Nasehat Ulama kepada penguasa





Kesombongan adalah awal dari kehancuran. 
Mungkin kalimat ini sudah tidak asing 
terdengar di telinga kita.

Ada sebuah kisah tentang seorang ulama 
yang menasehati penguasa yang bernama 
Hisham bin Abdul Malik Dia adalah 
salah seorang gubernur Dinasti Bani Umayah 
yang berpusat di Damaskus. 

Beliau sering mengadakan perjalanan 
ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. 
Suatu ketika beliau meminta agar bisa 
dipertemukan dengan salah seorang 
dari sahabat Nabi yang masih hidup. 

Namun sayang, mereka semua sudah wafat. 
Sebagai gantinya beliau minta dipertemukan 
dengan salah seorang dari generasi tabi’in saja, 
generasi pasca sahabat.

Thawus Al-Yamani datang mewakili para tabi’in . 
Dia tanggalkan alas kakinya persis 
ketika akan menginjak permadani merah 
yang terbentang megah di hadapan Hisham. 
Dia nyelonong ke dalam tanpa mengucapkan 
salam takzim kepada sang Khalifah yang tengah duduk. 

Dia hanya mengucapkan salam biasa, 
assalamu alaika…., dan langsung duduk 
di sampingnya. Kemudian Thawus bertanya, 
“Bagaimana keadaanmu hai Hisham?” 
tanpa menggunakan kata-kata penghormatan sedikit pun.

Melihat tingkah laku Thawus seperti itu, 
Hisham merasa sangat tersinggung. 
Dia marah bukan kepalang, 
hampir hampir Al-Yamani dibunuhnya.

“Anda berada dalam wilayah tanah suci 
Allah dan tanah suci Rasul-Nya 
( Haramullah dan haramurasulihi ). 
Karenanya, demi tempat yang mulia ini 
Anda tidak diperkenankan melakukan 
perbuatan buruk seperti itu,” kata Thawus menasihati.

“Lalu, apa maksud Anda melakukan semua ini?” 
tanya Hisham kepada Thawus.

“Apa yang telah saya lakukan?” tanya Thawus.

Dengan nada marah, Hisham berkata keras, 
“Anda tanggalkan alas kaki persis di hadapan 
karpet merahku. Anda masuk tanpa mengucapkan
salam takzim kepadaku sebagai khalifah 
dan tidak mencium tanganku.

 Anda memanggilku hanya dengan nama kecil 
tanpa gelar dan kunyah-ku; dan Anda duduk 
di sampingku tanpa seizinku. 
Bukanka semua itu penghinaan?”



“Wahai Hisham! Kutanggalkan alas kakiku karena aku juga menanggalkannya lima kali sehari saat aku menghadap Tuhanku, Allah Azza wa Jalla’ . Dia tidak marah apalagi murka padaku lantaran itu.

Aku tidak cium tanganmu lantaran kudengar Ali berkata bahwa seseorang tidak boleh mencium tangan orang lain kecuali tangan istrinya karena syahwat atau tangan anaknya karena kasih-sayang.

Aku tidak ucapkan salam takzim dan menyebutmu dengan kata-kata “Wahai Amirul mukminin..” (Pemimpin orang-orang mukmin) lantaran tidak semua orang rela akan kepemimpinanmu; karenanya aku enggan untuk berbohong.

Aku tidak memanggilmu dengan sebutan gelar kebesaran (kunyah) dan lantaran Allah memanggil para kekasih-Nya (para nabi) di dalam Alquran dengan sebutan nama semata-mata, seperti Ya Daud, Ya Yahya, Ya ‘Isa; dan memanggil musuh-musuh-Nya dengan sebutan kunyah, seperti Abu Jahal….(bapak kebodohan).

Aku duduk persis di sampingmu lantaran kudengar Ali ra. berkata: `Apabila Anda ingin melihat calon penghuni neraka, lihatlah orang yang duduk sementara orang sekitarnya tegak berdiri.”‘

Hisham kemudian berkata, 

“Wahai Thawus, nasihati Aku.”

Kudengar Ali berkata dalam sebuah nasihatnya: 
Sungguh, dalam api neraka ada ular-ular
yang berbisa dan kalajengking raksasa 
yang menyengat setiap pemimpin 
yang tidak adil terhadap rakyatnya.”

Smoga Cerita singkat ini bisa kita ambil hikmahnya. 
Yang terpenting mari sama-sama kita 
hilangkan kesombongan dalam diri kita ini, 
siapa pun kita jangan pernah sedikitpun 
mengharap pujian serta penghormatan 
dari orang lain agar kita bisa berjalan 
dimuka bumi ini dengan penuh katawadhuan..



Kang Robby
loading...

0 komentar