Saatnya Meninggalkan Rokok Pada Bulan Suci Ramadhan

Bahaya Rokok
Saatnya Meninggalkan Rokok Pada Bulan Suci Ramadhan
Apakah ROKOK termasuk pembatal puasa? Silakan simak nasehat yang amat bagus bagi para perokok dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah, ulama abad ke-20 dari Unaizah, Saudi Arabia. Di dalam nasehat ini, kita akan menemukan bahwa di antara waktu yang tepat meninggalkan rokok adalah di bulan Ramadhan sekarang ini. Semoga Allah memberi taufik-Nya kepada kita semua.

Sungguh tidak akan berani bermunafik... Sahabat Akhbar Islam, penulis juga merupakan seorang perokok candu yang sudah sekian lama bermain dengan ROKOK. Tak hayal, jika rokok tersebut sangat sulit untuk ditinggalkan.  Efek negatif yang jelas didepan mata, adalah dalam segi kesehatan dan keuangan. Jika sobat tahu, berapa banyak uang yang sudah disisihkan untuk membeli ROKOK yang tentunya akan lebih bermanfaat lagi jika digunakan untuk membeli makan dan sadaqah. Tapi penulis sendiri yakin dan menyadari, meninggalkan rokok tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Maka meninggalkan ROKOK pada bulan suci Ramadhan adalah waktu yang tepat menurut penulis.

Saatnya Meninggalkan Rokok Pada Bulan Suci Ramadhan


Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin rahimahullah Ta’ala pernah ditanyakan: Sebagian orang yang berpuasa yang gemar merokok meyakini bahwa mengisap rokok di bulan Ramadhan bukanlah pembatal puasa karena rokok bukan termasuk makan dan minum. Bagaimana pendapat Syaikh yang mulia tentang masalah ini?

Beliau rahimahullah menjawab:

Menurutku, ini adalah pernyataan yang tidak ada usulnya sama sekali. Bahkan sebenarnya rokok termasuk minum (syariba). (Dalam bahasa Arab) mengisap rokok disebut syariba ad dukhon. Jadi mengisap rokok disebut dengan minum (syariba).

Kemudian juga, asap rokok – tanpa diragukan lagi - masuk hingga dalam perut atau dalam tubuh. Dan segala sesuatu yang masuk dalam perut dan dalam tubuh termasuk pembatal puasa, baik yang masuk adalah sesuatu yang bermanfaat atau yang mendatangkan bahaya. Misalnya seseorang menelan manik-manik, besi atau selainnya (dengan sengaja), maka puasanya batal. Oleh karena itu, tidak disyaratkan sebagai pembatal puasa adalah memakan atau meminum sesuatu yang bermanfaat. Segala sesuatu yang masuk ke dalam tubuh dianggap sebagai makanan dan minuman. Mereka meyakini bahkan mengenal bahwa mengisap rokok itu disebut (dalam bahasa Arab) syariba (yang artinya = minum), namun mereka tidak menyatakan bahwa rokok adalah pembatal puasa. Sama saja kita katakan bahwa ini jumlahnya satu, namun dia menganggap mustahil ini jumlahnya satu. Jadi, orang ini ada kesombongan dalam dirinya.
Saatnya Meninggalkan Rokok Pada Bulan Suci Ramadhan
Kemudian berkaitan dengan bulan Ramadhan, ini adalah waktu yang tepat bagi orang yang memiliki tekad yang kuat untuk meninggalkan rokok yang jelek dan bisa mendatangkan bahaya. Waktu ini adalah kesempatan yang baik untuk meninggalkan ROKOK karena sepanjang siang seseorang harus menahan diri dari hal tersebut. Sedangkan di malam hari, dia bisa menghibur diri dengan hal-hal yang mubah seperti makan, minum, jalan-jalan ke masjid atau berkunjung ke majelis orang sholih. Untuk meninggalkan kebiasaan merokok, seseorang juga hendaknya menjauhkan diri dari para pecandu rokok yang bisa mempengaruhi dia untuk merokok lagi.

Apabila seorang pecandu rokok setelah sebulan penuh meninggalkan rokoknya (karena moment puasa yang dia lalui), ini bisa menjadi penolong terbesar baginya untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya, dia bisa meninggalkan rokok tersebut di sisa umurnya. Bulan Ramadhan inilah kesempatan yang baik. Waktu ini janganlah sampai dilewatkan oleh pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokoknya selamanya.

Sebernarnya, rokok memiliki efek negatif yang lebih banyak dibandingkan dengan manfaat yang didapatkan dari rokok. Cuman sekiranya mungkin susah untuk meninggalkan rokok itu sendiri. Beberapa peneliti memberikan hasil penelitian mereka tentang ROKOK dalam bentuk survey sebagai berikut:
  1. Tidak peduli berapa banyak tingkat pendapatan, perokok memiliki skor rendah pada tes kesehatan emosional dibandingkan non-perokok.
  2. Perokok lebih merasa stres setiap hari dibandingkan dengan mereka yang tidak merokok. Sekitar 50 persen perokok merasa tertekan sementara hanya 37 non-perokok yang merasakannya.
  3. Perokok lebih mungkin didiagnosis depresi klinis dibandingkan non-perokok, yaitu 26 persen vs 15 persen.

Dikutip dari Majmu’ Fatawa wa Rosa’il Ibnu ‘Utsaimin, Bab Ash Shiyam, 17/148 (Asy Syamilah)

- Semoga Allah memberikan taufik kepada pecandu rokok untuk meninggalkan kebiasaan rokok selamanya setelah dia berpuasa sebulan penuh di bulan Ramadhan, Amin Ya Mujibas Sa’ilin -

- Dan semoga dengan adanya bulan suci RAMADHAN ini, kita selaku perokok mampu Meninggalkan ROKOK pada bulan ini dan lebih lagi pada bulan selanjutnya karena ROKOK adalah musuh kita. 
loading...

0 komentar