Kajian Islam, Patung




Dua hari yang lalu, ada diskusi di mesjid di kampung seberang.
Saya diundang untuk untuk menjadi nara sumber dalam kegiatan diskusi dadakan itu.
Dikatakan dadakan, karena bukan kegiatan rutin, melainkan hanya ketika ada persoalan yang sedang berkembang dan menjadi perdebatan. Sehingga dianggap perlu untuk dicarikan solusi.

Diskusi itu, mengundang nara sumber yang juga dadakan, dengan waktu yang juga mendadak. Mengapa mengundang saya, dan dengan mendadak pula, tidak menjadi pertimbangan buat saya. Saya juga tidak perlu menanyakan, meskipun saya yakin yang bersangkutan sudah mempersiapkan jawaban andaikan hal itu ditanyakan.

Hanya sebelumnya, saya katakan kepada pengurus yang memberitahu via telepone bahwa, mungkin kehadiran saya tidak perlu, karena untuk menanggapi persoalan itu, bisa saya lakukan via telepon atau media lainnya. "Bahkan, bapak bisa menyampaikan pendapat saya kepada jama'ah yang menginginkan," kata saya ketika menanggapi tema yang akan didiskusikan malam, ketika sore sebelum malamnya ia menelepon.
Tetapi pengurus itu tetap mendesak, "seluruh jama'ah tetap mengharapkan kehadiran Bapak. Mereka baru puas apabila Bapak sendiri yang hadir dan memberi penjelasan," begitulah kata pengurus mesjid, yang disampaikan lewat teleponnya kepadaku secara langsung.

"Karena waktunya sangat mendadak, dua jam cuma, menjelang maghrib. Maka, saya tidak bisa membuat makalah untuk pengantar diskusi," jawabku sore itu, yang harus sampai malam hari setelah maghrib.
Meskipun undangan setelah maghrib, tetapi tidak mungkin saya tidak sembahyang maghrib di mesjid itu. Artinya, memang tidak ada waktu, selain langsung bersiap untuk berangkat. Membaca buku untuk memperkaya materi dan menambah wawasan juga tidak sempat.

Tanpa banyak pikir lagi, bersiap-siap dan langsung pergi, berangkat menggunakan roro. Sesampainya di mesjid yang dimaksud, tepat masuk waktu maghrib dan azan sedang berkumandang. Saya langsung menunaikan sembahyang maghrib berjamaah, dilanjutkan wirid yang juga berjama'ah.
Selesai wirid, sebagian melaksanakan sembahyang sunnat ba'diyah magrib secara perseorangan. Begitulah cara beribadah masyarakat Melayu di situ, sama persis dengan kebiasaan di kampungku sendiri.
Diskusi segera dibuka oleh pengurus yang mengundang, sekaligus dia menjadi moderator. Seperti biasa, moderator memperkenalkan nara sumber malam itu secara sepintas. Tetapi ada yang sangat berkesan dari yang sepintas itu.

"Beliau inilah yang tulisan-tulisannya setiap hari dibagikan kepada Bapak-bapak dan ibu-ibu," kata pengurus itu. Tanpa sepengetahuanku, tulisanku di facebook diprint out oleh pengurus dan dibagikan ke jama'ahnya.
Saya tidak terlalu terkejut, karena sebelumnya sudah ada yang melakukan itu dengan memberitahu terlebih dahulu, tetapi untuk kepentingan yang berbeda. Ada yang dibagikan ke murid untuk bahan bacaan dan ada yang untuk diberikan lagi kepada saya. Tetapi, karena satu dan lain hal, sampai sekarang belum sampai ke saya. Sahabat saya, pak Priono Arya dari Duri, salah satu yang melakukan itu.

"Baiklah. Saya berterima kasih atas semuanya. Saya mengupdate tulisan di facebook dengan tujuan agar orang lain ikut membaca. Berarti tujuan saya menulis sudah menjadi kenyataan, karena bapak dan Ibu serta saudara/i mahu membacanya." Kataku sebagai bentuk ketulusan rasa syukur yang dianjurkan atas sedikit ilmu yang dipunyai. Semoga bertambah dengan cara memberikannya kepada siapapun yang mahu menerima dengan cara membaca.

