ISLAM IS THE WAY OF LIFE

Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillah, washshalaatu wassalaamu ala rasulillah, wa’ala aalihi wa-sahbihi wamawwalah.. amma Ba’du..

Pada suatu ketika, Pak Guru bertanya kepada kami tentang apa yang menjadi hal terpenting dalam hidup kita. Murid-murid pun menjawab dengan jawaban yang beraneka ragam, ada yang menjawab, “Kekayaan Pak..!! Karena dengan kekayaan, kita bisa memiliki apa saja yang kita mau.” Ada yang menjawab, “Ijazah kuliah Pak..!! Dengan ijazah, kita bisa mendapat pekerjaan dan menjadi kaya.” Dan jawaban paling lugu adalah, “ Istri Pak..!!” serempak seisi kelas terbahak. “lho, kok ketawa?? Karena ingin mendapatkan istri, seseorang harus mendapatkan ijazah dan kerja agar menjadi kaya. Kalau gak kaya, siapa yang mau??” Makin heboh kelas dibuat kawan yang satu ini. Makin banyak yang menjawab, makin aneh jawabanya, tentunya menurut persepsi masing-masing.
Bak Imam Al-Ghazali, Pak Guru pun akhirnya menjelaskan, “semua jawaban kalian benar, tapi satu hal yang paling penting diantara yang terpenting adalah hidayah.” Kelas yang tadinya nyengir, mulai serius, bingung, “kok bisa hidayah sih? Apa hubungannya?” Pak Guru pun melanjutkan, “Ketika seseorang melakukan perjalanan kesuatu tempat, apa hal yang terpenting baginya? Tentunya petunjuk arah agar dia tidak tersesat.  Begitu juga dengan kehidupan manusia didunia ini. Kehidupan ini bagai perjalanan, perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, dari alam dunia yang fana ke alam akhirat yang baqa’. Nah, agar tidak tersesat, maka diperlukan petunjuk arah jalan yang benar, yaitu hidayah yang bersumber dari Al-Qur’an dan As-Sunnah, agar tidak tersesat di dunia maka sampailah kita ke surganya Allah dengan selamat.”

Tanpa kita sadari, ternyata Allah Yang Maha Tahu telah memerintahkan kita supaya meminta hal yang penting tersebut darinya. Sangking pentingnya, tidak tanggung-tanggung, Allah perintahkan kita meminta kepada-Nya minimal 17 kali sehari semalam.  Ya, shalat. Dalam shalat, bukankah bacaan Surat Al-Fatihah merupakan rukun shalat? Mari kita tela’ah lebih lanjut isi Ummul Kitab ini.

Dalam sebuah Hadis Qudsi, yang diriwayatkan oleh Abu Dawud bahwasanya Rasulullah SAW pernah bersabda:

رَسُولُ اللَّهِ e يَقُولُ « قَالَ اللَّهُ تَعَالَى قَسَمْتُ الصَّلاَةَ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى نِصْفَيْنِ فَنِصْفُهَا لِى وَنِصْفُهَا لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ ». قَالَ رَسُولُ اللَّهِ e « اقْرَءُوا يَقُولُ الْعَبْدُ (الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ) يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ حَمِدَنِى عَبْدِى، يَقُولُ الْعَبْدُ ( الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ) يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ أَثْنَى عَلَىَّ عَبْدِى، يَقُولُ الْعَبْدُ (مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ) يَقُولُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ مَجَّدَنِى عَبْدِى، يَقُولُ الْعَبْدُ (إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ) يَقُولُ اللَّهُ وَهَذِهِ بَيْنِى وَبَيْنَ عَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ، يَقُولُ الْعَبْدُ (اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ) يَقُولُ اللَّهُ فَهَؤُلاَءِ لِعَبْدِى وَلِعَبْدِى مَا سَأَلَ »

Abu Hurairah r.a. berkata: “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: ‘Allah berfirman, ‘Aku membagi shalat antara Aku dengan hamba-Ku, dan hambaku mendapatkan sesuatu yang dia minta. Apabila seorang hamba berkata, ‘Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam.’ Maka Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Yang Maha pengasih lagi Maha Penyayang.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiKu.’ Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Pemilik hari kiamat.’ Allah berkata, ‘HambaKu memujiku. Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Hanya kepada-Mulah aku menyembah dan hanya kepada-Mulah aku memohon pertolongan.’ Allah berkata, ‘Ini adalah antara Aku dengan hamba-Ku. Dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta’. Apabila hamba tersebut mengucapkan, ‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.’ Allah berkata, “Ini untuk hamba-Ku, dan hamba-Ku mendapatkan sesuatu yang dia minta.”

