Taqwa Menegakkan Dzikir-Nya


"Tetapi sebenarnya bukan mata itu yang buta,
tetapi yang buta adalah hati yang ada didalam dada.”
--  QS. Al-Hajj/22: 46 –

Pengertian Taqwa

 Taqwa Menegakkan Dzikir-Nya
Taqwa Menegakkan Dzikir-Nya
Kata taqwa, diambil dari akar kata waqaya, yang berarti menjaga, memelihara, melindungi, menyelamatkan, dan lain-lain; merupakan mashdar dari ittaqaa, yang diartikan sebagai “sikap hidup atau sikap mental seseorang yang selalu berhati-hati dalam setiap tindakannya, terus menerus menjaga sikap dan tingkah lakunya dalam setiap kondisi.” Terdapat juga yang mengartikan taqwa sebagai “takut” kepada (siksa) Allah, dengan harapan agar seseorang mau mentaati segala perintah Allah.

Allah SWT. berpesan kepada kita, agar berbekal taqwa, karena sebaiik-baik bekal adalah TAQWA (QS. Al-Baqarah/2: 197). Dengan bekal taqwa, kita akan terpelihara, terlindungi, terselamatkan, dan terjaga sikap dan perilaku dari perbuatan yang tidak baik, selama proses menjalani dinamika kehidupan yang beraneka ragam ini.

Allah SWT. juga berpesan: “Hai,orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa dan janganlah kamu mati, kecuali dalam keadaan berserah diri,” (Q\S. Ali imran/3: 102)

Dalam kitab Mifthahus Shudur karya Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin disebutkan, bahwa seorang disebut sebenar-benar taqwa apabila memiliki tiga karakter berikut, yaitu: 1) selalu patuh dan taat kepada Allah, dan tidak mengkhianati atau mengingkari-Nya; 2) selalu bersyukur atas nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya, dan tidak mengkufurinya; dan 3) selalu mengingat-Nya (zikir kepada Allah), dan tidak melupakan atau melalaikan ingat kepada-Nya. Karakteristik ini akan dijelaskan lebih lanjut di dalam pembahasan berikut.

Karakter Orang Sebenar Taqwa

  1. Selalu patuh dan taat kepada Allah, dan tidak mengkhianati atau mengingkari-Nya.

Karakter pertama orang sebenar taqwa ialah mentaati segala perintah Allah dan Rasul-Nya dan tidak akan menghianatinya. Perintah ini termaktub di dalam al-Qur’an:


Hai,orang-orang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul dan ‘Ulil Amri
(pemegang kekuasaan) diantara kamu. Jika kamu berselisih faham tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasulnya. Jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian.Yang demikian itu lebih utama dan lebih baik akibatnya,” (QS. Al-Nisa/4: 59).

Secara individual, ketaqwaan dapat melahirkan pribadi-pribadi yang patuh dan taat pada aturan agama; dan secara sosial-politik, ketaqwaan dapat menimbulkan sikap taat pada aturan pemerintah. Bentuk ketaatan yang pertama (individual), dengan melakukan berbagai ibadah yang telah digariskan oleh-Nya; sedang bentuk ketaatan yang kedua (sosial-politik), seperti ketaatan dalam membayar pajak, berpartisipasi aktif dalam pembangunan kemasyarakatan, seperti ekonomi dan pendidikan. Namun demikian, ketaatan kepada negara (pemerintah) ini didasarkan pada ketaatan pada aturan-aturan yang diberlakukan-Nya dalam bidang sosial-politik. Kesadaran seperti ini, dapat melahirkan generasi madani yang berkesadaran dan berkepedulian.

Taqwa Menegakkan Dzikir-Nya


Pada aspek hukum formal, terutama yang berkaitan dengan bidang sosial-politik yang tersebut di atas, tidak dipungkiri muncul permasalahan-permasalah khilafiyah. Permasalahan khilafiyah ini, bilapun terjadi, harus dikembali kepada asalnya, yaitu al-Qur’an dan Sunnah; baik itu melalui pemahaman langsung terhadap teks (nash) ataupun melalui penalaran (al-ra’y), dengan cara melakukan kegiatan-kegiatan ijtihadiyah, baik itu melalui analogi pribadi ataupun ijmak kolektif.

2. Selalu bersyukur atas nikmat dan anugerah yang diberikan-Nya, dan tidak mengkufurinya.

Karakter kedua orang sebenar taqwa itu ialah pandai mensyukuri nikmat Allah. Begitu besar anugerah yang telah Allah berikan kepada kita, baik nikmat itu bersifat lahiriah-material: kesehatan fisik, terlebih yang bersifat batiniah-spiritual: iman, islam, dan ihsan. Sangatlah wajar bila kita memiliki karakter yang satu ini. namun demikian, di samping merupakan suatu keharusan, Allah juga akan menambah-nambah nikmat-nikmat yang telah kita syukuri. Ini merupakan pertanda betapa luas rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita.

Berkenaan dengan syukur ini, Allah SWT. berfirman: “Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih," (QS. Ibrahim/14: 7).