Ilmu memang beda dengan harta. Ilmu akan bertambah, jika diberikan. Sedangkan harta, akan berkurang. Begitulah perbedaan ilmu dan harta, yang pernah saya baca. Adapun perbedaan yang lainnya, menurut Ali bin Abi Thalib adalah: Ilmu adalah warisan para Nabi, sedangkan harta warisan si Qorun. Ilmu akan menjagamu, sedangkan harta haruslah kau yang menjaganya. Pemilik ilmu punya banyak teman, sedangkan pemilik harta punya banyak musuh. Ilmu takkan pernah tercuri, sedangkan harta mudah dicuri. Pemilik ilmu akan selalu disebut mulia dan terhormat, sedangkan pemilik harta akan disebut pelit dan rakus.

Ilmu itu abadi, sedangkan harta akan musnah. Ilmu akan menyinari hati, sedangkan harta akan mengeraskan hati. Pemilik ilmu akan diberi syafa’at di akhirat, sedangkan pemilik harta akan dihisab. Pemilik ilmu akan dimuliakan walaupun sedikit ilmunya, sedangkan pemilik harta disebut besar setelah banyak hartanya.
Moderator mengarahkan diskusi untuk menanggapi persoalan patung dalam islam. Gambar tiga dimensi yang berfungsi menjadi ikon bagi sebuah peradaban itu menghangat didiskusikan oleh jama'ah mesjid, karena terkait monumen Jayandaru di alun-alun Sidoarjo, Jawa Timur, yang diprotes sejumlah ormas Islam.
Saya memberi pengantar tentang ikon bagi peradaban. Saya katakan: "Tanda berbentuk fisik bagi sebuah kelompok manusia, seperti bangsa, agama atau suku, adalah bagian yang tidak terpisah dari peradaban umat manusia. Beragam tanda berbentuk fisik, dari yang berwujud mahluk hidup hingga bangunan suci, telah melengkapi sejarah peradaban manusia, sejak sangat lama, sampailah ke hari ini. Ikon sebagai simbol eksistensi manusia, juga sudah melintasi ruang seluruh peradaban manusia."

"Kita fokus saja menurut islam, pak," sela moderator setengah berbisik, mengingatkan. Dan sebenarnya, saya juga akan fokus ke persoalan hukum islam menurut pendapatku. Mungkin, moderator khawatir kalau-kalau saya akan berbicara dari sudut pandang ilmu budaya, yang saya sendiri tidak mampu untuk memberikan penafsirannya.

"Dalam Islam, ada bangunan suci Ka'bah dan al Hajar al Aswad. keduanya adalah wujud fisik yang spesifik bagi peradaban islam, yang sampai sekarang dipertahankan. Bahkan akan selamanya dipertahankan, selagi islam masih ada," kataku menanggapi keinginan moderator.

Kemudian saya lanjutkan, "Dalam agama kristen yang menjadikan ikon adalah patung Yesus Kristus dan Bunda Maria. Agama yahudi memiliki ikon Tembok ratapan. Begitu juga dengan agama hindu dan budha yang memiliki bermacam patung. Singkat kata, tanda fisik yang khusus atau ikon itu dibutuhkan dalam kehidupan umat beragama. Begitu juga bagi sebuah bangsa dan satu daerah. Semua membutuhkan tanda keberadaannya, dengan suatu tujuan tertentu." Kata saya menutup pengantar diskusi malam itu.

Moderator mengambil alih dengan langsung memberikan waktu kepada jama'ah untuk menyampaikan semua 'uneg-uneg' yang ada di dalam hati dan pikiran. Sebagai moderator, pengurus mesjid itu tidak memberi komentar terhadap pengantar yang saya sampaikan, juga tidak mengarahkan jama'ah kepada persoalan tertentu. Berbeda dengan kebiasaan moderator, yang suka mengulas, menanggapi dan mengarahkan.
Banyak jama'ah tunjuk tangan, tanda siap menyampaikan ung-uneg. Saya terkejut juga dengan respon jamaah mesjid yang tidak seperti biasanya. Moderator terpaksa memilih yang dikehendaki dengan pertimbangannya sendiri dan menyisihkan yang lain.