Setelah kita amati, ternyata Surat Al-Fatihah terdiri dari dua hal yang penting, pujian kepada Sang Pencipta dan permintaan seorang hamba kepada Tuhannya, yaitu hidayah.

﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ﴾

‘Berilah kami petunjuk jalan yang lurus, yaitu jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat atas mereka, bukan jalan orang-orang yang Engkau murkai dan bukan pula orang-orang yang sesat.’

Dengan penunjuk jalan, maka seseorang dapat sampai tujuan dengan selamat. Dengan hidayah pula, manusia dapat hidup dengan aman sentosa, sejahtera, keadilan yang terjamin dan penuh maghfirah dari Tuhannya. 

Firman Allah SWT dalam Surat Al-Baqarah:

﴿فإما يأتينكم مني هدى فمن تبع هداي فلا خوف عليهم ولا هم يحزنون﴾


“Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, Maka barang siapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati".(Q.S. Al- Baqarah: 38)


Bagi mereka yang mengikuti petunjuk dari Allah, tidak perlu khawatir, tidak perlu takut dan bersedih hati, karena jaminan kehidupan yang bahagia dan sejahtera telah Allah jamin baik itu di dunia maupun di akhirat.

Gambaran kehidupan diatas, bukannya tidak mungkin terjadi, tapi sangat – sangat mungkin terjadi, mengingat kehidupan seperti ini pernah exist dan terjadi didunia ini, bukan di alam mimpi. Khususnya dizaman kehidupan Rasulullah SAW dan khulafa’urrasyidin, dimana keadilan ditegakkan, kesejahteraan merata, kehidupan terjamin tanpa terror, serta seluruh maqashid syari’ah tercapai tanpa batas. Apa rahasianya? Tidak lain dan tidak bukan, adalah Al-Islam rahasianya. Islam is the way of life.

Persatuan dan berpegang teguh pada agama Allah merupakan kunci kesuksesan umat Islam.

﴿واعتصموا بحبل الله جميعا ولا تفرقوا﴾


Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai. (Q.S. Ali ‘Imran: 103)


Hal ini terbukti tidak hanya pada masa Rasulullah SAW dan khulafa’urrasyidin, tetapi juga pada masa khilafah-khilafah setelahnya. Dimana persatuan umat Islam sangat solid, Islam menyebar secara pesat bahkan mencapai sepertiga dunia, keamanan yang terjamin, kesejahteraan yang merata, perkembangan ilmu-ilmu Islam yang mencapai puncaknya, penemuan-penemuan ‘ilmiyah yang menjadi patokan dunia, baik dari segi perbintangan, kedokteran, kimia, matematika, dan lain sebagainya, semua adalah bukti keampuhan Islam menjamin kehidupan umatnya yang sejahtera dan bermartabat baik di dunia maupun di akhirat.

Tidak seperti sekarang dimana hukum Allah diabaikan, sehingga turunlah bencana atas umat. Penjajahan terhadap umat Islam, pembunuhan, pemerkosaan, nyawa tiada harga sebagaimana yang terjadi di Negara-negara Arab, tiada jaminan kehidupan yang aman. Sedangkan di negara umat Islam yang lain, terjadi korupsi, kemiskinan, pencurian, perzinaan, pengguguran janin, pembuangan bayi, dan lain sebagainya yang merupakan akibat dari tidak berlakunya hukum Allah secara kaffah.

Begitulah urgensinya hidayah dan hukum yang Allah turunkan ini. Penegakannya dapat membuahkan kesejahteraan dan kemaslahatan yang besar bagi umat dan dunia, sedangkan pengabaiannya mengakibatkan kerusakan dan kemudharatan yang besar bagi umat islam dan begitu pun dunia, karena sesungguhnya Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam bukan hanya bagi muslimin.


Oleh karena itu, untuk mencapai kemajuan dan kemaslahatan kembali baik untuk umat Islam maupun dunia, tidak ada cara lain selain menerapkan syari’at Islam secara kaffah sebagaimana yang telah diterapkan pada khilafah-khilafah Islam sebelumnya. Mudah-mudahan bermanfaat, akhir kata, semoga Allah mencurahkan hidayahnya kepada kita agar kita dapat menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan baik di dunia maupun di akhirat, tentu saja dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Wallahu a’lamu bishshawaab.

Keyword: ISLAM IS THE WAY OF LIFE
loading...

0 komentar