3. Selalu mengingat-Nya (zikir kepada Allah), dan tidak melupakan atau melalaikan ingat kepada-Nya.

Karakter orang sebenar taqwa yang terakhir adalah selalu mengingat-Nya; selalu berzikir kepada Allah SWT.. Zikir kepada Allah, bila dihubungkan dengan akhirat, dapat menenangkan hati, sehingga kehidupan menjadi tentram dan sejahtera (Lih. QS. Al-Ra’d/13: 28); namun bila dihubungkan dengan akhirat, zikir itu dapat menyampaikan seorang hamba kepada-Nya (Lih. QS. Al-Maidah/5: 35).

Dzikir: Amalan Orang Sebenar Taqwa

Telah dijelaskan di muka, bahwa mengingat Allah (dzikir) merupakan karakter orang sebenar taqwa.  Jadi dapat disebutkan, antara taqwa dan dzikir ini tidak dapat dipisahkan: bila ingin mencapai taqwa yang sesungguhnya, maka harus dzikir, dan bila mendawamkan dzikir, maka otomatis taqwa diperoleh (Lih. QS. Al-Baqarah/2: 63). Hal ini semakin dipertegas, bahwa kalimat dzikir terbaik dan paling utama adalah kalimat taqwa itu sendiri, yaitu kalimat “La ilaha illa Allah”.

Di dalam tradisi para sufi, dzikir dilakukan sesuai dengan makna bahasa dzikir itu sendiri, yaitu menyebut dan mengingat. Dari sini muncullah amalan-amalan dzikir yang harus dilafalkan dengan lisan (dzikir jahr), dan ada pula yang diingatkan di dalam hati (dzikir khafi atau qalbi)., kedua bentuk dzikir tadi memiliki manfaat yang besar bagi kecerdasaan dan kedewasaan batiniah seseorang. Karena itu, orang yang ahli dzikir selalu berada dalam kondisi jiwa: 1) tidak merasakan takut, dan 2) selalu merasakan senang.

Adapun orang yang tidak menerima keberadaan dzikir, atau lalai dari ingatannya kepada Allah, jiwanya akan terbelenggu dan pikirannya menjadi sempit.

Allah SWT. berfirman: “Siapa yang berpaling dari mengingat-Ku, maka ia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya dalam keadaan buta”. Mereka bertanya: “Ya,Tuhanku, mengapa Engkau kumpulkan aku dalam keadaan buta? Padahal dulu aku melihat?”  Allah berfirman : “Demikianlah dahulu telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, dan kamu mengabaikannya, maka pada hari ini kamu diabaikan”. (QS.Thaha/20: 124-126).

Bahkan, orang yang berpaling dari dzikir, syetan akan menjadi teman yang menyertainya. Bila syetan telah menjadi teman yang selalu menyertai, maka pengaruhnya pastilah dominan dan selalu diikuti, dan bisa saja berakhir sebagai penyembah syetan. Allah SWT. berfirman: “Barangsiapa yang berpaling dari mengingat Al-Rahman (Allah), Kami adakan baginya syaithan (yang menyesatkan) maka syaithan itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.” (QS. Al-Zukhruf/43: 36).

Kenapa terdapat seorang hamba berpaling dari mengingat-Nya, padahal mengingat-Nya untuk merupakan kewajibannya, bukti rasa syukurnya, menunjukkan kelemahannya di hadapan Sang Khaliq. Hal demikian itu disebabkan butanya mata hati yang terdapat di dalam dada: “Tetapi sebenarnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta adalah hati yang ada didalam dada”.(QS. Al-Hajj/22: 46).

Sebab-sebab yang membutakan mata hati itu, berdasarkan penjelasan Syaikh Abdul Qodir al-Jailani, disebabkan oleh kebodohannya mengenai hakikat kebenaran, ketidak-fahamannya terhadap terhadap hakikat perintah Allah. Kebutaan ini sangatlah berbahaya bagi batiniahnya. Buta mata hati dapat melahirkan perilaku zalim yang tidak disadari, seperti takabur, iri dengki, kikir, ujub, gibah, fitnah, dusta dan sifat-sifat tercela lainnya, yang menggiring si buta pada derajat paling rendah dan hina (asfala safilin).

Kerendahan, kehinaan, kebodohan mengenai hakikat kebenaran: semua orang tidak menginginkannya; kesombongan, kedengkian, kekikiran, keujuban: semua orang tidak mengakuinya dan menyadarinya. Tetapi, ternyata, kita sudah melakukannya. Bila demikianlah permasalahan kita, maka dzikir adalah satu-satunya jalan untuk mengenali hal-hal tersebut tadi. Semua itu merupakan pertanda adanya penyakit hati di dalam diri kita.

Rasulullah SAW. bersabda:
Segala sesuatu ada alat pembersihnya, alat pembersih hati (yang kotor) adalah dzikir kepada Allah,” (Lih. Miftah al-Shudur).

Bila demikian halnya, maka dzikir itu merupakan kebutuhan kita. Kita bisa mendapatkan kebersihan jiwa, bila kita mau. Bicara taqwa, tetapi tanpa diikuti dengan dzikir, maka taqwa hanya bersifat wacana. Taqwa itu ialah mendawamkan dzikir kepada Allah SWT.. Semoga.***
loading...

2 komentar