Saya tidak perlu menanyakan kepada moderator atas dasar pertimbangan apa memilih hanya tiga saja terlebih dahulu. Mengapa tidak semuanya saja? Atau mengapa memilih yang tiga itu, dan bukan tiga yang lain? Dalam soal mengatur lalu lintas diskusi, itu menjadi hak prerogatif mederator. Saya memahami.
Dari tiga penanya pertama yang dipersilahkan, dua tanggapan pertama menyatakan tidak setuju dengan apapun ikon berbentuk fisik, khususnya ikon yang menggunakan bentuk makhluk bernyawa. Sedangkan satu, yang terakhir, tidak berpendapat. Hanya sekedar mengulas pendapat dua orang yang terdahulu dan kemudian menanyakan hukumnya dalam islam.

Saya memahami dan dapat menyimpulkan apa yang sedang mereka pikirkan, juga yang sedang dipikirkan mayoritas jama'ah mesjid itu. Atau, mungkin juga mewakili sebagian besar umat islam. Tetapi menurutku, bukan sebagian besar, melainkan hanya sebagian kecil umat islam yang berteriak keras. Sehingga seolah-olah mewakili sebagian besar umat, padahal sebenarnya tidak.

Menurut dua orang yang pertama, keduanya menyampaikan bahwa, patung itu sama dengan berhala. Patung yang berbentuk mahluk hidup harus dihancurkan. Bahkan gambar mahluk hidup juga diharamkan, karena merusak aqidah umat islam. Banyak dalil dari alQuran dan Hadist Nabi Muhammad dikemukakan sebagai sumber dan dasar hukum bagi pendapatnya. Keduanya menginginkan, agar semua ikon yang berbentuk mahluk hidup diharamkan pembuatannya dan apabila sudah dibuat, maka harus dihancurkan. "Hukum menghancurkannya wajib bagi umat islam." Kata salah seorang dari keduanya ketika mengakhiri tanggapan.
"Nabi Muhammad diutus untuk menghilangkan kemusyrikan. Simbol kemusyrikan itu adalah berhala yang disembah menggantikan Tuhan, atau untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Juga menyaingi Tuhan ataupun sebatas untuk menjadi perantara menuju Tuhan." Kata salah seorang yang lain pula, dengan bersemangat mengakhiri uneg-unegnya. Saya, dengan serius mendengarkan semua yang disampaikan dan mencatatnya yang perlu. Para jamaah juga sangat serius mendengarkan.

Setelah uneg-uneg dari ketiganya disampaikan, tibalah giliran saya, sebagai nara sumber tunggal, harus memberikan tanggapan balik dan menjawab pertanyaan yang dimintakan oleh penanggap ketiga.
Saya tidak langsung memberi jawaban, melainkan sedikit berputar untuk sampai ke persoalan. Di antaranya yang saya sampaikan di forum itu adalah bahwa, "dalam islam, hukum amaliyah praktis, selain ibadah, tidak berlaku mutlak dan tetap. Perubahan hukum adalah sesuatu yang niscaya.

Kemahuan untuk berubah itulah yang diperlukan, sekaligus menjadikan hukum islam akan abadi sepanjang zaman dan di semua tempat. "Kata Ibnu Qoyyim, tidak mungkin diingkari bahwa, ada perubahan dalam hukum, karena perubahan waktu dan tempat,"" kata saya dengan menggunakan bahasa Arab sebagaimana kalimat aslinya dalam kitab I'lamul Muwaqiin, karangan Ibnu Qoyyim alJauziy. Beliau adalah murid Ibnu Taymiyah dari mazhab Hambali.

