Mendung di Akhir Ramadhan


Bulan Ramadhan setahap demi setahap telah berada di penghujung waktu. Entah kapan lagi kita bisa bersua dengan bulan yang mulia ini. Tahun depankah? Kita tidak dapat memprediksinya. Toh, kita adalah hamba-Nya yang sangat “dha’if”.

Adakalanya kita selalu berusaha untuk mencapai target, tujuan yang hendak dicapai. Namun usaha kita itu selalu ditutupi oleh tabir yang sulit ditembus. Maka, kekuatan iman, ikhtiar disertai doa pasti akan memuluskan itu semua.
Mendung di Akhir Ramadhan
Mendung di Akhir Ramadhan

Mata tak lagi tidur, sekujur badan menggigil, hati selalu bebolak balik, serta jiwa kita dan raga ini senantiasa khawatir, akankah kesempatan bersua itu akan kembali. Ya Allah... Engkau yang Maha Mengetahui dan Menyaksikan setiap tekad dan niat hamba-Mu.

Dua belas bulan yang terhampar, hanya satu bulan yang sangat-sangat istimewa, ladang barokah, kucuran bonus istimewa yang selalu terpampang. Apakah kita telah mendapatkan bonus istimewa tersebut? Pada awal datangnya, kita senantiasa bersuka cita. Mempersiapkan semua tetek bengeknya. Melayangkan maaf ke semua kolega, sahabat dan keluarga agar mendapat kemudahan dan suci kembali sehingga khusyu dalam beribadah. Satu hari, dua hari, kelemahan-kelemahan itu semakin berkurang, berganti dengan kekuatan iman. Tetap konsisten mengikuti program-program ramadhan yang telah direncanakan. Memasuki sepuluh pertengahannya, tetap konsistenkah kita? Atau malah asyik browsing internet, menonton program televisi di rumah, kumpul-kumpul dengan kolega di kafe, menebar gosip dengan tetangga, atau lainnya, hal-hal yang non manfaat sehingga mengurangi kualitas ibadah kita.

Saudaraku, ramadhan tahun ini akan berakhir. Kejarlah manfaat, ambillah penghargaan Tuhanmu. Puasa menjadikan kita manusia yang PROF. Malas yang timbul dihapus dengan kekuatan iman yang terprogram. Tidur yang berkurang sehingga ngantuk di kantor, ditegur atasan, asbabnya taqorruban ilaih, itu semua ada hikmahya akan diganti dengan kemuliaannya. Tidak pernah baca al Quran pada bulan-bulan yang lalu, atau tidak bisa membaca. Maka, dengan kerajinan yang konsisten membaca al Quran di bulan ini akan memperbaiki kualitas bacaan kita setahap demi setahap. Toh, tiga puluh hari pelatihan yang disediakan oleh-Nya, masak tidak menambah wawasan ilmu tilawatil qur’an kita, minimal makhrajnya, atau tajwidnya, dsb.

Awan di atas sana gelap pekat seakan mendung akan turunnya derasan hujan. Itukah rahmat-Nya, atau tangis sebagian besar hamba-Nya menyaksikan fakta saudaranya yang lain mulai kendur.

Barisan shaff di masjid, mushalla, surau, langgar mulai berkurang. Jamaahnya mulai terhitung. Bisa jadi, pada pulang kampung (mudik) jamaahnya prasangka baiknya. Atau sibuk mempersiapkan lebaran, mencari pernak-pernik, baju baru, atau jalan-jalan ke mall, sehingga menghabiskan waktu dan khilaf ketinggalan jamaah. Boleh saja kita refreshing dengan jalan-jalan. Toh, jalan-jalan di bulan yang mulia ini juga merupakan ibadah. Tapi, ada batasannya. Bukankah Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas dan berlebih-lebihan?

Saudaraku yang budiman.

Marilah kita perbaharui niat awal kita yang semakin kendur. Tidak ada kata terlambat, minus satu atau dua hari lagi lebaran. Toh, Allah tidak melihat itu semua. Namun, Dia hanya melihat niat yang ada di hati hamba-Nya. Kembali, kembali dan kembali ke niat awal kita, sehingga Allah SWT senang dan mau membuka pintu-pintu-Nya demi kita. Bukankah ganjaran pahala orang puasa hanya milik-Nya? Karena Dia-lah Allah yang Maha Mengetahui semuanya. Pengakuan kepada orangtua, guru, sahabat, kolega, mertua, dll, kita sedang berpuasa. “Gengsilah, saya khan dah tua, saya khan bapak/ibu guru...” atau lainnya. Tapi, tidak ada satu pun hamba yang tahu, tatkala kita berwudhu dengan sengaja memasukkan tetesan air ke rongga tenggorokan kita. Dia-lah Allah Tuhan yang Maha Tahu semuanya.

Semoga dengan kesadaran kita, dengan senantiasa memperbaharui niat. Kita diampunkan oleh-Nya atas kelalaian kita sebelumnya. Amin. Wallahu A’lam
loading...