak mau mendengo cakap orang tuo. Bapak sayo dulu selalu menyuruh sayo sembahyang nak dan mengaji nak, tapi sayo tak ambik peduli, sayo asyik sajo bermain-main.

Meskipun mimpi laki-laki muda itu barangkali belum bisa dikategorikan sebagai Rukyat al-Shodieq, tapi Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Ruhnya menukilkan beberapa riwayat yang menjelaskan bahwa ruh orang tua yang sudah meninggal dunia bisa bertemu dengan anaknya dalam keadaan bermimpi sewaktu tidur.
Ketika itu, saya berusaha menenangkan laki-laki muda itu dan menyarankannya agar berangkat ke Meranti untuk menziarahi kubur Bapaknya dan berdoa untuknya. Karena doa anak sebagaimana dinyatakan dalam satu hadit riwayat Muslim sangat bermanfaat bagi orang tuanya yang sudah meninggal dunia.

Selanjutnya saya menyarankan kepadanya untuk menyelenggarakan Kenduri Arwah seadanya, mengundang kerabat dekat, jiran dan tetangga datang ke rumahnya untuk bersedekah makanan dan membacakan tahlil dan doa untuk dihadiahkan kepada al-Marhum Bapaknya.

Pahala sedekah, membaca istighfar dan al-Quran yang dihadiahkan kepada orang yang sudah meninggal dunia insyallah sampai kepadanya dan dapat diambil manfaat olehnya. Demikian pendapat ulama-ulama salaf. Bahkan Ibn Taimiyah sendiri menyatakan dalam kitab Yasaluunaka fid din wal hayat bahwa sesungguhnya mayyit itu dapat beroleh manfaat dengan bacaan al-Quran sebagaimana dia beroleh manfaat dengan ibadah-ibadah kebendaan seperti sedekah dan yang seumpamanya.
Ibn Qayyim al-Jauziyah dalam kitab al-Ruhnya bahwa sesungguhnya sesuatu yang paling utama dihadiahkan kepada mayyit adalah sedekah, istighfar, berdoa dan berhaji atas nama dia. Adapun membaca al-Quran dan menghadiahkan pahalanya kepada si mayyit dengan sukarela tanpa imbalan, maka akan sampai kepadanya sebagaimana pahala puasa dan haji juga sampai kepadanya.

Laki-laki Muda itu rupanya mengikuti saran saya untuk pulang ke Meranti dan menziarahi kubur Bapaknya serta seminggu berikutnya ia menyelenggarakan kenduri arwah seadanya dan mengundang saya ke rumahnya.

Dua hari berikutnya, saya bertanya kepadanya, apakah ia masih bermimpi ketemu Bapaknya lagi. Ia menjawab,”alhamdulillah wak tak ado mimpi lagi do.”

Mendoakan orang yang sudah meninggal dunia (terutama sekali kedua orang tua) dan berziarah ke kuburnya termasuk adab (etika) yang dianjurkan dalam Islam. Q.S. Surat al-Hasyr ayat 10 menyatakan,”dan orang-orang yang datang sesudah mereka berkata,” wahai Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan iman. (maksudnya orang-orang beriman yang telah meninggal dunia).

Bahkan dalam Hadits riwayat Abu Daud dari Utsman bin Affan dikemukakan,” Nabi Muhammad, apabila telah selesai menguburkan mayyit, maka beliau berdiri di atas perkuburan dan berkata,”mintalah ampunan untuk saudaramu dan mohonlah kepada Allah agar dia diberikan kemantapan karena sesungguhnya dia sekarang ini sedang ditanya. Wallah A’lam

Amrizal Isa
loading...

0 komentar