Selanjutnya saya katakan bahwa, "semua yang disampaikan oleh penanggap pertama dan kedua, adalah benar. Nabi telah melarang keras patung dan gambar makhluk hidup pada zaman Nabi dan di tempat tinggalnya, Mekah dan Madinah. Keputusan Nabi sudah sangat tepat. Dan seperti itulah yang harus dilakukan Nabi di saat dan tempat itu. Tetapi kita jangan melupakan latar belakang atau sebab turunnya ayat dan Hadist Nabi tentang patung dan gambar makhluk hidup.
Semua mengetahui, di buku sejarah juga tertulis dengan jelas tentang kehidupan beragama masyarakat Arab ketika sebelum islam dan di awal islam. Bayangkan! Ketika Fathu Makkah, di sekitar ka'bah ada 360 buah patung, atau sering disebut berhala. Setiap kelompok dan suku, bahkan keluarga dan individu memiliki berhala. Seperti dituliskan oleh imam Qurtubi dalam kitab tafsirnya: “Sesungguhnya orang jahiliyyah adalah mereka yang membuat berhala-berhala, bahkan sebagian dari mereka membuat berhalanya dari roti. Kemudian ketika ia lapar, maka berhala itu dimakannya.

Kondisi sosial dan budaya masyarakat Arab ketika itu, serta adat istiadat mereka sangat mempengaruhi produk hukum praktis yang dibuat Nabi saw. Kehidupan serba berhala yang massif dan mendarah daging, direspon secara langsung oleh ayat alQuran dan Hadist dengan cara melarangnya, mengharamkannya dan menvonisnya, sebagai bentuk kezhaliman dan kekafiran, serta kemusyrikan yang nyata. Cara yang dilakukan Nabi sangat tepat, yakni menghancurkan yang ada dan memang perlu, serta melarang agar budaya berhala tidak terulang lagi setelah islam diterima.

Yang penting dari semua itu, dan yang umat islam harus ketahui, adalah latar belakang atau sebab musababnya, sehingga Nabi melakukan dan mengucapkan itu. Dengan kata lain kita harus melihat prosesnya dari awal, bukan hanya bentuk perilaku dan perkataan Nabi yang merupakan produk akhir dari sebuah proses.

Karena Muhammad saw. diutus untuk sebuah misi perubahan peradaban. Untuk melakukan perubahan besar, atau revolusi peradaban, dari jahiliyah ke islam, maka semua yang menjadi sebab kejahiliahan itu harus dihancurkan. "Simbol jahiliyah itu adalah patung atau berhala," kataku memberi penekanan.
"Bukan sebatas simbol, melainkan sudah menjadi bagian yang tidak terpisah dari adat istiadat dan budaya yang bersifat ritual atau peribadatan," kata salah seorang jama'ah menambahkan. Dan saya berterima kasih atas tambahan yang membuat saya lebih terbimbing untuk menyimpulkan. Jamaah lain tentunya juga menjadi lebih memahami yang saya maksudkan dan yang akan saya katakan, berikutnya.

"Begitulah kondisi masyarakat Arab ketika itu. Patung disembah, setidaknya menjadi bagian ritual yang tidak terpisah dalam sesembahan keagamaan mereka. Apabila masyarakat islam atau sebagian umat islam, masih melakukan hal yang sama seperti orang Arab di zaman Nabi, maka haram hukumnya dan dilarang membuatnya. Dan jika ada yang melakukan pemujaan pada patung atau apapun, sudah seharusnya dihancurkan, agar tidak lagi dipuja. Setidaknya dijaga ketat tempat itu, agar tidak dijadikan tempat atau media pemujaan, karena jelas syirik hukumnya," saya berhenti sejenak setelah dengan bersemangat memberi penjelasan.

"Sepertinya tidak ada ustazd. Fungsi patung sekarang hanya untuk dinikmati sebagai barang seni atau monument yang menjadi kebanggaan bersama untuk menanamkan rasa persatuan dan kebersamaan, atau dijadikan media menanamkan semangat, untuk sebuah harapan yang dicita-citakan bersama oleh semua." Komentar spontan dari salah seorang jama'ah, tanpa diminta. Komentar itu mengisi jeda waktu yang sejenak, ketika saya diam menatap jama'ah.

"Jika memang bukan untuk media peribadatan, seperti disebutkan itu, masihkah patung dilarang dan diharamkan?"

"Tidak," jawab sebagian jama'ah. Sementara sebagian yang lain masih diam. Saya tidak tahu persis mengapa sebagian diam. Mungkin masih belum paham atau ragu untuk menjawab, atau tetap akan menolak, karena tidak sejalan dengan bunyi teks atau nash alQuran dan Hasist yang dipaparkan oleh penangap pertama dan kedua.

Jawaban jama'ah yang hanya sebagian, membuat saya bertambah semangat menjelaskan dan melanjutkan dengan dalil dari alQuran, yang bertolak belakang dengan ayat alQuran dan Hadist Nabi yang sudah banyak disebutkan oleh penanggap pertama dan kedua sebelumnya.

"Dalam alQuran ada disebutkan bahwa, Nabi Sulaiman as. juga meminta para jin membuatkan patung. Begini bunyi sebagian terjemahannya: "Para jin itu membuat untuk Sulaiman, apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan ... Lihat alQuran 34:13).
Dan, Nabi Isa as. juga membuat patung berbentuk burung, kemudian ditiup, lalu hidup. Ini sebagian terjemah ayat itu: "Dan (sebagai) Rasul kepada Bani Israil (yang berkata kepada mereka): "Sesungguhnya aku telah datang kepadamu dengan membawa sesuatu tanda (mukjizat) dari Tuhanmu, yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah berbentuk burung; kemudian aku meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah; ... Lihat alQuran 34:13.

Jika membuat patung dengan tujuan untuk selain ibadah...," saya terdiam, karena suara semua jama'ah sudah melanjutkan.

"Boleh", "tidak dilarang", "lebih baik", dan berbagai jawaban lain yang substansinya sama: tidak dilarang. "Ya. Seperti untuk tujuan pendidikan. Semua sekolah sudah menyediakan alat peraga berbentuk patung. Beberapa waktu yang lalu, ketika pelatihan penyelenggaraan jenazah di sebuah mesjid, yang dijadikan alat peraga juga patung berbentuk manusia." Kata saya mengakhiri tanggapan dengan penjelasan.
Kemudian, waktu sepenuhnya saya serahkan kembali kepada moderator. Dan moderator menanyakan kepada jamaah.

Alhamdulillah, semua jama'ah sepakat untuk tidak lagi menyampaikan keraguan dan pertanyaan. Hanya ada satu orang yang menyarankan kepada pengurus mesjid yang juga moderator, agar saya dihadirkan lagi di waktu yang lain untuk mendiskusikan persoalan yang lain pula.
Sebagai penutup diskusi malam itu, saya mengucapkan, "terima kasih dan insya Allah, jika Tuhan mengizinkan, saya akan datang lagi,"

Tidak berapa lama setelah diskusi berakhir, tiba waktu sembahyang isya'. Saya sembahyang berjamaah di mesjid itu. Seorang pengurus yang sudah agak tua meminta kesediaan saya menjadi imam, tetapi dengan cara halus saya tidak bersedia. "Masyarakat setempat dan khususnya jama'ah tetap yang paling berilmu, yang lebih berhak menjadi imam," kataku sambil mengutip intsari hadist tentang yang lebih berhak menjadi imam.
Selesai sembahyang sunnat rawatib ba'da isya', saya pun pulang dengan hati yang senang. Dalam perjalanan pulang, saya terbayang wajah pak Priyono Arya, orang pertama yang memberitahu bahwa, dia sudah mengumpulkan tulisan di facebook saya, dan sudah diprint out, hanya terlambat dicopy oleh tukang fotocopy, sehingga belum sempat diberikan ke saya.

Pak priyono Arya ternyata tidak sendiri, tetapi dia lebih saya ingat, karena yang pertama melakukan dan mengatakan kepada saya. "Begitu penting artinya menjadi yang pertama," kataku membatin dan tersenyum sendiri.

Masdarudin Ahmad
loading...

0 komentar